Prancis Tahan Hampir 1.000 Orang dalam Demonstrasi Lanjutan

Newswire
Newswire Minggu, 25 Oktober 2026 12:57 WIB
Prancis Tahan Hampir 1.000 Orang dalam Demonstrasi Lanjutan

Aksi unjuk rasa di Prancis yang berakhir dengan kericuhan./Anadolu\r\n\r\n

Harianjogja.com, PARIS—Sekitar 1.000 orang ditahan dalam demonstrasi lanjutan menentang kenaikan biaya hidup di berbagai wilayah Prancis pada Sabtu (24/10/2026). Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan jumlah penahanan tersebut masih bersifat sementara dan diperkirakan meningkat.

Data resmi menunjukkan lebih dari 400.000 orang mengikuti demonstrasi yang berlangsung di berbagai daerah. Aksi tersebut merupakan bagian dari gelombang protes yang telah berlangsung sejak pertengahan September lalu.

"Sejauh ini, hampir 1.000 orang telah ditangkap," kata Nunez kepada wartawan.

Nunez menambahkan angka penahanan itu masih dapat bertambah secara signifikan seiring perkembangan penanganan demonstrasi.

Dia juga menyampaikan perkembangan penahanan dalam aksi sebelumnya pada Sabtu (17/10). Menurutnya, sebanyak 385 orang telah ditahan terkait demonstrasi pada pekan lalu tersebut.

Sebelumnya, pada Sabtu (24/10), seorang koresponden RIA Novosti melaporkan polisi Prancis menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa setelah demonstrasi yang awalnya berlangsung damai. Situasi serupa dilaporkan terjadi di sejumlah kota lain di negara tersebut.

Aparat keamanan juga menggunakan gas air mata, granat setrum, dan meriam air untuk menghadapi pengunjuk rasa dalam demonstrasi berskala nasional pada pekan sebelumnya.

Kementerian Dalam Negeri Prancis menyebut sekitar 550.000 orang mengikuti aksi terbesar pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Protes Berawal dari Tuntutan Pelajar

Gelombang demonstrasi di Prancis bermula pada pertengahan September, ketika para pelajar sekolah menengah di pinggiran Paris turun ke jalan. Mereka menuntut perbaikan sistem pendidikan dan kondisi sekolah.

Aksi tersebut kemudian meluas setelah diikuti kelompok masyarakat yang merasa frustrasi akibat kenaikan harga. Demonstrasi pun menyebar ke berbagai wilayah Prancis, dengan tuntutan yang berkaitan dengan tekanan biaya hidup.

Besarnya jumlah peserta dalam aksi 24 Oktober menunjukkan demonstrasi masih berlangsung di tengah upaya aparat keamanan menangani situasi di berbagai daerah.

Penggunaan gas air mata dan meriam air oleh polisi juga menjadi bagian dari perkembangan aksi, terutama ketika aparat berupaya membubarkan massa setelah demonstrasi berlangsung damai.

Macron Sebut Prancis Berada di Titik Penentu

Di tengah gelombang demonstrasi, Prancis juga menghadapi situasi keamanan setelah serangan bersenjata di pinggiran Paris yang menewaskan satu orang dan melukai sejumlah orang lainnya.

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut negaranya berada pada masa penentu setelah serangan teroris tersebut. Pernyataan itu disampaikan pada Jumat (23/10) di Trappes, Prancis, tempat serangan terjadi, dan disiarkan oleh stasiun televisi Prancis.

"Saya menyebut ini sebagai titik balik karena, untuk pertama kalinya, kami menghadapi aksi terorisme yang direncanakan dengan niat membunuh sesama warga negara kami, anak-anak kami; hanya karena warna kulit atau agama yang dikaitkan dengan mereka," kata Macron kepada wartawan.

Pada Jumat (23/10), seorang pria dilaporkan melepaskan tembakan di beberapa lokasi di wilayah Yvelines, pinggiran Paris.

Tembakan tersebut menyebabkan satu orang meninggal dunia dan lima orang lainnya mengalami luka serius, termasuk seorang gadis berusia 12 tahun.

Pelaku diduga menembakkan senjata otomatis dari dalam kendaraan. Dia kini telah ditangkap dan ditahan oleh aparat.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan kantor kejaksaan menganggap insiden tersebut sebagai serangan teroris dengan motif kebencian rasial.

Perkembangan demonstrasi dan insiden penembakan itu menjadi dua persoalan yang mendapat perhatian di Prancis. Di satu sisi, ribuan orang dilaporkan ditahan dalam aksi protes terkait kenaikan biaya hidup. Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi penanganan kasus kekerasan yang oleh kejaksaan dikategorikan sebagai serangan teroris bermotif kebencian rasial.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online