Kongo Uji Vaksin Ebola, 9.552 Kasus Terkonfirmasi

Jumali
Jumali Sabtu, 24 Oktober 2026 23:07 WIB
Kongo Uji Vaksin Ebola, 9.552 Kasus Terkonfirmasi

Foto ilustrasi ebola dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, JOGJA—Republik Demokratik Kongo memulai uji klinis vaksin untuk menghadapi wabah Ebola yang disebabkan virus Bundibugyo. Peserta pertama dalam uji klinis bernama TUMAINI menerima vaksin di Bunia, Provinsi Ituri, pada Jumat (23/10/2026).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendukung pelaksanaan uji klinis tersebut bersama sejumlah mitra. Penelitian ini bertujuan mengukur keamanan dan efektivitas kandidat vaksin untuk membantu mengendalikan wabah yang terus meluas.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut uji klinis tersebut sebagai langkah penting untuk mengetahui apakah kandidat vaksin dapat memberikan perlindungan terhadap virus Bundibugyo.

TUMAINI Bukan Nama Vaksin Tunggal

TUMAINI, yang berarti “harapan” dalam bahasa Swahili, merupakan nama uji klinis fase 2/3 yang dirancang untuk mengevaluasi sejumlah kandidat vaksin terhadap virus Bundibugyo.

Kandidat pertama yang masuk dalam penelitian ini adalah Ervebo. Vaksin tersebut telah mendapat lisensi untuk mencegah penyakit Ebola akibat virus Zaire, tetapi efektivitasnya terhadap virus Bundibugyo pada manusia belum diketahui secara pasti.

Karena itu, penggunaan Ervebo dalam konteks wabah Bundibugyo dilakukan melalui protokol penelitian untuk menghasilkan bukti ilmiah mengenai perlindungannya terhadap virus tersebut.

Dua kandidat vaksin yang secara khusus dikembangkan untuk melawan virus Bundibugyo juga disiapkan untuk masuk ke uji klinis. Kandidat tersebut dikembangkan oleh Moderna serta Universitas Oxford bekerja sama dengan Serum Institute of India.

Uji Klinis Menyasar Kontak Kasus Ebola

Penelitian TUMAINI menggunakan pendekatan vaksinasi cincin (ring vaccination), yakni pemberian vaksin kepada orang-orang yang memiliki risiko tinggi terpapar karena kontak dengan kasus terkonfirmasi atau probable.

Pendekatan tersebut memungkinkan peneliti menilai kinerja kandidat vaksin di tengah respons wabah. Pelaksanaannya dikoordinasikan dengan otoritas kesehatan setempat dan mitra penelitian, dengan memperhatikan prosedur ilmiah serta etika penelitian.

Institut Nasional Penelitian Biomedis Republik Demokratik Kongo dan Universitas Antwerpen menjadi pihak yang memimpin serta menjadi sponsor bersama penelitian tersebut. Kementerian Kesehatan Kongo memberikan arahan dan pengawasan nasional.

Kasus Ebola Bundibugyo di Kongo Melampaui 9.500

Wabah penyakit virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo diumumkan pada 15 Mei 2026. Hingga 21 Oktober 2026, tercatat 9.552 kasus terkonfirmasi dan 4.602 kematian.

Wabah ini menjadi wabah Bundibugyo terbesar yang pernah tercatat. WHO dan Africa CDC telah meningkatkan upaya penanganan serta koordinasi lintas negara untuk mengendalikan penularan.

Kenya juga melaporkan kasus penyakit virus Bundibugyo yang berkaitan dengan wabah di Kongo. Otoritas kesehatan di negara tersebut memperkuat pelacakan kontak dan pemantauan terhadap orang-orang yang berisiko terpapar.

WHO menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada vaksin berlisensi yang secara khusus disetujui untuk mencegah penyakit akibat virus Bundibugyo. Hasil uji klinis TUMAINI diharapkan dapat memberikan bukti yang dibutuhkan untuk menentukan peran kandidat vaksin dalam menghadapi wabah saat ini maupun wabah mendatang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online