Kerusuhan Prancis, 1.800 Orang Ditahan dan Ratusan Juta Euro Melayang

Newswire
Newswire Minggu, 18 Oktober 2026 23:17 WIB
Kerusuhan Prancis, 1.800 Orang Ditahan dan Ratusan Juta Euro Melayang

Aksi unjuk rasa di Prancis yang berakhir dengan kericuhan./Anadolu\r\n\r\n

Harianjogja.com, PARIS—Kerusuhan massal di Prancis pada Sabtu (17/10) menyebabkan kerusakan pada sekitar 1.500 gerai ritel, dengan total kerugian sektor perdagangan diperkirakan mencapai ratusan juta euro. Grup ritel Carrefour menjadi salah satu perusahaan yang terdampak, dengan 50 gerainya mengalami kerusakan dan kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta euro.

CEO Carrefour sekaligus Ketua Federasi Perdagangan dan Distribusi Prancis, Alexandre Bompard, mengatakan sejumlah gerai mengalami penjarahan dan kerusakan peralatan selama kerusuhan berlangsung. Pernyataan tersebut disampaikannya kepada stasiun televisi Prancis BFMTV pada Minggu.

“Kami mengalami penjarahan sepanjang hari, dan peralatan juga mengalami kerusakan. Kerugian Carrefour diperkirakan mencapai puluhan juta euro. Sementara itu, untuk sektor ritel secara keseluruhan di Prancis, kerugiannya akan mencapai ratusan juta euro,” kata Bompard.

Kerusakan tersebut terjadi di tengah demonstrasi besar-besaran yang menentang kenaikan biaya hidup dan harga-harga. Aksi yang berlangsung di berbagai wilayah Prancis itu diwarnai bentrokan antara demonstran dan polisi, penjarahan toko, serta perusakan fasilitas umum.

Sebanyak 1.500 Gerai Ritel Terdampak Kerusuhan

Bompard menyebut sebanyak 50 gerai Carrefour mengalami kerusakan akibat kerusuhan pada 17 Oktober. Secara keseluruhan, dampak kerusuhan meluas ke sekitar 1.500 gerai ritel di berbagai wilayah Prancis.

Penjarahan dan kerusakan peralatan menjadi faktor yang menambah kerugian pelaku usaha. Untuk Carrefour saja, nilai kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta euro, sedangkan kerugian sektor ritel Prancis secara keseluruhan diproyeksikan mencapai ratusan juta euro.

Besarnya dampak terhadap sektor perdagangan terjadi bersamaan dengan gangguan keamanan di sejumlah kota. Selain toko-toko yang dirusak, sejumlah halte transportasi umum dan mobil juga dibakar oleh pemuda yang bertindak radikal.

Pemerintah Kota Paris Soroti Keterbatasan Personel Polisi

Di tengah kerusuhan, Wakil Wali Kota Paris Lamia El Aaraje menyoroti keterbatasan personel dan sumber daya kepolisian dalam menjaga keamanan masyarakat. Ia mengatakan aparat kewalahan menghadapi banyaknya insiden yang terjadi pada Sabtu.

“Jelas, kali ini sumber daya yang tersedia di ibu kota tidak mencukupi,” katanya kepada Franceinfo.

El Aaraje juga mengungkapkan bahwa warga Paris yang merasa putus asa menghubungi pemerintah kota untuk menanyakan keberadaan polisi. Situasi tersebut mencerminkan kesulitan aparat dalam merespons berbagai insiden yang berlangsung selama kerusuhan.

Menurut laporan BFMTV, wali kota di sejumlah kota lain, termasuk Limoges, Marseille, dan Lyon, menyampaikan pernyataan serupa mengenai kondisi keamanan dan penanganan kerusuhan.

Polisi Gunakan Gas Air Mata hingga Meriam Air

Demonstrasi besar-besaran yang berlangsung pada Sabtu (17/10) dipicu penolakan terhadap kenaikan biaya hidup dan harga-harga di Prancis. Aksi di berbagai wilayah itu berkembang menjadi bentrokan antara demonstran dan polisi.

Sejumlah pemuda yang bertindak radikal merusak toko-toko, membakar halte transportasi umum, serta membakar mobil. Untuk membubarkan para perusuh, polisi menggunakan gas air mata, granat kejut, dan meriam air.

Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan sebanyak 1.800 orang telah ditahan dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Selain itu, lebih dari 500 personel kepolisian dan petugas pemadam kebakaran mengalami luka-luka.

Demonstrasi Diikuti 550.000 Orang

Secara keseluruhan, sebanyak 550.000 orang mengikuti demonstrasi di berbagai wilayah Prancis, termasuk 110.000 orang di Paris. Aksi tersebut berlangsung di tengah persoalan kenaikan biaya hidup yang menjadi sasaran protes massa.

Kerusuhan yang menyertai demonstrasi itu menimbulkan dampak pada keamanan publik dan kegiatan ekonomi. Di sektor perdagangan, sekitar 1.500 gerai ritel terdampak, sementara Carrefour melaporkan kerusakan pada 50 gerainya.

Dengan perkiraan kerugian mencapai ratusan juta euro untuk sektor ritel Prancis, kerusuhan pada 17 Oktober menjadi pukulan besar bagi pelaku usaha yang gerainya mengalami penjarahan dan perusakan. Sementara itu, aparat keamanan menghadapi penanganan insiden yang meluas di sejumlah kota, dengan ribuan orang ditahan dan ratusan personel terluka.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online