Kerusuhan di Prancis, 1.200 Orang Ditangkap dalam Aksi Protes

Sunartono
Sunartono Minggu, 18 Oktober 2026 11:07 WIB
Kerusuhan di Prancis, 1.200 Orang Ditangkap dalam Aksi Protes

Protes biaya hidup di Prancis pada 17 Oktober 2026 dilaporkan berujung kerusuhan. Sekitar 1.200 orang ditangkap menurut naskah sumber. /Reuters.

Harianjogja.com, JOGJA— Demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik di Prancis berujung bentrokan, pembakaran bangunan, serta penjarahan pada Sabtu (17/10/2026). Perdana Menteri Sébastien Lecornu dan Presiden Emmanuel Macron mengecam aksi kekerasan tersebut, sementara laporan terbaru menyebut jumlah orang yang ditangkap mencapai sekitar 1.200 orang.

Aksi itu melibatkan ratusan ribu peserta di berbagai wilayah Prancis. Meski banyak demonstrasi berlangsung damai, sejumlah kelompok terlibat kerusuhan di beberapa kota, termasuk Paris, Marseille, Lyon, dan Limoges.

Kerusuhan Melanda Sejumlah Kota

Di Limoges, kebakaran melanda gedung balai kota setelah bangunan itu diserang massa. Sementara di Marseille, sejumlah demonstran menerobos masuk ke balai kota dan merusak bagian dalam gedung. Kantor pariwisata di Lyon juga dibakar saat kerusuhan berlangsung.

Kerusuhan turut diwarnai aksi penjarahan toko dan pembakaran kendaraan. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan kelompok demonstran yang terlibat bentrokan.

Pemerintah mengecam tindakan kekerasan yang terjadi di tengah demonstrasi. Lecornu menyebut kelompok ultra-kiri dan pelaku kriminal terlibat dalam kerusuhan di sejumlah kota, serta menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan kekerasan menguasai ruang publik.

“Kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi. Tidak ada seorang pun yang dapat memaksakan agenda politik melalui kekerasan,” tegas Lecornu melalui unggahan di akun resminya.

Berdasarkan laporan yang dikutip sejumlah media, jumlah penangkapan berkembang seiring berjalannya penanganan demonstrasi. Laporan awal otoritas menyebut ratusan orang ditangkap, sedangkan perkembangan berikutnya menyebut jumlahnya mencapai sekitar 1.200 orang.

Adapun jumlah peserta aksi diperkirakan sekitar 550.000 orang menurut pemerintah. Serikat pekerja memperkirakan jumlahnya lebih tinggi, yakni sekitar 800.000 orang.

Macron Janjikan Penindakan Hukum

Presiden Emmanuel Macron turut mengecam kerusuhan dan menyatakan para pelaku perusakan akan dimintai pertanggungjawaban melalui proses hukum.

Dalam pernyataannya, Macron menegaskan pentingnya persatuan untuk menghadapi pihak-pihak yang berupaya merusak institusi negara. Ia juga menyampaikan dukungan kepada aparat keamanan yang bertugas menjaga hak masyarakat untuk berdemonstrasi secara damai.

Demonstrasi berlangsung di tengah tekanan ekonomi dan ketidakpuasan masyarakat terhadap biaya hidup serta kualitas layanan publik. Aksi tersebut juga terjadi menjelang pemilihan presiden Prancis pada 2027.

Protes Meluas ke Isu Sosial

Aksi pada 17 Oktober tidak hanya berkaitan dengan mahalnya biaya hidup. Gerakan demonstrasi juga mendapat dukungan dari pelajar, serikat pekerja, dan kelompok yang menyoroti kondisi sekolah, termasuk kekurangan tenaga pengajar dan fasilitas pendidikan yang dinilai memburuk.

Di sejumlah negara Eropa lainnya, persoalan biaya hidup dan perumahan juga menjadi pemicu demonstrasi. Namun, rincian mengenai skala aksi serta bentrokan di Belgia, Portugal, Italia, dan Albania dalam naskah awal perlu diperiksa menggunakan laporan terpisah sebelum dimuat sebagai fakta.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online