11 Gunung Api Erupsi Sepanjang 2026, Ibu Catat 25.556 Kali

Jumali
Jumali Senin, 14 September 2026 11:57 WIB
11 Gunung Api Erupsi Sepanjang 2026, Ibu Catat 25.556 Kali

Arsip Foto - Seorang warga melihat erupsi dari kawah Gunung Ibu terlihat dari Desa Duono, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, Rabu (15/1/2024). ANTARA FOTO/Andri Saputra

Harianjogja.com, JOGJA— Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat 11 gunung api aktif di Indonesia mengalami erupsi sepanjang periode 1 Januari hingga 7 September 2026. Aktivitas tersebut tersebar dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi hingga Maluku Utara.

Data Badan Geologi menunjukkan frekuensi erupsi masing-masing gunung api sangat berbeda. Gunung Ibu di Maluku Utara menjadi salah satu yang paling sering mengalami erupsi dengan 25.556 kejadian, disusul Gunung Ili Lewotolok sebanyak 24.442 kali dan Gunung Semeru dengan 20.326 kali.

Menariknya, banyaknya erupsi tidak secara otomatis membuat sebuah gunung berada pada status aktivitas tertinggi. Gunung Ibu dan Ili Lewotolok tercatat berstatus Level II atau Waspada, sedangkan Semeru berada pada Level III atau Siaga.

Perbedaan itu menunjukkan status aktivitas gunung api ditetapkan berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi kondisi vulkanik, bukan hanya menghitung berapa kali letusan terjadi. Dalam data yang dipublikasikan Badan Geologi, lima gunung berada pada Level III (Siaga), sedangkan enam lainnya Level II (Waspada).

Lima Gunung Api Berstatus Level III Siaga

Kelompok Level III atau Siaga terdiri atas Gunung Anak Krakatau, Lewotobi Laki-laki, Semeru, Merapi dan Sinabung. Kelimanya memiliki catatan aktivitas yang berbeda sepanjang periode pengamatan.

Gunung Semeru di Jawa Timur mencatat 20.326 kali erupsi atau letusan. Selain itu, Badan Geologi mencatat 55 kejadian awan panas guguran di gunung tersebut. Angka erupsi itu menempatkan Semeru sebagai salah satu gunung dengan aktivitas paling tinggi dalam kelompok Level III.

Berikutnya ada Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dengan 790 kali erupsi. Sementara Gunung Anak Krakatau di kawasan Selat Sunda tercatat mengalami 243 kali erupsi atau letusan.

Gunung Merapi yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah memiliki catatan berbeda. Dalam data Badan Geologi, aktivitas yang dicatat untuk Merapi berupa 115 kejadian awan panas guguran.

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi gunung dengan jumlah erupsi paling sedikit di kelompok Level III, yakni dua kali sepanjang periode tersebut.

Gunung Ibu dan Ili Lewotolok Lebih Sering Erupsi

Enam gunung api lainnya berada pada Level II atau Waspada. Kelompok ini terdiri atas Gunung Ibu, Ili Lewotolok, Dukono, Marapi, Dempo dan Karangetang.

Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, mencatat 25.556 kali erupsi atau letusan. Frekuensi tersebut bahkan lebih tinggi daripada catatan Gunung Semeru yang berstatus Level III.

Gunung Ili Lewotolok di Lembata, Nusa Tenggara Timur, berada di urutan berikutnya dengan 24.442 kali erupsi. Sementara Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, tercatat mengalami 8.216 kali erupsi.

Tiga gunung lainnya memiliki frekuensi yang jauh lebih rendah. Gunung Marapi di Sumatera Barat mengalami 51 kali erupsi, Gunung Dempo di Sumatera Selatan tiga kali, sedangkan Gunung Karangetang di Sulawesi Utara satu kali erupsi. Meski hanya satu kali erupsi, gunung api di Kepulauan Sitaro itu tetap tercatat dalam pemantauan dengan status Level II Waspada.

Mengapa Jumlah Erupsi Tidak Menentukan Level Status?

Gunung Ibu mencatat 25.556 kali erupsi dan Ili Lewotolok 24.442 kali, tetapi keduanya berada pada Level II, sementara Semeru dengan 20.326 kali erupsi berada pada Level III. Sedangkan, satus aktivitas gunung api terdiri atas empat tingkatan, yakni Level I Normal, Level II Waspada, Level III Siaga dan Level IV Awas. Tingkatan tersebut digunakan berdasarkan hasil pemantauan aktivitas gunung api dan evaluasi kondisi yang dilakukan otoritas terkait.

Level I atau Normal menunjukkan aktivitas gunung api berada dalam kondisi normal berdasarkan hasil pengamatan. Pada tahap ini, aktivitas vulkanik masih berada dalam batas karakteristik dasar gunung tersebut.

Level II atau Waspada menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di atas kondisi normal atau perubahan tertentu yang perlu diperhatikan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan serta mengikuti informasi dan rekomendasi dari otoritas pemantauan gunung api.

Level III atau Siaga menandakan peningkatan aktivitas yang lebih signifikan. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian lebih terhadap potensi bahaya di sekitar gunung dan perkembangan rekomendasi bagi masyarakat di kawasan rawan bencana.

Sementara Level IV atau Awas merupakan tingkat tertinggi. Status tersebut digunakan ketika hasil pemantauan menunjukkan aktivitas yang sangat tinggi dan terdapat potensi bahaya yang perlu diantisipasi lebih lanjut.

Data 11 Gunung Api hingga 7 September 2026

Berikut daftar lengkap gunung api yang tercatat mengalami erupsi atau kejadian vulkanik dalam data Badan Geologi periode 1 Januari hingga 7 September 2026:

1. Gunung Ibu — Level II Waspada: 25.556 kali erupsi.

2. Gunung Ili Lewotolok — Level II Waspada: 24.442 kali erupsi.

3. Gunung Semeru — Level III Siaga: 20.326 kali erupsi dan 55 kali awan panas guguran.

4. Gunung Dukono — Level II Waspada: 8.216 kali erupsi.

5. Gunung Lewotobi Laki-laki — Level III Siaga: 790 kali erupsi.

6. Gunung Anak Krakatau — Level III Siaga: 243 kali erupsi.

7. Gunung Marapi — Level II Waspada: 51 kali erupsi.

8. Gunung Merapi — Level III Siaga: 115 kali awan panas guguran.

9. Gunung Dempo — Level II Waspada: 3 kali erupsi.

10. Gunung Sinabung — Level III Siaga: 2 kali erupsi.

11. Gunung Karangetang — Level II Waspada: 1 kali erupsi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online