PPATK Catat 467 Juta Transaksi Judol, DPR Minta Polri Bertindak
DPR meminta Polri memperkuat pemberantasan judi online setelah PPATK mencatat 467,32 juta transaksi judol pada semester I 2026.
Ribuan imigran gelap memasuki wilayah Spanyol/Time
Harianjogja.com, MOSKOW—Krisis migrasi di Ceuta, kota otonom Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara, dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 100 imigran yang berusaha memasuki wilayah tersebut. Di tengah meningkatnya arus migrasi, Pemerintah Spanyol juga meminta dukungan dan solidaritas dari negara-negara Uni Eropa untuk menghadapi situasi tersebut.
Wali Kota Ceuta Juan Jesus Vivas mengonfirmasi jumlah korban jiwa itu pada Kamis (6/8), setelah sebelumnya media Cadena SER melaporkan sedikitnya 141 migran meninggal saat berupaya memasuki kota tersebut pada Rabu (5/8).
Wali Kota Sampaikan Duka atas Korban Jiwa
Dalam pernyataannya, Vivas menyampaikan belasungkawa atas tragedi yang terjadi akibat gelombang besar migrasi ke Ceuta.
"Saya ingin sekali lagi menyampaikan rasa terima kasih kami dan, atas nama seluruh warga Ceuta, saya tekankan dua hal. Pertama, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas tragedi yang tak tidak dapat dikendalikan akibat sekitar 100 korban jiwa karena gelombang besar krisis migrasi ini," kata Vivas pada Kamis (6/8).
Selain menyampaikan duka cita, Vivas juga menegaskan keyakinannya bahwa lembaga-lembaga Uni Eropa dapat membantu Spanyol dalam menangani krisis migrasi yang sedang berlangsung.
Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta
Pada akhir Juli 2026, Ceuta yang berbatasan langsung dengan Maroko menghadapi lonjakan kedatangan migran dalam jumlah besar.
Berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri Spanyol, sekitar 72.000 orang memasuki Ceuta, sementara sekitar 70.000 orang di antaranya kemudian kembali ke Maroko.
Sebelumnya, pada Jumat (31/7/2026), Juan Jesus Vivas juga mengungkapkan sekitar 60.000 orang memasuki Ceuta hanya dalam waktu 24 jam.
Jumlah tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan populasi Ceuta yang saat ini sekitar 85.000 jiwa.
Spanyol Desak Solidaritas Uni Eropa
Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares mengatakan negaranya akan meminta solidaritas dari seluruh anggota Uni Eropa dalam menghadapi krisis migrasi tersebut.
"Tentu saja, kami akan menuntut solidaritas dari semua negara anggota Uni Eropa. Tidak ada Uni Eropa tanpa solidaritas dan mereka yang tidak menerima hal ini berarti bekerja melawan Eropa," kata Albares dalam wawancara dengan saluran TV RTVE, Senin.
Albares menegaskan bahwa Ceuta dan Melilla bukan hanya wilayah perbatasan Spanyol, tetapi juga menjadi perbatasan selatan Uni Eropa.
"Ketika terjadi krisis migrasi berulang yang tidak dapat ditangani oleh Pemerintah Italia di Lampedusa, Spanyol selalu menunjukkan solidaritas, baik secara politik maupun praktis; dan inilah tepatnya yang kami inginkan dari negara-negara Eropa lainnya," kata Albares.
Spanyol Tambah Personel Keamanan
Menghadapi arus masuk migran yang terus meningkat sejak akhir Juli, Pemerintah Spanyol mengerahkan tambahan personel kepolisian, Garda Sipil, dan pasukan militer ke Ceuta.
Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah penyeberangan ilegal dari wilayah Maroko menuju kota enklave Spanyol yang berada di pesisir Afrika Utara tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
DPR meminta Polri memperkuat pemberantasan judi online setelah PPATK mencatat 467,32 juta transaksi judol pada semester I 2026.
Menkes Budi Gunadi Sadikin menyesalkan dugaan nakes menghina pasien BPJS. Ia menegaskan seluruh profesi harus mengedepankan empati kepada masyarakat.
Kejagung menjadwalkan pemeriksaan Febrie Adriansyah sebagai tersangka dugaan TPPU. Pemeriksaan dilakukan oleh Tim 9 pada Jumat.
DPRD DIY membentuk Pansus Perda Kesehatan Jiwa untuk memperkuat edukasi, mencegah pasung dan bunuh diri, serta meningkatkan layanan.
Janice Tjen tersingkir di babak pertama ganda WTA 1000 Toronto usai kalah dari Storm Hunter/Desirae Krawczyk dengan skor 4-6, 0-6.
Kronologi temuan 995 senjata di yayasan sekolah Pondok Pinang, Jakarta Selatan, kini diselidiki polisi bersama laporan dari pihak yayasan.