AS dan Iran Bersiap Berunding, Trump Klaim Serangan Besar Dibatalkan

Newswire
Newswire Senin, 03 Agustus 2026 11:27 WIB
AS dan Iran Bersiap Berunding, Trump Klaim Serangan Besar Dibatalkan

Ilustrasi perang, dibuat menggunakan AI/magnific

Harianjogja.com, JAKARTA— Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa perundingan dengan Iran akan dimulai pada Senin sore waktu setempat. Menurutnya, pembicaraan tersebut membuka peluang tercapainya kesepakatan mengenai Selat Hormuz dan program nuklir Teheran, sekaligus menjadi alasan dibatalkannya rencana operasi militer besar yang sebelumnya telah disiapkan Washington.

Pernyataan itu disampaikan Trump kepada wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Minggu (2/8), di tengah meningkatnya dinamika hubungan Amerika Serikat dengan Iran dan sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

Trump mengatakan keputusan membatalkan operasi militer yang semula dijadwalkan berlangsung pada Jumat diambil setelah adanya komunikasi dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran.

"Kami diminta oleh tiga kelompok utama. Kami juga menerima permintaan yang sangat kuat dari Iran, bahwa mereka ingin mencapai kesepakatan" kata Trump.

Menurut Trump, Iran bersama beberapa negara di kawasan meminta Amerika Serikat menahan diri dan mengutamakan penyelesaian melalui jalur diplomasi.

"Serangan itu akan menjadi operasi besar-besaran. Mereka meminta kami untuk tidak melakukannya. Mereka berkata, tolong jangan lakukan itu. Negara-negara tetangga mereka juga menyampaikan hal yang sama," katanya.

Trump menambahkan Arab Saudi juga berharap penyelesaian konflik dilakukan melalui proses negosiasi.

"Mereka meyakini bahwa kesepakatan sudah semakin dekat, terutama terkait Selat Hormuz dan pada akhirnya menyangkut denuklirisasi," ucapnya.

Tidak Ada Tenggat Waktu Perundingan

Saat ditanya mengenai target waktu penyelesaian negosiasi, Trump menegaskan belum menetapkan batas waktu tertentu.

"Kita lihat saja nanti," katanya.

Meski mengedepankan diplomasi, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap memiliki opsi menggunakan kekuatan militer apabila diperlukan.

"Saya lebih memilih mencapai kesepakatan. Saya tidak ingin membunuh orang karena banyak nyawa akan melayang dan kami tidak menginginkannya," ujarnya.

Trump juga menyebut operasi militer yang sempat direncanakan akan memberikan dampak besar terhadap Iran dan mengklaim negara tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan diri.

Namun, ketika ditanya apakah target operasi mencakup infrastruktur energi Iran, Trump tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Iran Terima Jaminan dari Tiga Negara

Di sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, mengatakan Inggris, Bulgaria, dan Ukraina telah memberikan jaminan bahwa ketiga negara tersebut tidak akan terlibat dalam aksi militer terhadap Iran.

"Selama 24 jam terakhir, kami telah berulang kali menerima panggilan telepon dari Inggris, Bulgaria, dan Ukraina yang menyatakan bahwa mereka tidak akan mengambil bagian dalam peperangan melawan Iran," ujar Baghaei sebagaimana dikutip oleh stasiun penyiaran milik pemerintah Iran, IRIB.

Sebelumnya, pada 18 Juni, Pemerintah Iran dan Pemerintah Amerika Serikat menandatangani memorandum untuk mengakhiri konflik yang dimulai pada 28 Februari.

Namun, sejak 8 Juli, pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan serangkaian serangan ke wilayah Iran.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut merupakan respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Sebagai balasan, pasukan Iran melancarkan serangan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah.

Pemerintah Iran kemudian menuduh Amerika Serikat telah melanggar kesepakatan yang sebelumnya disepakati dalam memorandum tersebut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online