Eropa Khawatir Bergantung pada AS usai Tinggalkan Energi Rusia

Newswire
Newswire Sabtu, 25 Juli 2026 12:37 WIB
Eropa Khawatir Bergantung pada AS usai Tinggalkan Energi Rusia

Foto ilustrasi biofuel. Energi bauran bahan bakar minyak dan bahan bakar nabati. - Stockcake AI

Harianjogja.com, JAKARTA—Negara-negara Eropa mulai menghadapi kekhawatiran baru setelah mengurangi ketergantungan terhadap energi Rusia. Seiring meningkatnya impor gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) dari Amerika Serikat, muncul kekhawatiran bahwa kebijakan tersebut justru memunculkan ketergantungan baru terhadap Washington dalam sektor energi.

Laporan The New York Times menyebutkan pemasok energi asal Amerika Serikat kini menyumbang sekitar dua pertiga pasokan LNG yang masuk ke Eropa. Pangsa tersebut bahkan diperkirakan meningkat hingga 80 persen pada akhir dekade ini.

Impor LNG Amerika Serikat Terus Meningkat

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa memperbesar impor bahan bakar, terutama LNG dari Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi Rusia.

Namun, langkah tersebut mulai memunculkan kekhawatiran di kalangan pemimpin sektor pertahanan dan energi. Mereka menilai penghentian impor gas Rusia berpotensi memberikan pengaruh yang semakin besar kepada Amerika Serikat terhadap kebijakan energi domestik negara-negara Eropa.

Laporan The New York Times menyebut kondisi tersebut menjadi perhatian karena dominasi pasokan dari satu negara dinilai dapat memengaruhi ketahanan energi kawasan dalam jangka panjang.

Uni Eropa Bertahap Hentikan Impor Energi Rusia

Langkah pengurangan ketergantungan terhadap Rusia diperkuat melalui regulasi yang disetujui Dewan Uni Eropa pada Januari. Aturan tersebut mengatur penghentian bertahap impor LNG maupun gas pipa yang berasal dari Rusia.

Berdasarkan kebijakan tersebut, larangan impor LNG melalui kontrak jangka pendek mulai berlaku pada 25 April 2026. Sementara itu, kontrak jangka panjang akan dihentikan mulai 1 Januari 2027.

Untuk impor gas melalui jaringan pipa, larangan terhadap kontrak jangka pendek mulai diterapkan pada 17 Juni 2026, sedangkan kontrak jangka panjang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 November 2027.

Rusia Nilai Barat Ciptakan Ketergantungan Baru

Pemerintah Rusia sebelumnya menyatakan negara-negara Barat telah melakukan kesalahan besar dengan menghentikan pembelian hidrokarbon dari Rusia.

Menurut Moskow, kebijakan tersebut justru berpotensi menciptakan ketergantungan baru terhadap pemasok lain dengan harga energi yang lebih tinggi.

Rusia juga menilai negara-negara yang tidak lagi membeli energi secara langsung tetap akan memperoleh minyak dan gas asal Rusia melalui perantara dengan harga yang lebih mahal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online