KAI Pastikan Seluruh Lokomotif Diesel Siap Gunakan Biodiesel B50

Newswire
Newswire Kamis, 02 Juli 2026 12:47 WIB
KAI Pastikan Seluruh Lokomotif Diesel Siap Gunakan Biodiesel B50

Foto ilustrasi biodiesel dibuat dengan artificial intelligence.

Harianjogja.com, JAKARTA— PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI memastikan seluruh lokomotif dan sarana diesel siap menggunakan biodiesel B50 seiring diberlakukannya kebijakan mandatori pemerintah mulai 1 Juli 2026. Kesiapan tersebut menjadi bagian dari dukungan KAI terhadap program transisi energi nasional berbasis bahan bakar nabati.

Penerapan biodiesel B50 dilakukan bersamaan dengan masa transisi selama tiga bulan yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Masa penyesuaian itu dimanfaatkan untuk pengelolaan stok bahan bakar lama sekaligus mempersiapkan implementasi penggunaan B50 secara penuh di lapangan.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan kesiapan perusahaan mencakup seluruh lokomotif dan kereta pembangkit yang menjadi bagian penting dalam operasional perjalanan kereta api berbasis diesel.

"Kesiapan KAI sejalan dengan mandatori biodiesel B50 yang mulai diberlakukan pemerintah sejak 1 Juli 2026," kata Anne saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.

Menurut Anne, KAI mendukung kebijakan pemerintah dalam meningkatkan pemanfaatan energi nabati yang bersumber dari dalam negeri. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kesiapan sarana, pelaksanaan uji terap teknis, serta penguatan aspek keselamatan dan keandalan operasional.

"KAI mendukung mandatori biodiesel B50 yang diberlakukan pemerintah. Dari sisi sarana, seluruh lokomotif dan sarana diesel KAI telah siap menerapkan B50 setelah melalui uji terap teknis serta penguatan aspek keselamatan operasional," ujarnya.

Anne menjelaskan kesiapan tersebut diperkuat melalui pelaksanaan uji terap bersama Kementerian ESDM terhadap sarana perkeretaapian berbasis diesel. Pengujian dilakukan untuk memastikan penggunaan biodiesel B50 sesuai dengan karakteristik operasional kereta api, baik pada lokomotif maupun kereta pembangkit.

Pada lokomotif, pengujian difokuskan untuk mengamati respons mesin saat menggunakan B50 dalam pola operasional perjalanan kereta. Evaluasi mencakup performa mesin, stabilitas proses pembakaran, konsumsi bahan bakar, hingga kondisi komponen utama agar tetap mampu memberikan layanan yang andal kepada pelanggan.

Sementara itu, pada kereta pembangkit, pengujian dilakukan terhadap performa generator set (genset), konsumsi bahan bakar, tingkat emisi, kondisi filter, serta daya tahan operasional. Tahapan tersebut dinilai penting karena kereta pembangkit berfungsi menyuplai kebutuhan listrik guna menjaga kenyamanan penumpang selama perjalanan.

"Penggunaan B50 pada sarana perkeretaapian membutuhkan kesiapan teknis yang terukur. Karena itu, KAI melakukan pengujian, pemantauan, dan evaluasi agar penerapannya tetap selaras dengan standar keselamatan operasi kereta api," jelasnya.

Dari sisi keberlanjutan, penggunaan biodiesel B50 memperkuat kontribusi KAI dalam mendukung agenda transisi energi nasional. Peningkatan bauran biodiesel diharapkan mampu memperbesar pemanfaatan energi terbarukan dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap solar fosil, sekaligus membantu menekan emisi di sektor transportasi.

Sebelumnya, KAI juga telah menerapkan penggunaan biodiesel secara bertahap melalui B35 hingga B40. Pengalaman tersebut menjadi modal dalam mengimplementasikan B50 dengan pendekatan yang aman, terukur, serta tetap menyesuaikan kebutuhan operasional perusahaan.

"KAI siap menjalankan penggunaan B50 sesuai arahan pemerintah. Seluruh sarana diesel telah kami siapkan, sehingga transisi energi ini dapat berjalan dengan tetap menjaga keselamatan perjalanan, keandalan operasi, dan kualitas layanan kepada masyarakat," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online