Gibran Hadiahi Sepeda dan Alat Musik untuk Peserta Pesparawi di Papua
Gibran Rakabuming membagikan tiga sepeda dan dua alat musik kepada peserta Pesparawi Nasional XIV 2026 di Manokwari, Papua Barat.
Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay
Harianjogja.com, MALUKU UTARA—Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerima laporan kejadian cuaca ekstrem di Kabupaten Pulau Morotai yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia setelah diduga tersambar petir saat kembali dari aktivitas melaut. Peristiwa ini terjadi di wilayah pesisir yang tengah dilanda kondisi cuaca tidak stabil.
Insiden tersebut menjadi pengingat meningkatnya risiko cuaca ekstrem di kawasan kepulauan, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan aktivitas laut yang sangat bergantung pada kondisi atmosfer harian.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan korban merupakan seorang nelayan asal Desa Bido, Kecamatan Morotai Timur.
Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, korban diduga tersambar petir sesaat setelah kembali dari laut pada Kamis (18/6).
"Seorang warga Desa Bido, Kecamatan Morotai Timur, yang baru kembali dari aktivitas melaut diduga tersambar petir dan meninggal dunia akibat cuaca ekstrem yang melanda kawasan pesisir tersebut pada Kamis (18/6)," kata Abdul di Jakarta, Sabtu.
Setelah kejadian, petugas darurat bersama warga segera melakukan proses evakuasi dan menyerahkan jenazah korban kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Sebagai bentuk penanganan awal pascakejadian, Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai disebut telah menyiapkan santunan duka bagi keluarga korban.
Hasil kaji cepat BPBD di lokasi kejadian menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya kerusakan infrastruktur maupun kerugian materiil pada permukiman warga akibat cuaca buruk tersebut.
Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Aktivitas Maritim
BNPB menekankan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi di wilayah kepulauan Maluku Utara dan perlu diwaspadai secara serius, terutama oleh masyarakat pesisir yang beraktivitas di laut.
Menurut Abdul, kondisi atmosfer yang tidak stabil dapat meningkatkan risiko kecelakaan bagi nelayan maupun pengguna transportasi laut jika tidak diantisipasi dengan baik.
Oleh karena itu, BNPB mengimbau pemerintah daerah, nelayan, serta masyarakat pesisir Pulau Morotai untuk selalu memperhatikan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Masyarakat juga diminta menunda aktivitas melaut apabila terpantau awan konvektif atau awan cumulonimbus mulai terbentuk, mengingat kondisi tersebut berpotensi memicu petir dan cuaca buruk yang membahayakan keselamatan di laut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gibran Rakabuming membagikan tiga sepeda dan dua alat musik kepada peserta Pesparawi Nasional XIV 2026 di Manokwari, Papua Barat.
Dindikpora Yogyakarta menerapkan SPMB SMP 2026 berbasis RTO dengan fitur ubah pilihan sekolah secara real time.
Pemasangan girder Tol Jogja–Solo di Simpang Kronggahan memicu pengalihan arus lalu lintas dan skema U-turn sementara.
BNPB melaporkan kekeringan di Banyumas dan Purbalingga. BPBD menyalurkan air bersih untuk ratusan keluarga terdampak.
Seorang nelayan Morotai tewas tersambar petir saat pulang melaut. BNPB mengimbau masyarakat waspada cuaca ekstrem di pesisir.
Harganas 2026 akan digelar di Yogyakarta dengan tema “Ayah Wajib Hadir”, menyoroti pentingnya peran ayah dalam keluarga.