Cuaca Ekstrem di Morotai Tewaskan Seorang Nelayan

Newswire
Newswire Sabtu, 20 Juni 2026 23:17 WIB
Cuaca Ekstrem di Morotai Tewaskan Seorang Nelayan

Ilustrasi petir di tengah cuaca ekstrem./Pixabay

Harianjogja.com, MALUKU UTARA—Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menerima laporan kejadian cuaca ekstrem di Kabupaten Pulau Morotai yang menyebabkan seorang warga meninggal dunia setelah diduga tersambar petir saat kembali dari aktivitas melaut. Peristiwa ini terjadi di wilayah pesisir yang tengah dilanda kondisi cuaca tidak stabil.

Insiden tersebut menjadi pengingat meningkatnya risiko cuaca ekstrem di kawasan kepulauan, khususnya bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor perikanan dan aktivitas laut yang sangat bergantung pada kondisi atmosfer harian.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan korban merupakan seorang nelayan asal Desa Bido, Kecamatan Morotai Timur.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, korban diduga tersambar petir sesaat setelah kembali dari laut pada Kamis (18/6).

"Seorang warga Desa Bido, Kecamatan Morotai Timur, yang baru kembali dari aktivitas melaut diduga tersambar petir dan meninggal dunia akibat cuaca ekstrem yang melanda kawasan pesisir tersebut pada Kamis (18/6)," kata Abdul di Jakarta, Sabtu.

Setelah kejadian, petugas darurat bersama warga segera melakukan proses evakuasi dan menyerahkan jenazah korban kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.

Sebagai bentuk penanganan awal pascakejadian, Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai disebut telah menyiapkan santunan duka bagi keluarga korban.

Hasil kaji cepat BPBD di lokasi kejadian menunjukkan bahwa tidak ditemukan adanya kerusakan infrastruktur maupun kerugian materiil pada permukiman warga akibat cuaca buruk tersebut.

Cuaca Ekstrem Jadi Ancaman Aktivitas Maritim

BNPB menekankan bahwa fenomena cuaca ekstrem seperti petir dan angin kencang masih berpotensi terjadi di wilayah kepulauan Maluku Utara dan perlu diwaspadai secara serius, terutama oleh masyarakat pesisir yang beraktivitas di laut.

Menurut Abdul, kondisi atmosfer yang tidak stabil dapat meningkatkan risiko kecelakaan bagi nelayan maupun pengguna transportasi laut jika tidak diantisipasi dengan baik.

Oleh karena itu, BNPB mengimbau pemerintah daerah, nelayan, serta masyarakat pesisir Pulau Morotai untuk selalu memperhatikan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Masyarakat juga diminta menunda aktivitas melaut apabila terpantau awan konvektif atau awan cumulonimbus mulai terbentuk, mengingat kondisi tersebut berpotensi memicu petir dan cuaca buruk yang membahayakan keselamatan di laut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online