Kejagung Periksa 3 Saksi dalam Kasus TPPU Febrie Adriansyah
Kejagung memeriksa tiga saksi dalam kasus dugaan TPPU Febrie Adriansyah, terdiri atas satu pihak swasta dan dua saksi perbankan.
Djadi Batik menghadirkan interpretasi unik dengan menggabungkan hanbok—busana tradisional Korea—dengan batik Indonesia. Ist
Harianjogja.com, JOGJA— Perpaduan budaya lintas negara kian menemukan ruangnya dalam industri fesyen. Di Yogyakarta, Djadi Batik menghadirkan interpretasi unik dengan menggabungkan hanbok—busana tradisional Korea—dengan batik Indonesia. Inovasi yang dirintis sejak 2019 ini berhasil menarik perhatian penggemar Korean Wave tanpa meninggalkan identitas nusantara.
Di balik Djadi Batik, terdapat sosok Usnul Djadi, kreator yang sejak lama menggemari kebudayaan Korea Selatan. Ketertarikannya bermula sejak masa sekolah, saat ia ingin mengenakan hanbok namun tetap membawa unsur Indonesia. Dari keinginan personal itulah gagasan awal lahir.
“Awalnya hanya untuk dipakai sendiri. Tapi ternyata banyak yang tertarik, terutama teman-teman di Sahabat Korea,” ujar Usnul, merujuk pada komunitas pecinta budaya Korea Selatan yang berada di bawah Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia.
Respons positif tersebut mendorong Usnul mengembangkan hanbok batik secara lebih serius melalui brand Djadi Batik. Seluruh proses kreatif hingga produksi dilakukan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan tetap mengedepankan teknik batik tradisional.
Batik Tradisional, Proses Panjang
Menurut Usnul, Djadi Batik menggunakan batik asli yang dikerjakan dengan malam panas, baik melalui teknik batik tulis, batik cap, maupun kombinasi keduanya. Proses pembuatan satu busana hanbok batik membutuhkan waktu yang bervariasi, mulai dari satu pekan hingga sekitar 30 hari, bergantung pada tingkat kerumitan motif.
“Kami menghitung kebutuhan kain bukan per meter, melainkan per lembar. Batik handmade diproduksi per lembar berukuran 1,1 meter kali 2 meter. Satu hanbok bisa membutuhkan satu hingga dua lembar,” jelasnya.
Motif yang digunakan sebagian besar merupakan motif klasik batik yang kemudian diolah dengan ciri khas Djadi Batik. Beberapa motif yang paling diminati antara lain Tegel Delapan, Tegel Semanis Kawung, dan Setenang Kawung.
Pemilihan motif, lanjut Usnul, selalu disesuaikan dengan cerita dan konsep yang diangkat. Semakin detail dan rumit teknik batiknya, semakin panjang pula waktu pengerjaan.
Menjaga Nilai Batik
Meski terus berinovasi dan memadukan berbagai kain nusantara, Djadi Batik tetap berpegang pada prinsip menjaga nilai batik. Salah satunya dengan meminimalkan pemotongan kain.
“Kami meyakini semakin batik dipotong kecil-kecil, semakin berkurang juga doa yang menyertai motifnya,” ungkap Usnul.
Selain mengadaptasi budaya Korea, Djadi Batik juga mengeksplorasi unsur budaya Tionghoa melalui koleksi bertajuk Shuangxi, yang dirilis khusus menyambut Tahun Baru Imlek. Sementara untuk menyambut Idulfitri 2026, Djadi Batik menghadirkan koleksi Kawung Melati.
“Kami menyiapkan lebih dari 10 ukuran. Jika masih belum sesuai, pelanggan juga bisa melakukan pemesanan khusus,” kata Usnul.
Pasar dan Kolaborasi
Meski menyasar segmen Korean Wave, ekspansi Djadi Batik ke Korea Selatan belum menjadi fokus utama. Hingga kini, pasar Singapura justru menjadi salah satu yang paling loyal, disusul Malaysia dan pasar domestik Indonesia.
“Kami masih memprioritaskan dalam negeri dan negara-negara tetangga,” ujarnya.
Perkembangan Djadi Batik juga didukung oleh sejumlah figur publik. Salah satunya Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Indonesia, yang kerap mengenakan koleksi Djadi Batik dalam berbagai agenda nasional maupun internasional.
Bagi Usnul, akulturasi budaya merupakan salah satu cara untuk menjaga kelestarian tradisi. “Budaya bisa tetap hidup dengan menerima perubahan zaman, tanpa meninggalkan akarnya,” katanya.
Dalam aspek distribusi, Djadi Batik menjalin kerja sama strategis dengan JNE. Usnul menilai peran ekspedisi sangat krusial bagi keberlangsungan usaha.
“Ekspedisi itu seperti kaki yang membantu kita melangkah, sekaligus teman yang saling mendukung,” ujarnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kejagung memeriksa tiga saksi dalam kasus dugaan TPPU Febrie Adriansyah, terdiri atas satu pihak swasta dan dua saksi perbankan.
KY memastikan seleksi hakim agung dan hakim ad hoc MA 2026 transparan. Publik bisa memantau proses dan memberi informasi rekam jejak calon.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan. Kereta pertama berangkat 05.05 WIB, tarif tetap Rp8.000.
PSEL Piyungan ditargetkan groundbreaking Desember 2026. Proyek senilai Rp2,5 triliun-Rp3 triliun ini mulai dibangun Januari 2027.
Polisi menyiagakan puluhan personel setelah massa membakar sejumlah kantor pemerintah di Ilaga, Puncak, Papua Tengah.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 12 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000.