Kuota Impor Daging Sapi 2026 Dipangkas, Pengusaha Wanti-wanti PHK
Pemangkasan kuota impor daging sapi 2026 dikeluhkan pengusaha karena dinilai mengancam usaha, tenaga kerja, dan berpotensi memicu PHK.
Foto ilustrasi beras. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Perum Bulog memastikan dukungan penuh terhadap program makan bergizi gratis (MBG) dengan menyiapkan beras premium Bulog yang akan disalurkan ke dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan beras prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di batalion teritorial pembangunan.
Kepastian tersebut disampaikan Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani seusai koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) terkait skema distribusi beras untuk pelaksanaan program MBG secara nasional. Bulog, kata dia, akan memastikan setiap dapur SPPG memperoleh pasokan beras sesuai standar yang ditetapkan.
“Terkait dengan MBG, kemarin kami sudah rapat juga dengan MBG [Badan Gizi Nasional] dalam hal ini. Jadi beras Bulog, beras premium Bulog nanti juga akan digunakan sebagai beras MBG untuk masing-masing dapur-dapur MBG yang di masing-masing daerah,” kata Rizal dalam konferensi pers di Bulog Business District, Jakarta Selatan, Sabtu (24/1/2026).
Selain mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis, Bulog juga mendapat mandat untuk memenuhi kebutuhan beras bagi batalion teritorial pembangunan (TP) di seluruh Indonesia. Arahan tersebut, menurut Rizal, berasal langsung dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
“Jadi kalau ada 100 batalyon TP, berarti kami akan dukung kebutuhan beras-beras batalion teritorial pembangunan di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, Bulog telah menyampaikan bahwa BGN wajib menyerap beras Bulog untuk pelaksanaan program MBG. Dalam kebijakan tersebut, Bulog menyiapkan dua alternatif kualitas beras yang dapat digunakan, yakni beras premium dan beras medium.
“Jadi sesuai dengan Inpres [Instruksi Presiden], Bulog itu menyiapkan bahan dasar, khususnya beras. Dan di Inpres itu tertuang wajib bahwa BGN untuk menyerap beras Bulog. Kami Bulog menyiapkan ada dua opsi, baik beras premium maupun beras medium,” terang Rizal saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan, Jakarta, Kamis (2/10/2025).
Rizal menegaskan keputusan penggunaan jenis beras sepenuhnya berada di tangan BGN. Namun demikian, Bulog menjamin seluruh beras yang disalurkan memenuhi standar kualitas, kebersihan, serta kelayakan konsumsi untuk masyarakat penerima manfaat program MBG.
“Kami tawarkan ke beliau [BGN], terserah dari BGN akan menggunakan beras premium atau beras medium. Namun beras yang akan kami sajikan ini betul-betul berkualitas, higienis, sehat, dan memenuhi syarat dan layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat,” ujarnya.
Apabila BGN menetapkan penggunaan beras Bulog, Rizal menyebut distribusi akan dilakukan merata hingga tingkat kabupaten dan kota, dengan penyesuaian kebutuhan masing-masing dapur SPPG sesuai kapasitas layanan yang tersedia.
“Kami dorong, sesuai dengan Inpres Bapak Presiden bahwa diharapkan MBG itu menggunakan berasnya Bulog. Dan mudah-mudahan dengan adanya ini, kami akan buat tim terpadu ini, sesuai dengan rencana ada Keppres maupun Inpres-nya itu,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Pemangkasan kuota impor daging sapi 2026 dikeluhkan pengusaha karena dinilai mengancam usaha, tenaga kerja, dan berpotensi memicu PHK.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
PT Importa Jaya Abadi (Importa) meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas pencapaian penjualan 1 juta unit lemari pakaian besi
Kasus Ebola di Kongo meningkat. Dosen UMY mengingatkan Indonesia memperkuat kewaspadaan, deteksi dini, dan sistem kesehatan menghadapi ancaman penyakit menular.