Mendikdasmen Tegaskan Ekskul Korps Kadet Tak Wajib
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan ekstrakurikuler Korps Kadet tidak wajib. Siswa bebas memilih, sedangkan pelaksanaannya diatur sekolah.
Ilustrasi cuaca ekstrem - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Gelombang panas atau heatwave melanda beberapa negara di Asia belakangan ini. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ada beberapa faktor penyebab.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengungkapkan berdasarkan laporan dari Vietnam bahwa suhu maksimum terjadi di beberapa wilayah bagian utara dan tengah yang tembus menyentuh di angka 44 derajat celcius.
"Gelombang panas juga melanda Filipina sehingga pemerintah setempat mengambil tindakan untuk meliburkan sekolah-sekolah," ujar Fachri Radjab, Rabu (8/5/2024). Berikut ini penyebab gelombang panas yang melanda beberapa negara di Asia:
Gerakan Semu Matahari Akhir April dan Awal Mei
Fachri menjelaskan gerakan semu matahari yang terjadi di akhir April dan awal Mei 2024 posisinya berada di atas lintang 10 derajat Lintang Utara dan ini bertepatan dengan wilayah-wilayah di Asia Tenggara daratan.
"Akibatnya, gerakan semu matahari tersebut membuat penyinaran matahari menjadi sangat terik dan memberikan background kondisi yang panas," ucapnya.
BACA JUGA: Santap Hidangan Hajatan, Puluhan Warga di Sleman Keracunan
Anomali Iklim El Nino 2023/2024
Fachri menyebutkan hal ini dengan disertakan analisis data historis yang memperlihatkan ketika terjadi El Nino, wilayah di Asia Tenggara daratan akan menghadapi anomali suhu hingga menyentuh di angka 2o di atas normal pada periode Maret-April-Mei.
Pengaruh Pemanasan Global
Pengaruh pemanasan global menjadi dugaan penyebab dari adanya pemanasan global sehingga menyebabkan suhu terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Faktor-faktor di atas menjadi penyebab suhu udara di wilayah Asia Tenggara menjadi sangat ekstrem pada April-Mei tahun 2024. Fachri berharap gelombang panas yang melanda di Asia ini tidak terjadi di Indonesia. "Mudah-mudahan situasi tersebut tidak terjadi di Indonesia," ujar Fachri.
Dampak ke Indonesia
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menegaskan cuaca panas yang melanda Indonesia pada akhir-akhir ini bukan disebabkan oleh gelombang panas atau heatwave.
Dia menyebutkan cuaca panas tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai gelombang panas, hal ini berdasarkan indikator statistik pengamatan suhu yang dilakukan oleh BMKG.
Dwikorita menyampaikan memang adanya gelombang panas yang tengah melanda beberapa negara di Asia. Namun, Indonesia tidak menghadapi gelombang panas tersebut.
"Memang betul, saat ini gelombang panas sedang melanda berbagai negara Asia, seperti Thailand dengan suhu maksimum mencapai 52°C. Kamboja, dengan suhu udara mencapai level tertinggi dalam 170 tahun terakhir, yaitu 43°C pada minggu ini. Namun, khusus di Indonesia yang terjadi bukanlah gelombang panas, melainkan suhu panas seperti pada umumnya," ungkap Dwikorita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Mendikdasmen Abdul Mu'ti menegaskan ekstrakurikuler Korps Kadet tidak wajib. Siswa bebas memilih, sedangkan pelaksanaannya diatur sekolah.
Sepak takraw Indonesia meraih medali perak Asian Games 2026 setelah kalah 1-2 dari Jepang di final kuadran putra.
Upah minimum PRT asing di Hong Kong naik 2,35 persen menjadi 5.220 dollar Hong Kong atau sekitar Rp11,9 juta per bulan.
Harga diesel Inggris menembus rekor hampir Rp48.300 per liter. Pemerintah menyebut pasokan tetap aman di tengah krisis energi global.
Timnas Indonesia U-17 bermain 1-1 melawan Bahrain dalam uji coba di Bahrain. Garuda Asia bersiap menghadapi Kualifikasi Piala Asia U-17 2027.
Thomas Tuchel mengungkap kondisi pemain Man City di Timnas Inggris setelah klub dinyatakan bersalah melanggar aturan finansial Premier League.