Atap Kelas MTs Muhammadiyah Ambruk di Sragen, 48 Siswa Diliburkan
Atap kelas MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan Sragen ambruk saat KBM. 48 siswa diliburkan, 6 siswa luka-luka.
Ilustrasi cuaca ekstrem - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Gelombang panas atau heatwave melanda beberapa negara di Asia belakangan ini. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) ada beberapa faktor penyebab.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengungkapkan berdasarkan laporan dari Vietnam bahwa suhu maksimum terjadi di beberapa wilayah bagian utara dan tengah yang tembus menyentuh di angka 44 derajat celcius.
"Gelombang panas juga melanda Filipina sehingga pemerintah setempat mengambil tindakan untuk meliburkan sekolah-sekolah," ujar Fachri Radjab, Rabu (8/5/2024). Berikut ini penyebab gelombang panas yang melanda beberapa negara di Asia:
Gerakan Semu Matahari Akhir April dan Awal Mei
Fachri menjelaskan gerakan semu matahari yang terjadi di akhir April dan awal Mei 2024 posisinya berada di atas lintang 10 derajat Lintang Utara dan ini bertepatan dengan wilayah-wilayah di Asia Tenggara daratan.
"Akibatnya, gerakan semu matahari tersebut membuat penyinaran matahari menjadi sangat terik dan memberikan background kondisi yang panas," ucapnya.
BACA JUGA: Santap Hidangan Hajatan, Puluhan Warga di Sleman Keracunan
Anomali Iklim El Nino 2023/2024
Fachri menyebutkan hal ini dengan disertakan analisis data historis yang memperlihatkan ketika terjadi El Nino, wilayah di Asia Tenggara daratan akan menghadapi anomali suhu hingga menyentuh di angka 2o di atas normal pada periode Maret-April-Mei.
Pengaruh Pemanasan Global
Pengaruh pemanasan global menjadi dugaan penyebab dari adanya pemanasan global sehingga menyebabkan suhu terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Faktor-faktor di atas menjadi penyebab suhu udara di wilayah Asia Tenggara menjadi sangat ekstrem pada April-Mei tahun 2024. Fachri berharap gelombang panas yang melanda di Asia ini tidak terjadi di Indonesia. "Mudah-mudahan situasi tersebut tidak terjadi di Indonesia," ujar Fachri.
Dampak ke Indonesia
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menegaskan cuaca panas yang melanda Indonesia pada akhir-akhir ini bukan disebabkan oleh gelombang panas atau heatwave.
Dia menyebutkan cuaca panas tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai gelombang panas, hal ini berdasarkan indikator statistik pengamatan suhu yang dilakukan oleh BMKG.
Dwikorita menyampaikan memang adanya gelombang panas yang tengah melanda beberapa negara di Asia. Namun, Indonesia tidak menghadapi gelombang panas tersebut.
"Memang betul, saat ini gelombang panas sedang melanda berbagai negara Asia, seperti Thailand dengan suhu maksimum mencapai 52°C. Kamboja, dengan suhu udara mencapai level tertinggi dalam 170 tahun terakhir, yaitu 43°C pada minggu ini. Namun, khusus di Indonesia yang terjadi bukanlah gelombang panas, melainkan suhu panas seperti pada umumnya," ungkap Dwikorita.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Atap kelas MTs Muhammadiyah 4 Sambungmacan Sragen ambruk saat KBM. 48 siswa diliburkan, 6 siswa luka-luka.
Wisatawan di Jogja masih terpusat di Malioboro. Dinpar Kota Jogja dorong kunjungan kampung wisata lewat Program Bule Mengajar.
Atletico Madrid menang 1-0 atas Girona di Liga Spanyol 2025/2026. Ademola Lookman mencetak gol kemenangan Los Colchoneros.
Prabowo menyerahkan alutsista TNI di Halim Perdanakusuma. Enam jet tempur Rafale jadi sorotan modernisasi TNI AU.
Alex Marquez mengalami patah tulang selangka dan retak leher usai kecelakaan hebat di MotoGP Catalunya 2026.
Jadwal pemadaman listrik Sleman hari ini berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB. Berikut daftar dusun terdampak pemeliharaan PLN.