Gelombang Penutupan BPR Berlanjut, Enam Bank Dicabut Izin
OJK cabut izin enam BPR sepanjang 2026, langkah ini dilakukan untuk lindungi nasabah dan perkuat industri perbankan.
Petani di Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo sedang menggotong hasil panen padi di musim tanam pertama. Foto diambil 24 Januari 2023./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani atau NTP pada April 2023 sebesar 110,58 atau turun 0,24 persen dibandingkan Maret 2023.
BACA JUGA: BPS Kini Deteksi Kunjungan Wisatawan
Kepala BPS Margo Yuwono menyampaikan, penurunan NTP terjadi lantaran indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,12 persen menjadi 128,64 sementara indeks harga yang harus dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 0,13 persen atau 116,33.
“Penurunan nilai tukar petani terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun sebesar 0,12 persen menjadi 128,64 sementara indeks harga yang harus dibayar petani mengalami kenaikan sebesar 0,13 persen atau 116,33,” kata Margo dalam konferensi pers, Selasa (2/5/2023).
Adapun lima komoditas yang dominan mempengaruhi indeks yang diterima petani secara nasional lantaran adanya penurunan harga pada komoditas kelapa sawit, cabai rawit, cabai merah, bawang merah, dan gabah.
Sementara itu menurut sub sektor, peningkatan NTP terjadi pada subsektor perikanan terutama pada nelayan.
“NTP perikanan naik 0,79 persen dan tertinggi pada NTP nelayan, naiknya naik 0,89 persen,” ungkapnya.
Diungkapkan Margo, NTP nelayan yang meningkat tersebut lantaran indeks yang diterima petani meningkat 0,98 persen, di mana kenaikannya lebih besar dari indeks yang harus dibayar oleh petani. Adapun kenaikan indeks yang harus dibayar petani hanya meningkat 0,09 persen.
BPS mencatat, lima komoditas yang dominan mempengaruhi indeks yang diterima petani oleh nelayan lantaran adanya kenaikan harga tongkol, cakalang, rajungan, cumi-cumi, dan kepiting laut.
Masih menurut sub sektor, penurunan NTP terjadi pada sub sektor hortikultura. NTP hortikultura dilaporkan turun 3,58 persen. Penurunan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani turun 3,41 persen, sedangkan indeks yang dibayar petani naik 0,18 persen
Komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan indeks yang diterima petani antara lain cabai rawit, cabai merah, bawang merah, kol/kubis dan juga salak, karena penurunan harga pada komoditas ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Kementerian ATR/BPN meluncurkan tiga kebijakan baru pertanahan: pengukuran terjadwal, peralihan hak terintegrasi, dan organisasi berbasis wilayah.
Desain lebih ringkas, kapasitas tinta tinggi, dan konektivitas lebih cerdas untuk mendukung kebutuhan rumah tangga hingga UMKM
Menempuh 520 km, Muhammad Riana datang ke Cherrypop untuk menyaksikan Pandai Besi. Musik membawanya pada kisah personal dan literasi.
Warga Bantul mengeluhkan data desil 6-10 yang dinilai tak sesuai kondisi ekonomi setelah PHK dan perubahan pendapatan keluarga.
DPRD DIY menyoroti hak buruh transportasi terkait UMK, lembur, BPJS Ketenagakerjaan, sanksi pemotongan gaji, dan K3.