Top 7 News Harianjogja.com Rabu 13 September 2023
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
Ilustrasi mudik - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah disebut harus memfasilitasi mudik karena mudik merupakan momentum sosial politik masyarakat indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Sosiolog UGM Derajat Sulistyo Widhyharto, S.Sos.,M.Si.
Menurutnya, meski fenomena mudik tidak hanya ada di indonesia, tapi mudik di Indonesia tidak sekedar "pulang" tapi tahun ini berbeda mudik mempunyai makna politis untuk menunjukkan hubungan harmonis masyarakat dan pemerintah saat ini.
“Mengingat tahun depan pemilu. Citra lancar harus terlihat sejak tahun ini merupakan refleksi politis untuk menunjukkan keberhasilan pengelolaan even-even besar sosial di Indonesia dan mudik termasuk dalam event besar itu,” kata Derajat dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, belum lama ini.
Upaya untuk memfasilitasi pemudik menurutnya memang harus dilakukan oleh pemerintah namun juga perlu ada upaya secara paralel harus dilakukan dalam menyiapkan kondisi Kesehatan pemudik. Selain kondisi kesehatan pemudik namun juga fasilitas infrastruktur jalan yang nyaman dan aman.
Baca juga: H+1 Lebaran Omzet Pedagang Teras Malioboro I Mulai Naik
“Kondisi jalan jalan apapun jika kondisi pemudik capek atau lelah dan kesehatan menurun resiko kecelakan akan terjadi. Saya kira perlu kampanye Kesehatan, berkendara aman, dan menyiagakan puskesmas di jalan yang dilewati pemudik,” ungkapnya.
Bagi Derajat, berkendara aman dan menjaga Kesehatan adalah hal penting bagi pemudik, karena untuk mengembalikan semangat bahwa mudik memperkuat relasi sosial dan menegaskan hubungan desa kota ataupun antar wilayah.
Soal imbauan pemerintah untuk tidak mudik menggunakan roda dua untuk kendaraan mudik menurutnya ada benarnya dikarenakan pemudik motor memang paling berisiko, sehingga pelarangan tersebut sangat beralasan.
Namun demikian, imbuhnya, dengan larangan tersebut bukan berarti tidak ada yang mudik menggunakan motor, sebab motor mewakili pemudik kelas menengah ke bawah. Apalagi pemudik belum sepenuhnya mendapat layanan angkutan umum dan fleksibilitas akses kelompok tertentu masyarakat untuk mendapatkan akses angkutan umum yang nyaman dan murah.
“Transportasi umum di daerah tujuan mudik yang berbeda kondisi sehingga tidak salah jika masih saja ada pemudik motor nekat,” tegasnya.
Namun yang tidak kalah lebih penting yang tidak bisa dihindari bagi pemudik adalah ada semangat untuk menunjukkan aktualisasi diri sebagai seorang perantau ketika kembali ke kampung halamannya. Menurutnya pemudik sebaiknya tidak memamerkan harta kekayaannya melainkan berbagi ide usaha, pengetahuan dan kegiatan produktif lainnya.
“Yang dipamerkan bukan kekayaannya tapi usaha, pengetahuan, dan berbagai kegiatan produktif,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Selamat pagi, semangat menjalani hari. Izin kirim kabar dari Bumi Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat, heritage-nya Indonesia, rumahnya start up.
FIFA memperkenalkan lagu Dai Dai dari Shakira dan Burna Boy untuk Piala Dunia 2026. Berikut sejarah anthem resmi Piala Dunia.
Bojan Hodak dikabarkan meninggalkan Persib Bandung setelah membawa Maung Bandung meraih tiga gelar Liga Indonesia beruntun.
Kesbangpol Bantul berkoordinasi terkait polemik penolakan Gereja GMS di Sewon yang dipersoalkan soal perizinan rumah ibadah.
Sebanyak 57 biksu peserta Indonesia Walk for Peace 2026 tiba di Jogja dan disambut Sri Sultan sebelum melanjutkan perjalanan ke Borobudur.
Membandingkan MacBook Neo Rp10 jutaan dengan laptop Windows. Simak kelebihan, kekurangan, dan mana yang paling pas untuk kebutuhan kuliah serta kerja Anda.