Kabur Seusai Gagal Menculik di Sukoharjo, Pelaku Tabrak 8 Orang
Pelarian pelaku penculikan di Sukoharjo berujung tabrak lari delapan korban hingga Solo. Tiga pelaku ditangkap di lokasi berbeda.
Ilustrasi PDI-P/Antara
Harianjogja.com, SOLO - Polemik di internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) soal bakal calon presiden yang akan diusung pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 belakangan menjadi sorotan publik.
Polemik itu menguat setelah Ketua DPD PDI-P Jawa Tengah Bambang Wuryanto mengeluarkan pernyataan yang menyebut pendukung Ganjar Pranowo bukan barisan banteng tapi celeng. Hal itu karena barisan pendukung Ganjar yang merupakan kader dari PDI-P tersebut dianggap tidak taat dengan instruksi partai.
Menanggapi polemik di internal PDI-P tersebut, Pengamat politik UNS Solo, Agus Riewanto, menilai hanya settingan. Tujuannya tak lain adalah untuk menaikkan popularitas dan elektabilitas Ganjar Pranowo dan PDI-P.
“Menurut saya dinamika PDIP yang berkonflik antara orang yang pro Ganjar Pranowo dengan yang tidak, hemat saya itu hanya bagian dari upaya untuk menaikkan popularitas Ganjar saja sebenarnya,” tuturnya dikutip dari Solopos.com, Jumat (15/10/2021).
Dosen Hukum Tata Negara UNS Solo tersebut meyakini konflik yang sejauh ini melibatkan sosok Ganjar Pranowo, FX Hadi Rudyatmo, dan Bambang Pacul Wuryanto, sebenarnya tak ada.
“Saya mempercayai itu tidak ada konflik. Mereka tak ada masalah,” urainya.
Menurut Agus, di dunia politik cara seperti itu sah-sah saja dilakukan partai politik untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas. Dengan memunculkan konflik di internal PDIP, seperti banteng vs celeng, secara otomatis mereka menjadi perbincangan publik hingga cukup lama.
“PDIP sudah memulai hal itu. Ya sah-sah saja dalam rangka untuk mencari kekinian publik kan. Siapa sih capres yang layak digadang-gadang mereka. Jadi tidak ada masalah di PDIP sebenarnya. Tidak ada friksi, hanya untuk menaikkan popularitas saja,” sambungnya.
Selain untuk menaikkan popularitas Ganjar, menurut Agus, dengan memunculkan friksi di internal partai akan ikut mengangkat nama PDIP. Poinnya bagaimana menyampaikan pesan kepada publik bahwa tidak mudah untuk menjadi capres dari partai itu.
“Capres PDIP itu akan dikelola sedemikian rupa supaya kesannya menjadi mahal. Jadi parpol tidak boleh hanya dimonopoli seorang Ganjar. Makanya Ganjar itu dianiaya, dikecilkan, direndahkan, itu juga untuk menaikkan daya tawar [bargaining] PDIP,” katanya.
Dengan seperti itu, Agus menerangkan para kader partai juga akan menjadi lebih loyal dan tunduk dengan PDIP.
“Kebayang enggak kalau dalam posisi sekarang PDIP menyerah, oh iya saya terima kamu capres kami. Kan lucu bila begitu bagi partai,” imbuhnya.
Semakin lama PDIP menentukan figur capres-cawapresnya, menurut Agus, juga menyiratkan pesan partai itu tidak mau didikte pihak luar. Ada misi untuk menegaskan kepada publik bahwa dalam hierarki politik, yang paling tinggi posisinya adalah parpol.
“Capres itu dicalonkan parpol, masa parpol didikte oleh calon, kan lucu. Apa yang terjadi di PDIP itu dalam rangka menegakkan marwah parpol. Saya kira parpol lain juga harus berpikir seperti PDIP. Tapi belum tentu Ganjar akan menjadi capres PDIP ya,” urainya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Pendaftaran bakal calon lurah di 31 kalurahan Gunungkidul dibuka 13-23 Juli 2026. Panitia diminta cermat untuk mencegah sengketa pemilihan.
BMKG menyebut gempa M5,5 di Laut Maluku dipicu subduksi lempeng. Gempa tidak berpotensi tsunami dan belum diikuti gempa susulan.
Presiden Prabowo dan PM India Narendra Modi dijadwalkan mengunjungi Candi Prambanan pada 8 Juli 2026. Pengamanan diperketat, operasional wisata disesuaikan.
Pekerja PLTSa Putri Cempo Solo mengalami kecelakaan kerja hingga tangannya masuk mesin. Korban telah menjalani operasi dan kini dalam pemulihan.
Restorasi Candi Prambanan dinilai akan memperkuat daya tarik pariwisata DIY meski berpotensi memengaruhi pola kunjungan sementara.