Aksinya Marah-Marah soal Paytren Diparodikan Netizen, Yusuf Mansur Buka Suara
Yusuf Mansur akhirnya merespons salah satu video parodi yang menyindirnya soal kasus Paytren. Berikut video dan tanggapannya.
Ilustrasi wanita alami gejala Covid-19/Freepik.com
Harianjogja.com, JAKARTA - Tak hanya mengalami long Covid-19, para penyintas juga berisiko mengalami penurunan fungsi otak yang dikenal dengan sebutan brain fog alias “kabut otak”.
Dalam sebuah studi yang dimuat pada Journal of the Neurological Sciences, sebagian besar partisipan yang pernah dirawat di RS akibat Covid-19 mengaku mengalami gangguan kognitif yang cukup parah setelah sembuh.
Tidak sedikit dari mereka yang mengalami kesulitan saat harus kembali bekerja dengan normal. Parahnya, gangguan tersebut berlangsung setidaknya selama 6 bulan.
Lalu, bagaimana bisa penyakit ini juga memengaruhi fungsi otak penderitanya? Berikut kemungkinannya.
1. Memicu peradangan otak
Kemungkinan yang pertama adalah infeksi virus SARS-CoV-2 menyebabkan inflamasi atau peradangan pada otak (ensefalitis).
Beberapa pasien Covid-19 dilaporkan menderita radang otak yang menyebabkan gejala-gejala, seperti kebingungan dan penglihatan ganda. Dalam kasus yang lebih serius, ensefalitis akibat Covid-19 juga bisa menyebabkan gangguan penglihatan, bicara, serta mendengar.
Kendati begitu, belum diketahui secara pasti bagaimana infeksi Covid-19 bisa memicu peradangan pada otak. Muncul dugaan bahwa peradangan tersebut disebabkan oleh antibodi tubuh yang berbalik menyerang tubuh sendiri.
Ada juga dugaan kuat bahwa infeksi Covid-19 memengaruhi kemampuan memecahkan masalah serta mengingat, seperti gejala pada pasien alzheimer. Hal itu diungkapkan lewat sebuah studi dari jurnal Nature. Studi tersebut meneliti jaringan otak pada 8 pasien yang meninggal karena Covid-19.
Hasilnya, terjadi inflamasi atau peradangan parah, serta perubahan molekul pada korteks serebral, yaitu bagian otak yang berperan dalam pemecahan masalah dan daya ingat manusia.
2. Kekurangan oksigen berpengaruh pada otak
Ada kemungkinan pula bahwa kerusakan otak yang terjadi dipicu oleh kekurangan oksigen akibat gangguan pernapasan, serta kerusakan paru-paru saat terinfeksi Covid-19.
Turunnya kadar oksigen dalam tubuh (hipoksia) termasuk salah satu gejala berat Covid-19 yang umum terjadi. Infeksi yang parah mengakibatkan paru-paru tidak mampu menyebarkan oksigen ke dalam darah dengan baik.
Kurangnya asupan oksigen inilah yang kemudian bisa memicu penurunan fungsi otak, sehingga berdampak pada tingkat kecerdasan penyintas Covid-19.
Walaupun sudah ada banyak studi yang menunjukkan adanya pengaruh Covid-19 terhadap fungsi otak, masih belum diketahui secara jelas apa penyebab dan cara virus dalam merusak otak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Solopos.com
Yusuf Mansur akhirnya merespons salah satu video parodi yang menyindirnya soal kasus Paytren. Berikut video dan tanggapannya.
X resmi membatasi akun gratis dengan kuota posting, balasan, dan DM harian yang jauh lebih ketat dibanding sebelumnya.
Kemendikdasmen menyiapkan perubahan TKA SD dan SMP, termasuk penyederhanaan ujian serta penambahan mapel IPA dan Bahasa Inggris.
Tumpukan sampah memenuhi DAM Winongo di Bantul usai hujan deras di hulu Sleman dan sempat menghambat irigasi sawah warga.
Tur reuni Oasis membuat kekayaan Noel dan Liam Gallagher melonjak hingga Rp7,6 triliun dan masuk daftar musisi terkaya Inggris.
Aturan terbaru PPPK mengubah skema karier ASN kontrak, mulai dari pensiun, kenaikan gaji berkala, hingga peluang jabatan tinggi.