Pemudik yang Nekat ke Boyolali Bakal Dikarantina di Rumah Angker

M Faisal Nur Ikhsan
M Faisal Nur Ikhsan Rabu, 05 Mei 2021 23:27 WIB
Pemudik yang Nekat ke Boyolali Bakal Dikarantina di Rumah Angker

Anggota Satuan Tugas Jogo Tonggo saat memantau rumah karantina untuk warga yang nekat mudik di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Kamis (29/4/2021)./Antara

Harianjogja.com, BOYOLALI –Pemerintah Kabupaten Boyolali akan mengarantina pemudik yang pulang kampung ke kabupaten tersebut di lokasi angker.

Bupati Boyolali, M. Said Hidayat menegaskan agar perangkat desa seperti RT dan RW untuk ikut menghalau pemudik dari luar daerah. Tujuannya, untuk memutus rantai penularan virus corona di masa pandemi.

“Bukan berarti keluarga atau pemerintah ini menolak untuk kedatangan saudara-saudaranya, tetapi di tengah-tengah situasi pandemi ini, akan jauh lebih baik terbangun kesadaran dari ruang lingkup masyarakat untuk membantu pemerintah mengkomunikasikan,” jelas Said baru-baru ini.

Kendati begitu, Said menuturkan bahwa pihaknya tidak akan melakukan penjemputan paksa atau karantina bagi pemudik yang sudah terlanjur pulang. Namun, pihaknya akan melakukan karantina bagi pemudik.

“Tidak perlu sekeras itu, yang terpenting dalam waktu yang masih agak lama ini dapat membangun kesadaran masyarakat untuk mengikuti saran dari Pemerintah Pusat untuk tidak melaksanakan mudik dulu di lebaran tahun ini,” jelasnya.

Namun, bila ada masyarakat yang mudik, maka pemerintah akan melakukan cara unik, seperti yang dilakukan di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ampel. Di wilayah tersebut, warga perantauan yang kedapatan pulang kampung bakal dikarantina di lokasi khusus.

Bukan sembarang lokasi, masyarakat telah menyiapkan sebuah ruangan kosong di kawasan sendang desa yang terletak di Dukuh PIji. Meskipun ruangan tersebut layak untuk digunakan, namun masyarakat setempat meyakini kalau lokasi tersebut merupakan tempat yang angker.

Mohammad Sawali, Kepala Desa Sidomulyo, menjelaskan bahwa langkah tersebut dilakukan untuk mengevaluasi kejadian di Lebaran tahun lalu. Pasalnya, warga desanya merupakan pasien pertama yang terkonfirmasi Covid-19 di Kecamatan Ampel.

“Di situlah muncul pelajaran yang sangat berharga untuk kita. Sehingga kita lebih giat untuk mengantisipasi biar sesuatu yang berakibat fatal itu tidak kembali datang,” jelasnya.

Sawali berharap agar para perantau di luar daerah dapat mengurungkan niatnya untuk mudik saat libur Lebaran nanti. Terlebih dengan ancaman karantina di tempat angker tersebut. “Toh silaturahmi sekarang kan bisa melalui video call dan lain sebagainya,” tambahnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Solopos

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online