Brasil Kini Negara Kedua Terbesar Kasus Corona
Brasil mengalahkan India sebagai negara dengan jumlah kasus virus Corona tertinggi kedua di dunia.
Ilustrasi work from home/istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA- Selama hampir setahun, masyarakat telah terkurung di antara dinding rumah kita, terlibat dalam obrolan-obrolan pekerjaan lewat telepon, rapat online, dan acara kantor lainnya yang dikerjakan secara virtual. Kita mengenalnya dengan sistem work from home (WFH).
Meskipun vaksinasi telah dilakukan di banyak negara dan memungkinkan orang kembali untuk beraktivitas normal, apakah hal itu membuat para pekerja siap untuk kembali bekerja di kantor?
BACA JUGA : Perkantoran di DIY Bersiap WFH 50%
Melandir dari India Times, media tersebut melakukan jajak pendapat, 1.000 orang berpartisipasi dan mengungkapkan pendapat mereka untuk bekerja di kantor lagi dan hasilnya cukup mengejutkan.
Hasil menunjukkan bahwa 53,4% responden bersedia terus bekerja di rumah dan 46,6% orang yang tidak sabar untuk melanjutkan pekerjaan mereka di kantor.
Salah satu responden yang nyaman dengan sistem WFH mengatakan bahwa dia sangat lega bekerja dari rumah, karena dia dapat mengurus anak-anaknya dan bekerja dengan nyaman di rumahnya, terutama tempat tidurnya.
Di sisi lain, responden yang memilih untuk ingin segera kembali ke kantor mengungkapkan bahwa kebisingan dan kekacauan yang biasa terjadi di rumah membuat sangat sulit berkonsentrasi dengan pekerjaan.
BACA JUGA : Klaster Perkantoran Bermunculan, Pemda DIY Tak Mau
Banyaknya responden yang mengungkapkan pertimbangan mereka terhadap kedua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem kerja WFH mungkin akan tetap ada. Dengan kemajuan teknologi, sangat kecil kemungkinan produktivitas para pekerja WFH menjadi menurun.
Namun, ada juga kemungkinan model kerja hybrid di masa mendatang yang menunjukkan rutinitas kerja yang fleksibel di mana karyawan dapat membagikan hari kerja mereka di kantor dan rumah. Langkah ini juga sejalan dengan implikasi pandemi covid-19 yang berfokus pada pembatasan sosial sebagai norma baru di masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Harga rumah sekunder tetap naik di 11 kota meski rupiah melemah. Surakarta mencatat lonjakan tertinggi hingga 23,5%.
BPJS Ketenagakerjaan dan Kejati DIY memperkuat kerja sama hukum. Iuran pekerja Rp13,7 miliar berhasil dipulihkan hingga 2026.
Penipuan reservasi hotel di Jogja kembali marak lewat nomor palsu di Google Maps. PHRI DIY imbau wisatawan lebih waspada.
Archipelago Hotels hadirkan Korean Street Food Festival di Jogja. Sajikan kuliner autentik hingga live cooking interaktif.
Penumpang kereta api melonjak saat long weekend. KAI mencatat 685 ribu tiket terjual, dengan Jogja jadi salah satu tujuan favorit.