Prakiraan Cuaca BMKG Minggu, Hujan Ringan hingga Udara Kabur Melanda Sejumlah Kota
BMKG memprakirakan hujan ringan di sejumlah kota pada Minggu. Yogyakarta diprakirakan mengalami udara kabur.
Rocky Gerung dan Neno Warisman. /Ist- YouTube Neno Warisman channel
Harianjogja.com, JAKARTA- Pengamat politik Rocky Gerung mengungkapkan dirinya pernah mengajar di pesantren milik terpidana kasus terorisme, Abu Bakar Ba\'asyir.
Rupanya ia memiliki pengalaman tak terlupakan saat mengisi kuliah di tempat tersebut. Pengalaman itu pun mengungkap sisi lain Rocky Gerung.
Melalui kanal YouTube Neno Warisman, ia menceritakan masa lalunya, di mana ia pernah mengisi kuliah di pesantren milik Abu Bakar Ba\'asyir, terpidana kasus terorisme.
Baca juga: Pengemudi Sedan Penabrak Gerbang Masjidil Haram Akhirnya Ditangkap Polisi
Menurut Rocky, ketika dirinya berkunjung ke Pondok Pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo, Jawa Tengah untuk mengisi kuliah, tidak ada nuansa radikalisme seperti kesan yang selama ini digembar-gemborkan.
Rocky mengaku, dirinya berdiksusi secara terbuka tentang Islam dan Pancasila dengan para santri di sana.
"Saya sudah beri banyak kuliah di beberapa universitas Islam dan pesantren untuk bicara soal ini. Saya bahkan masuk ke pesantren Abu Bakar Ba\'asyir Ngruki, yang dianggap sebagai sarang radikalisme. Enggak. Saya diterima di situ dan kita berdiskusi dengan akal sehat," kata Rocky dalam tayangan YouTube Neno Warisman Channel, Sabtu (31/10/2020).
Baca juga: Kecam Presiden Prancis, Jokowi: Melukai Perasaan Umat Islam
Keterlibatan Rocky dengan umat Islam ternyata tak cukup sampai di situ. Pria kelahiran Manado ini juga punya pandangan tersendiri soal ketidakadilan yang dialami orang Islam.
"Saya merasakan ketidakadilan terhadap orang Islam, karena seolah-olah ada kontras antara Pancasila dan Islam, dan itu berbahaya sebetulnya," terang Rocky.
Yang membuat Rocky menganggap ada ketidakadilan bagi umat Islam dalam bernegara, salah satunya, adalah ketika aksi 212 pecah.
"Dimulai dari 212 itu yang begitu berniat untuk menuntut ketidakadilan, tapi bahkan diberitakan pun tidak kan?" kata dia. "Jadi kalau dibilang saya pro 212, enggak, saya bukan pro 212. Saya pro hak rakyat untuk tahu apa itu 212."
Pria 61 tahun itu lantas mengungkit sejarah terciptanya Pancasila, yang tak lepas dari peran umat Islam.
Baca juga: Soal Larangan Ucapan Natal, SETARA Institute: Konservatisme Menguat di Kauman Jogja
"Saya mau ingatkan bahwa sejarah republik ini berbasis pada moslem politics. Kan Pancasila itu 22 Juni ada Piagam Jakarta yang bunyi sila pertamanya Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya," terang Rocky.
"Lalu karena kelegaan hati moslem society yang mayoritas, mereka bahkan mau menunda atau bahkan menghapus 7 kalimat terakhir hingga menyisakan Ketuhanan Yang Maha Esa itu," lanjutnya.
Ia menilai, itu merupakan bentuk perjuangan kemerdekaan yang dicontohkan oleh politik identitas muslim.
"Mau mulai politik identitas muslim, politik Pancasila, politik liberal, yang penting pemerintah jangan lakukan diskriminasi," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara.com
BMKG memprakirakan hujan ringan di sejumlah kota pada Minggu. Yogyakarta diprakirakan mengalami udara kabur.
Kaspersky menemukan situs palsu yang menawarkan iPhone 18 dengan harga fiktif. Pengguna diminta waspada sebelum memasukkan data pribadi.
Ratusan peserta membersihkan Pantai Baru Bantul. Gerindra mendorong kebersihan menjadi budaya untuk mendukung pariwisata dan ekonomi hijau.
Asah Kreativitas Anak Sejak Dini, Alfamart dan Johnson’s Gelar Lomba Mewarnai di Graha Bung Karno Klaten
Polres Wonosobo menggelar patroli skala besar pada malam libur untuk mengantisipasi balap liar dan berbagai potensi gangguan kamtibmas.
Penempatan manajer KopDes Merah Putih mempertimbangkan kesiapan titik, kuota, kapasitas wilayah, domisili, dan kebutuhan nasional.