Hari Penting 3 Agustus, Ada Sindrom Cloves hingga Kasus Korupsi Soeharto
Tanggal 3 Agustus adalah hari memperingati sindrom cengkih atau cloves di dunia. Sindrom ini biasanya muncul saat sejak lahir.
Tes swab untuk memeriksa virus corona (Covid-19) di rongga hidung./istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA -Rapid test yang kini banyak digencarkan oleh pemerintah punya akurasi rendah untuk mendeteksi Covd-19.
Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik meminta penghentian tes rapid sebagai syarat melakukan perjalanan dan mengganti menjadi tes cepat molekuler PCR dengan sampel swab.
Akhir-akhir ini, penyedia akomodasi perjalanan dalam negeri, baik transportasi darat, kereta api, laut dan udara memberikan syarat dokumen kelengkapan rapid tes untuk melakukan perjalanan. Namun hal ini ditentang oleh dokter patologi.
BACA JUGA: 3 PDP Covid-19 di DIY Meninggal Tanpa Penyakit Penyerta! Termasuk Bayi 8 Bulan
"Kami dari Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLin) ingin menyampaikan tanggapan," tulis Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Aryati dalam secarik surat, Minggu (12/7/2020).
Berikut tanggapan dari PDS PatKLin:
- Pemeriksaan PCR virus SARS-CoV-2 dengan hasil negatif maupun rapid tes antibodi SARS-COV-2 dengan hasil non reaktif tidak dapat menjamin seseorang tidak terpapar virus corona, sehingga tidak dapat dinyatakan bebas dari virus SARS-CoV-2.
- Sebab, dalam pemeriksaan rapid tes masih bisa didapati hasil negatif palsu. Dengan demikian, waktu yang dibutuhkan sejak pengambilan swab hingga hasil PCR selesai masih bervariasi mulai dari 2 hari hingga 3 minggu. Ini menyulitkan calon penumpang.
- Adapun pemeriksaan rapid tes memiliki sensitivitas dan spesifikasi yang tidak tinggi, sehingga muncul kemungkinan negatif palsu maupun positif palsu yang dampaknya berbahaya dan merugikan.

Dalam pemberitaan Bisnis sebelumnya, epidemiolog Universitas UI Pandu Riono menyerukan agar cara Rapid Test Antibodi distop karena disalahgunakan.
Dia menyatakan Pemerintah harus melindungi publik dari layanan rapid test. Lebih lanjut Pandu menyatakan jika Rapid Test Antibodi tidak mendeteksi orang dengan virus Covid-19.
"Ini bukan metode yang dianjurkan untuk skrining. Juga buka prasyarat penting lakukan perjalanan dan kegiatan lain," tegasnya dikutip dari akun twitternya.
Dia juga menjabarkan jika rapid test tidak membantu surveilans Tes-Lacak-Isolasi yg bertujuan putus rantai penularan. Karena itu dia menyatakan setop penggunaannya.
Dikutip dari alodokter.com, rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus Corona. Antibodi ini akan dibentuk oleh tubuh bila ada paparan virus Corona.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Tanggal 3 Agustus adalah hari memperingati sindrom cengkih atau cloves di dunia. Sindrom ini biasanya muncul saat sejak lahir.
Puan Maharani menyebut kehadiran Prabowo di DPR untuk menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 menjadi momentum strategis nasional
BPA Fair Kejaksaan Agung menjual Harley Davidson, BMW, hingga Mercedes hasil rampasan korupsi dengan kenaikan lelang Rp1,65 miliar.
Kemhan siapkan Bandara Kertajati menjadi pusat MRO pesawat Hercules Asia untuk memperkuat industri pertahanan Indonesia
Prabowo ungkap alasan turun langsung menyampaikan KEM-PPKF RAPBN 2027 di DPR di tengah tantangan geopolitik dan ekonomi global.
Menlu Sugiono memastikan Indonesia terus berkoordinasi untuk menyelamatkan 9 WNI peserta flotilla kemanusiaan Gaza yang ditangkap Israel.