Ini Mobil Rp70 Juta yang Akan Diproduksi untuk Warga Perdesaan Tahun Depan

Mobil Rp70 juta dipamerkan di Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten, Kamis (2/8/2018). - Antara/Muhammad Iqbal
03 Agustus 2018 10:25 WIB Yudi Supriyanto, Siti Munawaroh, & Danang Nur Ihsan News Share :

Harianjogja.com, TANGERANG—Mobil perdesaan atau dikenal dengan sebutan Alat Mekanis Multiguna Pedesaan (Ammdes) diluncurkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis (2/8).

Mobil dengan merek KMW buatan PT Kiat Mahesa Wintor Indonesia (KMWI) itu dibuat di dua pabrik yaitu di Klaten dan Bekasi. Peluncuran mobil perdesaan ini bersamaan dengan pembukaan Pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten.

Jokowi menyebut Ammdes sebagai bentuk inovasi dari dunia usaha yang berangkat dari kebutuhan masyarakat perdesaan.

“Ini satu jenis, tetapi kaitan dengan industri hulunya sangat banyak. Dilaporkan lebih dari 70 industri komponen dalam negeri siap jadi pemasok komponen Ammdes,” ujar Jokowi.

Setelah resmi membuka GIIAS 2018, Jokowi langsung berkunjung ke booth mobil perdesaan didampingi Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Ketua Gaikindo Yohannes Nangoi, dan pemilik Kiat Motor, Sukiyat. Selain melihat mobil yang bakal diperuntukkan mengangkut penumpang dan alat pertanian, Presiden juga duduk dan merasakan kabin di dalam mobil tersebut. “Kalau duduk merasa nyaman sekali,” ucap Jokowi saat mencoba duduk di bangku penumpang mobil perdesaan.

PT KMWI yang memproduksi mobil perdesaan itu merupakan perusahaan hasil joint venture dari anak usaha PT Astra Autoparts Tbk. yaitu PT Velasto Indonesia dan PT Kiat Inovasi Indonesia. Sukiyat telah memperkenalkan prototipe mobil perdesaan itu sejak 2017. Bahkan, pada September tahun lalu, Jokowi mendatangi pabrik mobil perdesaan Kiat Motor di Klaten. Kala itu, harga mobil perdesaan disebutkan akan berkisar Rp65 juta-Rp70 juta. Kiat Motor kemudian menjalin kerja sama dengan PT Velasto Indonesia untuk memproduksi mobil perdesaan pada Maret lalu.

Saat peluncuran itu, Jokowi juga ditanya mengenai nasib mobil Esemka. Dia menyebut saat ini persaingan otomotif sangat ketat.

“Esemka sudah diambil alih industri, kalau memang nanti pabrik Esemka sudah selesai dan bisa memproduksi, ya silakan, karena itu memang kewajiban pemerintah untuk terus mendorong agar industri otomotif berkembang,” kata Jokowi.

Sukiyat yang dulu juga menjadi salah satu pelopor Esemka menyebut tidak lagi menangani Esemka. Kiyat yang kini menjadi Komisaris PT KMWI fokus mengembangkan mobil perdesaan.

Presiden Direktur PT KMWI Reiza Treistanto mengatakan perusahaan melakukan investasi secara bertahap untuk pengembangan dan produksi mobil perdesaan sesuai dengan permintaan atau serapan pasar.

“Investasi kami lakukan bertahap. Kemungkinan sampai Rp200 miliar, nanti akan kami evaluasi lagi,” kata Reiza.

Tahun Depan

KMWI berencana memproduksi massal mobil perdesaan pada awal 2019. Pada tahun ini perusahaan telah memulai produksi mobil itu tetapi lebih ditujukan untuk uji coba. Produk uji coba tersebut disebar ke desa-desa guna mengetahui aspirasi dan kebutuhan masyarakat desa.

KMWI memiliki fasilitas produksi di Klaten dan fasilitas sementara di Cikarang, Bekasi dan rencananya dipindahkan ke Citereup, Kabupaten Bogor.

“Kapasitas terpasang sekitar 3.000-6000 unit per tahun. Namun mesin produksi sudah kami buat sendiri secara lokal. Jadi ketika kebutuhan atau permintaan ternyata lebih besar dari kapasitas terpasang, kami dapat meningkatkan dengan cepat,” papar Reiza.

Hadir dalam tujuh tipe, mobil perdesaan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sekitar 70%. Reiza mengakui sebanyak 71 supplier komponen lokal yang merupakan vendor langsung dari perusahaan terlibat dalam produksi Ammdes. Angka tersebut diyakini terus meningkat seiring prinsip multisourcing yang dijalankan KMWI.

Beberapa tipe yang akan dipasarkan adalah mobil bak dan dump truck ringan yang dilengkapi penggerak hidrolik, mobil penumpang biasa, kendaraan flat deck alias bak rata, pikap, hingga kendaraan yang bisa diintegrasikan dengan alat pertanian seperti mesin giling padi.

KMW dilengkapi dengan dua opsi penggerak yakni mesin berbahan bakar diesel dan bensin. Pada tahap awal mobil perdesaan akan menggunakan mesin diesel dengan kapasitas silindernya 550 cc.

Menurut Plant & Engineering Division Head KMWI, Muhammad Yasin, mobil ini diperuntukkan daerah perdesaan maka kapasitas dan fungsinya lebih luas dibandingkan model kendaraan Wintor—salah satu produk Astra International.

Yasin mengakui mobil perdesaan ini dimensinya lebih kecil dari mobil penumpang. Meski demikian, soal kehebatannya KMW tak perlu diragukan. Mobil tersebut diuji dengan muatan penuh hingga 700 kg dengan sudut kemiringan 20-30 derajat. Namun, demi alasan keselamatan sebaiknya tidak melebihi 20 derajat. Mobil tersebut juga dapat dimodifikasi dengan ban tipe segitiga atau low pressure ground tire untuk melewati jalanan berlumpur.

Pacu Perekonomian

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo mengatakan komitmennya untuk menyerap mobil perdesaan guna memacu roda perekonomian di wilayah perdesaan. “Jumlahnya berapa? Kami akan lihat dan sesuaikan dengan kemampuan industri. Namun, inovasi ini memang dapat memacu produktivitas pertanian di desa,” kata Eko Putro.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan di tahap awal mobil perdesaan akan diproduksi sebanyak 3.000 unit dan mulai tahun depan bisa diproduksi sebanyak 15.000 unit per tahun.

Di hadapan Jokowi, Airlangga yang disebut-sebut masuk kandidat calon wakil presiden Jokowi mengemukakan mobil perdesaan akan memacu roda perekonomian wilayah pedesaan di seluruh wilayah Indonesia. Airlangga menjelaskan perizinan-perizinan yang dibutuhkan terkait dengan mobil perdesaan sekarang berada di Kementerian Perhubungan dan ditargetkan keluar pada November 2018.

Bahkan, menurut Airlangga, Ammdes dilengkapi dengan spesifikasi teknis khusus agar dapat mengakses daerah-daerah yang selama ini pembangunan infrastrukturnya tertinggal. Dengan akses yang lebih bagus akan menstimulus kegiatan ekonomi di wilayah tersebut sehingga mengurangi ketimpangan antara desa dan kota.

Sumber : JIBI/Bsnis Indonesia/Solopos