Advertisement
Penangkapan Maduro Jadi Alarm Ketahanan Nasional Negara Berkembang
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menjadi alarm bagi negara berkembang soal pentingnya ketahanan informasi, siber, dan sistem peringatan dini. - Instagram.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat menjadi peringatan keras bagi negara berkembang bahwa ketahanan nasional tidak lagi cukup bertumpu pada kekuatan militer semata, melainkan harus diperkuat oleh ketahanan informasi, siber, dan sistem peringatan dini.
Direktur Pascasarjana Hubungan Internasional Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam menilai operasi militer yang melibatkan pasukan elite Delta Force tersebut menegaskan pentingnya konsep tactical surprise sebagai instrumen kunci dalam perang modern yang bersifat cepat, presisi, dan multidomain.
Advertisement
Menurut Umam, tactical surprise bukan sekadar serangan mendadak, tetapi hasil perencanaan panjang yang memadukan keunggulan intelijen, penguasaan udara, operasi siber, serta pemilihan waktu dan lokasi yang tidak terduga lawan. Kejutan semacam ini mampu melumpuhkan sistem pertahanan negara sebelum respons dapat dibangun.
Ia menjelaskan operasi dini hari itu diduga disertai gangguan siber yang mematikan listrik dan komunikasi di Caracas, sehingga aparat keamanan kehilangan koordinasi. Dalam kondisi tersebut, kecepatan menjadi faktor penentu karena seluruh rangkaian operasi diselesaikan dalam waktu singkat, menutup ruang pengambilan keputusan pihak lawan.
BACA JUGA
Dominasi udara Amerika Serikat juga dinilai berperan besar dengan melumpuhkan sistem pertahanan Venezuela sejak awal, memungkinkan pasukan darat bergerak tanpa hambatan berarti dan menangkap target utama sebelum mencapai ruang aman.
Umam menuturkan keberhasilan operasi tersebut tidak ditentukan semata oleh superioritas persenjataan, melainkan oleh kemampuan menciptakan kejutan taktis yang terencana, sistematis, dan terintegrasi lintas darat, udara, siber, serta intelijen.
Ia menjelaskan operasi dini hari itu dilakukan tanpa peringatan, memanfaatkan kegelapan dan kondisi cuaca, serta diduga disertai gangguan siber yang melumpuhkan listrik dan komunikasi di Caracas, ibu kota Venezuela, sehingga aparat keamanan kehilangan koordinasi dan kendali situasi.
"Mematikan komunikasi sama artinya dengan mematikan kemampuan negara untuk merespons," katanya, Minggu (11/1/2026).
Lebih lanjut, Umam mengatakan faktor kecepatan menjadi penentu utama. Dalam waktu kurang dari tiga jam, operasi dinyatakan selesai, menutup ruang bagi lawan untuk berpikir maupun mengoordinasikan pertahanan.
Meski tampak mendadak, ia menegaskan kejutan tersebut merupakan hasil perencanaan jangka panjang yang didukung intelijen berbulan-bulan, pengawasan pergerakan target, serta latihan berbasis replika lokasi.
Amerika Serikat juga menunjukkan dominasi udara dengan mengerahkan banyak pesawat, termasuk aset siluman, serta melumpuhkan sistem pertahanan udara Venezuela dalam waktu singkat, sehingga operasi darat berlangsung nyaris tanpa hambatan.
Pasukan Delta Force kemudian melakukan penyerbuan presisi dan menangkap Maduro sebelum mencapai ruang aman, menandai puncak tactical surprise ketika target dikuasai lebih cepat dari kemampuan negara melindunginya.
Dalam pandangan Umam, operasi tersebut menegaskan bahwa negara yang gagal membangun kesiapsiagaan lintas domain akan selalu rentan terhadap kejutan strategis dalam sistem internasional yang anarkis.
Pada 3 Januari, Amerika Serikat melancarkan serangan besar ke Venezuela dan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro serta istrinya, Cilia Flores, untuk dibawa ke New York.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Maduro dan Flores akan diadili atas dugaan keterlibatan dalam narko-terorisme dan dianggap sebagai ancaman, termasuk bagi AS.
Kasus penangkapan Maduro menegaskan bahwa di tengah dinamika geopolitik global, negara berkembang perlu membangun ketahanan nasional yang menyeluruh—mencakup militer, siber, dan informasi—agar tidak rentan terhadap kejutan strategis kekuatan besar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja
Advertisement
Berita Populer
- Pemerintah Buka Peluang untuk Subsidi Motor Listrik Lagi
- Jadwal KRL Jogja-Solo 13 April 2026, Berangkat dari Tugu ke Palur
- Tolouse vs LOSC Skor 0-4, Verdonk Tampil Singkat
- Alumni UNS Kumpul Bangun Jejaring dan Kolaborasi Strategis
- Besok Prabowo Bertemu Putin di Moskow, Bahas Energi dan Global
- Forum UMKM Kulonprogo Dibentuk, Fokus Digitalisasi dan Kolaborasi
- 24 Atlet FISI DIY Siap Berlaga di Kejurnas 2026, Target Raih Dua Besar
Advertisement
Advertisement








