Menkeu Purbaya Diminta Selamatkan Industri Tekstil
Ketua APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan perhatian Purbaya terhadap praktik kuota impor ilegal menjadi harapan baru bagi industri tekstil.
Warga ikut dalam uji coba publik pengoperasian Mass Rapid Transit (MRT) koridor Bundaran HI - Lebak Bulus di Jakarta, Jumat (22/3/2019)./Bisnis-Felix Jody Kinarwan
Harianjogja.com, JAKARTA – Sejumlah operator seluler masih mempertimbangkan memasang perangkat di jalur Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta.
Alasannya, terjadi gap antara harga sewa perangkat pasif yang diminta oleh operator seluler dengan PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG) Tbk. sebagai mitra strategis penyedia konektivitias seluler dan jaringan internet nirkabel/wifi di kawasan operasional MRT fase I.
Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Ririek Adriansyah mengatakan penyebab operator seluler enggan memasang perangkat di jalur MRT saat ini dikarenakan adanya gap harga yang diminta oleh operator dengan Tower Bersama.
“Dari sisi operator seluler MRT ini tidak atau sedikit menambah trafik baru untuk voice dan data, karena pada dasarnya hanya menambahkan trafik yang ada dari jalur lain ke jalur MRT,” kata Ririek kepada Bisnis, Minggu (24/3/2019).
Adapun dari sisi Tower Bersama, kata Ririek, besar tariff yang ditetapkan disesuaikan dengan jumlah investasi yang disalurkan Tower Bersama ke MRT. Disamping itu, lanjutnya, Tower Bersama juga memiliki kewajiban pembayaran sharing ke pihak PT MRT Jakarta.
Ririek menuturkan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, ATSI terus membangun diskusi dengan para pemanku kepentingan, agar permasalahan gap harga dapat diatasi.
“Kami terus diskusikan untuk mencari solusinya bagi semua pihak,” kata Ririek.
Terdengar kabar bahwa harga sewa per operator per tahun, untuk 600 Mbps di 6 Stasiun MRT pada tahun pertama s/d kedua mencapai Rp3,5 s/d Rp4 miliar. Sedangkan operator seluler ingin harga sewa dikisaran Rp1 miliar.
Saat dikonfirmasi angka ini, Ririek mengaku tidak tahu secara detil angka yang diinginkan operator seluler dan Tower Bersama.
Ririek yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur PT Telekomunikasi Seluler (Telkomsel) mengutarakan, meski saat ini Telkomsel telah memasang perangkat di jalur MRT, namun Telkomsel tetap akan mencoba berdiskusi dengan Tower Bersama mengenai harga sewa perangkat pasif di kawasan operasional MRT fase I.
“Saya tidak hapal angkanya, kami (Telkomsel) juga sedang dalam proses diskusi dengan Tower Bersama,” kata Ririek.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia
Ketua APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan perhatian Purbaya terhadap praktik kuota impor ilegal menjadi harapan baru bagi industri tekstil.
Renovasi Mandala Krida dikaji UGM selama 5 bulan. Tribun timur yang bergoyang jadi sorotan, Pemda DIY diminta hati-hati.
Sapi jumbo 977 kg asal Klaten terpilih jadi kurban Presiden 2026. Dipelihara peternak muda, lolos uji kesehatan dan siap disembelih.
Jelang peringatan Hari Jadi Ke-110, Kabupaten Sleman dinobatkan sebagai peringkat kedua Kabupaten Paling Maju di Indonesia
Persebaya pesta gol 7-0 atas Semen Padang. Simak jalannya pertandingan, daftar pencetak gol, dan susunan pemain lengkap.
Jelang Iduladha, jasa salon sapi di Boyolali jadi strategi pedagang tingkatkan harga jual. Kisah Darmo bertahan sejak 1980-an.