Liburan Panjang Bisa Picu Golput

Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan Minggu, 03 Februari 2019 23:15 WIB
Liburan Panjang Bisa Picu Golput

Pekerja merangkai kotak suara kardus di Gudang Logistik KPU Kota Tasikmalaya, Cibeurem, Jawa Barat, Jumat (1/2/2019)./ANTARA-Adeng Bustomi

Harianjogja.com, JOGJA—Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) memetakan beberapa alasan pemilih tidak menggunakan hak suaranya alias menjadi golpit. Salah satunya, liburan saat pencoblosan, Rabu (17/4/2019) dilanjut libur Wafat Isa Almasih pada Jumat (19/4/2019).

Direktur Eksekutif Perludem Titi Anggraini menjelaskan bahwa dengan kondisi semacam itu, minat masyarakat yang tidak tertarik pada politik (apolitis) untuk berpartisipasi dalam Pemilu cenderung turun.

Sebagai gantinya, mereka akan lebih senang memanfaatkan waktu untuk berlibur, atau menuntaskan pekerjaan sebelum datangnya "long weekend".

"Harus hati-hati karena 17 April, atmosfir liburan panjang, weekend, dan 19 April adalah peringatan wafatnya Isa Almasih," jelas Titi dalam acara diskusi bertajuk Caleg Perempuan, Disabilitas, dan Masyarakat Adat Sebagai Alternatif Untuk Tak Golput, Minggu (3/1/2019).

"Jadi kalau tidak hati-hati, Rabu libur karena hari yang diliburkan, Kamis kejepit, Jumat libur, Sabtu libur, Minggu libur," tambahnya diiringi tawa peserta diskusi.

Oleh sebab itu, Titi mendorong agar publikasi Pemilu 2019 lebih ditekankan untuk menarik minat masyarakat. Bukan justru memberikan kesan bahwa Pemilu tahun ini gaduh, dan cenderung memberikan narasi negatif.

"Golput apolitis dan pragmatis ini yang memang pendekatannya kita harus antisipasi dari sekarang. Kalau mereka sudah melihat, "ah ruang publik kita saling caci maki,\' dan lain sebagainya, akan jauh lagi [minatnya] karena ada waktu kesempatan liburan panjang," ungkap Titi.

Golput dari pemilih apolitis ini merupakan salah satu dari empat tipe golput yang dipetakan Perludem. Selain itu, ada pula Golput Politis yang tidak menggunakan hak pilih atau menggunakan hak pilih tetapi suaranya tidak sah disebabkan ekspresi kekecewaan.

Sementara itu, Perludem pun menemukan alasan Golput akibat negara yang tidak mengakomodir, seperti tidak memiliki E-KTP. Ada pula Golput teknis/administratif yang seringkali terlewat akibat tugas kerja, tidak tahu cara memilih, namanya terlewat dari daftar di DPT, atau tidak mengurus surat pindah TPS.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online