SMKN 2 Jogja Punya Sasana untuk Para Petarung Revolusi Industri 4.0

I Ketut Sawitra Mustika
I Ketut Sawitra Mustika Kamis, 30 Agustus 2018 12:25 WIB
SMKN 2 Jogja Punya Sasana untuk Para Petarung Revolusi Industri 4.0

Ketua Sangaji Technopark Untung Suprapto (kiri) berada di Sangaji Technopark, SMKN 2 Jogja, Senin (27/8)./Harian Jogja-I Ketut Sawitra Mustika

Harianjogja.com, JOGJA—SMKN 2 Jogja telah meresmikan Sangaji Technopark. Tempat ini akan dijadikan kawah candradimuka untuk menggembleng para remaja guna menjadi pemain-pemain besar dalam industri aplikasi. Pada tahap awal, 15 usaha rintisan siap dikembangkan. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com I Ketut Sawitra Mustika.

Juone R. H. Samosir, siswa kelas X1 SMKN 2 Jogja, duduk santai sambil mengetuk layar telepon pintar di Sangaji Technopark, Senin (27/8/2018). Layar gawainya terlihat seperti buku mewarnai untuk bocah taman kanak-kanak, menampilkan gambar binatang dan hutan. Ada beberapa hewan, seperti macan dan buaya, yang berkumpul dalam satu area yang rimbun dan hijau.

Ujung jarinya menyentuh gambar macan. Sejurus kemudian gambar hutan sirna dan muncul tampilan macan yang mengaum di meja tempatnya duduk. Selepas itu, gantian Juone memilih buaya, hal yang sama kemudian terjadi: buaya sedang menggeliat malas di meja seakan-akan hewan itu benar-benar ada di sana.

Juone ketika itu sedang mencoba aplikasi bernama Jungle Safari 3D Augmented Reality, salah satu produk teknologi yang sedang dikembangkan di Sangaji Technopark. Jungle Safari 3D Augmented Reality diciptakan oleh Juone bersana Nanda Juan Triatma dan Eveready Esaputra. Keduanya juga siswa SMKN 2 Jogja.

“Saya membuat aplikasi ini karena anak kecil kadang-kadang malas keluar rumah. Orang tua jadi susah ngenalin binatang ke anaknya. Dengan Jungle Safari, saya harap anak-anak bisa lebih mengenal binatang,” ucap Juone.

Kalaupun anak-anak tak malas keluar rumah, mereka juga agak susah untuk datang ke kebun binatang karena sehari-hari mereka harus sekolah hingga siang atau sore. Otomatis waktu untuk ke kebun binatang hanya tersedia saat hari libur. Namun, kata Juone, kebun binatang di hari libur sangat ramai dan padat sehingga menjadi kurang kondusif untuk berkenalan dengan hewan-hewan.

Juone mulai mengembangkan Jungle Safari beberapa pekan lalu. Tetapi, ia sudah belajar membuat aplikasi sudah sejak setahun silam. Juone belum puas dengan ciptaannya. Ke depan, Jungle Aplikasi akan dikembangkan menjadi lebih mantap.

“Gerakan hewannya akan dibuat lebih banyak. Nanti juga akan dilengkapi dengan data seperti nama hewan, jenis makanan, habitat dan lain-lain,” ucap Juone.

Menurut Ketua Sangaji Technopark Untung Suprapto, Jungle Safari bisa dimanfaatkan oleh guru TK sebagai sarana pembelajaran.

“Nanti HP-nya dikoneksikan dengan monitor, gambar hewannya akan muncul.”

Harapannya, pembelajaran mengenai hewan jadi lebih menarik karena yang ditampilkan adalah gambar tiga dimensi.

Selain Jungle Safari, aplikasi rintisan yang siap dikembangkan di Sangaji Technopark adalah Tukang Online, penyedia jasa lewat dalam bentuk aplikasi; I-Vents, aplikasi yang menyajikan informasi mengenai event, tempat nongkrong dan tempat wisata; Skatech, sebuah software pengajuan praktik kerja lapangan; Aljadid, aplikasi untuk berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling (BK) dan produk-produk lainnya.

Jika ada satu saja produk yang terus berkembang dan bisa memberikan manfaat serta mendatangkan profit, itu sudah menjadi pencapaian besar bagi Sangaji Technopark.

Sangaji Technopark, kata Untung, seperti juga di tempat lainnya, akan menjadi taman yang nyaman untuk pengembangan teknologi. Semua kebutuhan dari siswa calon wirausahawan di bidang teknologi akan difasilitasi, supaya talenta-talenta terbaik yang dimiliki SMKN 2 Jogja bisa mengembangkan diri secara maksimal.

“Karya itu kan harus dipatenkan. Bisa difasilitasi itu. Mau dikembangkan jadi CV juga bisa difasilitasi. Termasuk kebutuhan dalam mengerjakan startup bisa difasilitasi. Butuh pendamping atau mentor akan kami sediakan,” tutur dia.

Produk teknologi yang bisa berkembang, mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat, atau, katakanlah, sampai mengundang investor menanamkan modalnya, akan diatasnamakan Sangaji Technopark. Tetapi, keuntungannya tidak akan dinikmati sendiri oleh sekolah. Penciptanya juga akan mendapatkan hak yang setimpal.

Sangaji Technopark fokus untuk menciptakan wirausahawan di bidang startup, aplikasi dan website. Tempat itu dijadikan wadah guna menyiapkan pemuda-pemuda agar siap bertarung menghadapi revolusi industri 4.0.

“Jadi siswa dari awal diarahkan ke sana [revolusi industri 4.0]. Gojek itu lima atau empat tahun lalu bukan apa-apa. Sekarang sudah besar kayak gitu. Semoga apa yang kami kerjakan di sini bermanfaat bagi masyarakat,” kata Untung.

Gojek adalah salah satu dari empat perusahaan rintisan asal Indonesia yang berstatus unicorn atau memiliki valuasi di atas US$1 miliar. Perusahan yang didirikan Nadiem Makarim ini juga sudah mulai berekspansi ke beberapa negara ASEAN.

Masih Baru

Sangaji Technopark diresmikan pada Jumat (24/8/2018). Meski sudah diresmikan, tempat ini belum beroperasi secara penuh. Bahkan, saat Harian Jogja bertandang ke sana, beberapa tukang bangunan masih sibuk mengecat dinding. Ruang untuk rapat juga masih berantakan.

Hari itu di Sangaji Technopark hanya ada dua siswa yang duduk di ruang yang dijadikan sebagai coworking space. Sangaji Technopark terletak di SMKN 2 Jogja. Ruangannya didominasi warna biru dan putih. “Pekerjaan di bidang TIK [teknologi informasi dan komunikasi] butuh waktu panjang, jadi kami memilih warna yang soft,” ucap Untung.

Selain ada coworking space, di Sangaji Technopark juga ada tempat untuk berdiskusi, presentasi karya dan ruang untuk memamerkan produk. Coworking space di sana akan dibuka untuk umum.

“Kami memilih launching fasilitas terlebih dahulu, baru nanti pameran dan presentasi. Oktober targetnya sudah ada bentuk nyata dari produk yang kami kembangkan,” kata Untung yang juga guru di jurusan Teknik Komputer Jaringan itu.

Pendirian Sangaji Technopark merupakan salah satu implementasi dari pencanangan program Pendidikan Menengah Universal (PMU), yang bertujuan mencapai Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan menengah sebesar 97 % pada 2020, mengurangi disparitas APK antar kabupaten atau kota, dan untuk menguatkan pendidikan kejuruan.

Guna mencapai tujuan PMU, Direktorat Pembinaan SMK Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengalokasikan dana bantuan pengembangan technopark sebanyak 20 paket. SMKN 2 Jogja merupakan salah satu penerima bantuan tersebut.

“Kami juga diberi target supaya menghasilkan pendapatan Rp15 juta. Meski begitu, di sini pengembangan yang utama,” kata Untung.

Pengawas Pembina SMK Dinas Pendidikan DIY Purwanto mengharapkan Sangaji Technopark tidak hanya menyediakan TIK, sebab ada sembilan kompetensi kajian yang harus dikembangkan SMK.

Showroom nantinya bisa diisi produk unggulan siswa. Keberadaan Sangaji Technopark sangat strategis dan bisa menjadi sekolah unggulan serta sekolah rujukan,” ujar dia beberapa waktu lalu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online