Sejumlah wisatawan menikmati keindahan pemandangan di sekitar Candi Banyunibo, Dusun Cepit, Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Sabtu (30/6/2018).Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan
Harianjogja.com, JOGJA—Ketua Tim Ahli Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM Phil Janianton Damanik mengkritik pengembangan pariwisata Jogja yang belum tepat sasaran. Pengembangan maupun pembangunan tak sesuai dengan segmen wisatawan yang datang. Akibatnya pengeluaran pelancong saat berlibur di Jogja pun menjadi rendah.
“Kebutuhan mereka tak terakomodasi dengan baik, oleh regulator ataupun para pelaku wisata,” kata dia.
Damanik mengatakan wisatawan mancanegara, khususnya dari Eropa, sangat tertarik dengan kultur dan ciri khas budaya maupun sejarah suatu daerah. Mereka gemar mendatangi tempat-tempat yang sarat dengan sejarah, terutama museum. Kecenderungan tersebut dapat terlihat dari apresiasi mereka terhadap museum-museum di Eropa yang tak pernah sepi pengunjung. Sayangnya di Jogja, jarang sekali ada museum yang dikelola dengan serius. Harta serupa sejarah yang tak ternilai harganya ini terbengkalai begitu saja. Tak ada pemandu ataupun jalinan cerita (story telling) kuat yang dibangun atas potensi tersebut.
“Di sini masuk museum bayar Rp2.000. Padahal jika dikelola dengan baik, wisatawan mancanegara, terutama Eropa, tak akan segan-segan membayar mahal untuk masuk museum. Dengan begitu, pengeluaran mereka kan akan lebih banyak,” ujar dia.
Damanik juga menyoroti minimnya produk ataupun kegiatan wisata yang masuk dalam kategori berbiaya mahal di Jogja. Ia mencontohkan jika wisatawan pergi ke pantai-pantai, tidak ada kegiatan mahal yang dapat mereka lakukan. Berbeda halnya dengan pantai-pantai di Bali dengan begitu banyak pilihan kegiatan seperti snorkeling, diving, banana boat, dan lain-lain. Belum lagi pilihan produk ataupun cendera mata yang masih terbatas, kebanyakan masuk dalam ketegori berbiaya rendah.
“Kita punya batik, tetapi wisatawan mancanegara jarang yang akan beli produk ini karena tidak bisa dipakai di negara mereka. Paling mereka akan beli kaus. Padahal kita tahu harga kaus kan tidak mahal. Jadi sangat bisa dipahami kalau pengeluaran mereka cuma sedikit. Belum lagi jarang ada direct flight [penerbangan langsung] ke Jogja, sehingga wisatawan biasanya beli oleh-oleh bukan di sini tapi di kota terakhir yang ia singgahi sebelum pulang,” ucap dia.
Damanik mendorong regulator untuk memahami dan mengkaji segmen dan kebutuhan para wisatawan yang datang ke Jogja secara lebih mendalam. Potensi-potensi yang sudah ada harus digarap dengan lebih serius. Menurut dia, mempercantik titik-titik kota hanya akan memanjakan wisatawan kategori kantong tipis yang datang tanpa membelanjakan banyak uang. Pola ini hanya akan membuat Jogja ramai, tetapi tidak memberi faedah ekonomi secara besar-besaran.
“Padahal pariwisata sejatinya harus mengangkat perekonomian lokal.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.