Gelombang Tinggi Jadi Pelajaran agar Penghuni Pantai Tak Sembarangan Mendirikan Bangunan

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Kamis, 26 Juli 2018 10:25 WIB
Gelombang Tinggi Jadi Pelajaran agar Penghuni Pantai Tak Sembarangan Mendirikan Bangunan

Bangunan di Pantai Drini, Gunungkidul, hancur diterjang gelombang tinggi, Rabu (25/7/2018)./Harian Jogja-Jalu Rahman Dewantara

Harianjogja.com, JOGJA—Ombak besar yang menerjang Pantai Selatan di DIY menjadi pelajaran penting. Pesisir harus segera ditata karena banyak bangunan berdiri di area berbahaya. Berikut laporan wartawan Harianjogja.comJalu Rahman Dewantara.

Rabu (25/7/2018) dini hari, petugas Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Gunungkidul yang ditugaskan berjaga di Pantai Drini, Desa Banjarejo, Kecamatan Tanjungsari, kaget. Posko pantauan milik SAR ambruk. Satu unit early warning system (EWS) tsunami BPBD Gunungkidul roboh. Bangunan itu kolaps karena diterjang gelombang.

Ombak kemudian menyapu bangunan lain. Lima rumah makan hilang, 12 warung rusak berat, dan 20 gazebo luluh lantah. Untungnya, tak ada korban jiwa.

“Kurang lebih jam tiga pagi, tahu-tahu ada ombak besar. Satu per satu bangunan roboh,” kata Suyanto, petugas SAR yang mendapat giliran jaga.

Suyanto dan rekan-rekannya tak bisa tidur malam itu. Sudah beberapa hari ini ombak Pantai Selatan mengganas dan mereka harus bersiaga. Kemudian, Drini porak poranda dalam hitungan jam. Yanto tak menyangka ombak yang datang malam itu sangat besar.

“Saya lahir di sini dan dari saya kecil hingga sekarang baru kali ini ombak Pantai Selatan sebesar ini hingga merobohkan bangunan.”

Pagi hari, pemilik lapak di pantai tersebut secara berduyun-duyun mulai berdatangan. Pantai yang awalnya sepi ini dalam sekejap penuh dengan ratusan manusia. Tidak tampak rona bahagia di wajah orang-orang yang berdatangan. Mereka sedih dan panik. Sementara, teriakan peringatan akan bahaya ombak terdengar nyaring dari pelantang. Petugas SAR mewanti-wanti pedagang berhati-hati.

Beberapa perempuan menangis, meratapi tempat berdagang mereka sudah lenyap. Sebagian pingsan, salah satunya Ginem, 60.

“Dia kayaknya syok, setahu saya Mbah Ginem punya riwayat lemah jantung,” kata Suyati, 50, pedagang do Pantai Drini.

Ginem kehilangan rumah makan tempatnya mencari nafkah. Warung itu hancur. Hanya sebagian yang masih tersisa.

Rugi Banyak

Beberapa jam setelah ombak menggulung pesisir, Waluyo, 50, mengemas barang dagangannya yang bertahan dari sapuan ombak. Meja dan kursi panjang dia angkut memakai truk. Warga Dusun Wonosobo, Banjarharjo, Tanjungsari, sebuah permukiman yang tak jauh dari Pantai Drini itu, mengaku rugi jutaan rupiah.

“Kalau kerugian semua pedagang digabung, bisa sampai ratusan juta,” ujar dia.

Tak jauh dari Pantai Drini, bangunan di Pantai Sepanjang juga rusak parah. Tak kurang dari 25 gazebo hilang dan 115 lainnya rusak berat di objek wisata yang berada di Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari ini.

Kondisi Pantai Sepanjang cukup memprihatinkan. Kerasnya deburan ombak menghancurkan bangunan yang dekat dengan bibir pantai. Pemilik lapak hanya pasrah. Bangunan yang menjadi sumber penghasilan mereka hanya tersisa puing-puing.

Mereka yang beruntung masih bisa mengais kayu dan perkakas yang tidak terbawa arus. Namun, mereka yang sial hanya bisa termenung sembari menatap kerasnya ombak meratakan bangunan.

“Saya rugi Rp1,5 juta. Etalase kaca dan warung milik saya rusak,” ucap Wiyono, 60, pedagang di Pantai Sepanjang.

Pantai Semrawut

Menurut Data Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah I dan Wilayah II Gunungkidul, gelombang yang datang di pagi buta itu merusak ratusan gazebo, rumah makan, pos SAR, dan lapak pedagang di 12 pantai sisi barat dan tiga pantai sisi timur. Pantai Selatan DIY kewalahan dihantam gelombang.

Di Bantul, gelombang tujuh meter merusak kawasan Parangtritis, Pantai Baru, Samas, hingga Pantai Kuwaru dan Pandansimo. Di Pantai Pandansimo, Kecamatan Srandakan, 26 rumah warga yang rusak. Sebidang tambak yang menampung 170.000 udang jebol karena terkena arus air dari laut. Di Kulonprogo, satu rumah warga di Pantai Trisik rusak. Puluhan bangunan penunjang wisata seperti kolam renang dan laguna juga koyak (lihat grafis).

Kerusakan itu merupakan konsekuensi dekatnya bangunan dengan perairan. Peraturan Daerah (Perda) DIY No.16/2011 tentang Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Provinsi DIY Tahun 2011-2030 menyebutkan sempadan pantai dalam radius 100 meter dari laut harus steril dari segala macam bangunan. Namun, bangunan-bangunan yang akhirnya ditelan ombak laut selatan itu berada dalam zona larangan. Tak sedikit yang berhadapan langsung dengan laut.

Bahkan, di Pantai Drini, tempat pelelangan ikan (TPI) milik pemerintah hanya berjarak sekitar 50 meter dari batas pantai. Anggota Tim Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Gunungkidul, Suyanto mengatakan bangunan TPI ini berdiri sekitar 2012 dan merupakan bantuan dari Dinas Perikanan dan Kelautan, Gunungkidul.

Suyanto mengakui dampak yang ditimbulkan dari gelombang tinggi tahun ini sangat luas, jauh lebih luas daripada yang sudah-sudah.

“Ini adalah kerusakan terparah.”

Dia meyakini, bangunan yang berdiri di sempadan pantai di antaranya sudah tidak dapat didirikan lagi karena tergerus abrasi. Dia meminta pemerintah agar segera menata ulang kawasan pantai.

“Kalau tidak ditata, ancaman kerusakan akibat gelombang tinggi bisa kembali terjadi,” ucap Suyanto.

Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul Asti Wijayanti mengatakan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan organisasi perangkat daerah terkait segera dilakukan untuk menata ulang seluruh kawasan pantai di Bumi Handayani.

Asti mengharapkan langkah ini mendapat dukungan dari semua pihak, termasuk warga pesisir maupun pengelola wisata.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi penataan pantai seharusnya tidak perlu menunggu momen gelombang tinggi merusak bangunan di pesisir. “Kalau pun tidak ada gelombang tinggi, pantai tetap harus ditata,” ujar dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online