KISAH TRAGIS : Gajah Tertua di Afrika Dibunuh dengan Panah Beracun

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Kamis, 09 Maret 2017 04:20 WIB
KISAH TRAGIS : Gajah Tertua di Afrika Dibunuh dengan Panah Beracun

Gajah Afrika yang mati karena panah beracun (Tasto Trust)

Kisah tragis mengenai gajah tertua di Afrika

Harianjogja.com, KENYA -- Seekor gajah tertua dan terbesar dibunuh di Kenya, Senin (6/3/2017).

Metro, Selasa (7/3/2017) menulis Richard Moller dari Tasvo Trust berkata Satao II ditemukan mati pada Senin (6/3/2017) dan dipercaya dibunuh oleh pemburu menggunakan panah beracun. Namun, kebenaran ini sampai saat ini belum dapat dikonfirmasi.

"Beruntung, melalui apa yang kami lakukan di Kenyan Wildlife Service (KWS), kami dapat menemukan bangkai gajah ini sehingga pemburu tak dapat mengambil gadingnya," terang dia.

Gajah yang diperkirakan berusia 50 tahun ini merupakan salah satu hewan kesayangan di Tasvo National Park.

Tak lama setelah penemuan bangkai, dua pemburu yang diduga bertanggungjawab atask kasus ini mendekat sehingga keduanya dapat ditangkap.

Peristiwa ini terungkap dua hari setelah petugas KWS dibunuh karena menyuarakan antipemburuan di taman tersebut. Petugas ini merupakan korban kedua yang tewas di tangan pemburu dalam sebulan terakhir.

Berdasarkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) jumlah gajah Afrika turun, sekitar 111.000-415.000 ekor hanya dalam 10 tahun.
Sekitar 30.000 ekor gajah dibunuh karena gadingnya setiap tahun. Perburuan gading ini untuk memenuhi pasar Asia. Sebab gading dipercaya sebagai obat tradisional atau sebagai simbol status.

Menurut Moller, ada sekitar 25 gajah tusker di dunia. Nama ini diberikan lantaran gajah tersebut memiliki ukuran gading yang panjang, hampir menyentuh tanah. Dari jumlah tersebut, sekitar 15 di antaranya da di Kenya.

"Mereka adalah ikon dan duta untuk gajah," terangnya.

Dia menambahkan, gading seekor Satao II memiliki berat 50,80 kg, dan yang lainnya  50,34 kg.

"Saya sangat sedih. Gajah ini adalah yang paling mudah ditemukan, bahkan anak kecil pun dapat menemukannya. Sementara yang lain, lebih sulit terlihat dan memilih menghindari keramaian," tambah Moller.

"Gajah ini terlihat banyak mengeluarkan keringat, mungkin karena racun dari panah tersebut," kata dia.

Eksistem Tsavo memiliki luas 42.000 km persegi. Luas lahan ini menjadi tantangan bagi KWS untuk selalu berpatroli dan melindungi kawasan tersebut.

Tsavo Trust memantau gajah melalui udara dan tanah pengintaian, dan bekerja sama dengan KWS.

Moller pun memuji kecepatan staf untuk menangkap dua pemburu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online