Tolak Pabrik Semen, Warga Pracimantoro Ajukan 13 Tuntutan
Warga Pracimantoro ajukan 13 tuntutan, desak revisi RTRW Wonogiri dan tolak pabrik semen demi kelestarian karst.
Ilustrasi pendakian gunung. (JIBI/Harian Jogja/Reuters)
Pendaki hilang terjadi di Gunung Merbabu
Harianjogja.com, JOGJA -- Empat pendaki gunung asal Jogja dikabarkan menghilang di Merbabu. Kabar keempatnya tak lagi terdengar sejak Jumat (3/6/2016) lalu.
Keempat pendaki yang tersesat itu berasal dari jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan. Mereka adalah Hani Tri Meilani, Muhammad Khoirul Mi’am, Ahmad Azwar Darmawan dan Masum Anwarudin.
Salah satu rekan korban, Dimas Agung Senin (6/6/2016) menuturkan kontak terakhir dengan keempat pendaki itu terjadi saat mereka akan berangkat. Saat itu Hani berkirim kabar dengan Putri, rekan satu jurusannya di kampus.
Hani menyampaikan niat mereka untuk mendaki gunung Merbabu Jumat malam dan berencana tiba di Jogja Minggu (5/6/2016). Namun mereka tak memberitahukan jalur pendakian mana yang akan ditempuh selama pendakian.
“Sampai Minggu ternyata tak ada kabar, Putri pun minta tolong ke saya untuk melaporkannya ke BPBD DIY,” kata Dimas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Pracimantoro ajukan 13 tuntutan, desak revisi RTRW Wonogiri dan tolak pabrik semen demi kelestarian karst.
Panggilan spam semakin marak di Indonesia. Simak cara memblokir nomor tidak dikenal di Android, iPhone, dan WhatsApp agar lebih aman dari penipuan.
BTS memecahkan rekor pendapatan tur bulanan tertinggi dalam sejarah Billboard Top Tours dengan pemasukan Rp2,08 triliun sepanjang Mei 2026.
Tombol dashboard mobil bisa cepat rusak akibat panas, debu, dan tumpahan cairan. Kenali penyebabnya agar terhindar dari biaya perbaikan mahal.
Kulonprogo menyiapkan 20 tangki air bersih dan armada distribusi untuk mengantisipasi kekeringan akibat El Nino selama musim kemarau 2026.
MotoGP resmi bertahan di Sepang hingga 2031. Kontrak baru Malaysia memastikan balapan kelas dunia tetap hadir di Asia Tenggara.