KENAIKAN HARGA BBM : Apindo Tolak Tuntutan Kenaikan Upah

Selasa, 25 Juni 2013 04:00 WIB
KENAIKAN HARGA BBM : Apindo Tolak Tuntutan Kenaikan Upah

One hundred thousand rupiah notes are seen through a magnifying glass in this photo illustration taken in Singapore, in this file picture taken March 14, 2013. Banks in Singapore are stubbornly against adopting domestically set reference rates for derivative contracts in the Indonesia rupiah, despite preparing to drop their own rate fixing for the Malaysian ringgit and Vietnamese dong. To match Analysis MARKETS-INDONESIA/FIXING REUTERS/Edgar Su/Files (SINGAPORE - Tags: BUSINESS)

JAKARTA-Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan tidak akan ada kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebagai kompensasi dari kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi, kecuali ada kebijakan dari masing-masing perusahaan.

Ketua Umum Apindo Sofjan Wanandi mengatakan meskipun para pekerja menuntut kenaikan UMP, hal itu hanya bisa dilakukan pada tahun depan. Pasalnya, tahun ini UMP sudah naik cukup drastis pada awal tahun.

“Masalah upah hanya bisa diputuskan tahun depan setelah ada pertemuan tripartit, pertemuan dengan dewan pengupahan. Bukan sekarang, tahun depan,” katanya di kantornya, Senin (24/6/2013).

Kalaupun ada kenaikan upah, hal itu diserahkan kepada masing-masing perusahaan. Pada intinya, tidak ada kebijakan khusus mengenai hal ini.

Kenaikan harga BBM bersubsidi yang diberlakukan pemerintah akhir pekan lalu menuai aksi unjuk rasa yang dilakukan para pekerja.

Berdasarkan info dari Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, para pekerja akan kembali bergerak untuk mengembalikan daya beli masyarakat dengan memperjuangkan kenaikan UMP sebesar 50% dan pelaksanaan jaminan kesehatan untuk seluruh rakyat.
“Dengan sikap tetap tidak setuju kenaikan harga BBM subsidi yang telah diputuskan,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online