10 Negara dengan Utang IMF Terbesar 2026, Argentina Urutan Teratas

Newswire
Newswire Rabu, 21 Oktober 2026 13:47 WIB
10 Negara dengan Utang IMF Terbesar 2026, Argentina Urutan Teratas

Ilustrasi utang- StockCake

Harianjogja.com, JOGJA—Argentina menjadi negara dengan utang kepada International Monetary Fund (IMF) terbesar di dunia pada 2026, dengan nilai kredit yang belum dilunasi mencapai sekitar US$56,9 miliar. Jumlah tersebut hampir empat kali lipat posisi Ukraina yang berada di urutan kedua, sekaligus jauh melampaui negara-negara lain dalam daftar 10 peminjam terbesar.

Berdasarkan data IMF per 16 Oktober 2026, total kredit yang masih terutang oleh negara-negara anggota mencapai sekitar SDR123,145 miliar atau setara dengan US$167 miliar. Data tersebut menunjukkan besarnya pembiayaan yang masih harus dikembalikan negara-negara peminjam kepada lembaga keuangan internasional tersebut.

SDR atau Special Drawing Rights merupakan aset cadangan internasional yang nilainya ditentukan berdasarkan sekeranjang mata uang utama. Mengacu pada laman resmi IMF, satu SDR setara dengan sekitar US$1,3565 per 16 Oktober 2026.

Besarnya kredit yang belum dilunasi mencerminkan kebutuhan pembiayaan masing-masing negara untuk menopang stabilitas ekonomi, memenuhi kebutuhan anggaran, dan menghadapi tekanan eksternal. Berikut daftar 10 negara dengan utang IMF terbesar pada 2026 berdasarkan posisi kredit yang belum dilunasi.

Daftar 10 Negara dengan Utang IMF Terbesar pada 2026

Peringkat berdasarkan nilai kredit IMF yang belum dilunasi, mengacu pada data per 16 Oktober 2026.

Peringkat

Negara

Kredit IMF

1

Argentina

US$56,9 miliar

2

Ukraina

US$14,5 miliar

3

Pakistan

US$10,8 miliar

4

Mesir

US$10,6 miliar

5

Ekuador

US$9,6 miliar

6

Côte d'Ivoire (Pantai Gading)

US$5,6 miliar

7

Ghana

US$4 miliar

8

Bangladesh

US$3,9 miliar

9

Kenya

US$3,8 miliar

10

Republik Demokratik Kongo

US$3,2 miliar

Argentina Pimpin dengan Utang IMF US$56,9 Miliar

Argentina menempati peringkat pertama dengan kredit IMF sekitar SDR41,96 miliar atau setara US$56,9 miliar. Nilai tersebut hampir empat kali lipat kredit Ukraina, yang berada di posisi kedua dengan US$14,5 miliar.

Jarak yang lebar antara Argentina dan negara-negara lain menjadikan negara Amerika Selatan tersebut sebagai peminjam terbesar dalam daftar. Posisi ini didasarkan pada jumlah kredit IMF yang masih terutang, bukan keseluruhan utang pemerintah Argentina kepada semua kreditur.

Ukraina, Pakistan, dan Mesir Masuk Tiga Besar

Ukraina berada di urutan kedua dengan kredit IMF sekitar SDR10,69 miliar atau US$14,5 miliar. Invasi Rusia yang dimulai pada 2022 turut meningkatkan kebutuhan pembiayaan negara tersebut untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung kebutuhan anggaran selama perang.

Di posisi ketiga, Pakistan mencatat kredit sekitar SDR7,9 miliar atau US$10,8 miliar. Negara Asia Selatan ini mengandalkan dukungan IMF untuk menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat cadangan devisa, dan memperbaiki neraca pembayaran.

Mesir menyusul di peringkat keempat dengan kredit sekitar SDR7,8 miliar atau US$10,6 miliar. Negara Afrika Utara tersebut menghadapi tekanan inflasi, kebutuhan devisa, serta persoalan neraca pembayaran sehingga pembiayaan IMF menjadi salah satu instrumen untuk mendukung stabilitas ekonomi.

Sementara itu, Ekuador menempati peringkat kelima dengan kredit sekitar SDR7,07 miliar atau US$9,6 miliar. Pembiayaan tersebut membantu pemerintah menjalankan kebijakan ekonomi dan menjaga keberlanjutan keuangan negara di tengah kebutuhan anggaran.

Pantai Gading hingga Kongo Lengkapi 10 Besar

Lima negara lainnya dalam daftar peminjam IMF terbesar pada 2026 berasal dari Afrika, Asia, dan Amerika Selatan. Nilai kredit mereka berada di bawah US$6 miliar.

Berikut rincian posisi kredit IMF yang belum dilunasi oleh masing-masing negara:

  • Côte d'Ivoire (Pantai Gading): sekitar SDR4,1 miliar atau US$5,6 miliar. Negara di Afrika Barat ini menempati peringkat keenam.

  • Ghana: sekitar SDR2,9 miliar atau US$4 miliar. Negara Afrika Barat tersebut menggunakan pembiayaan untuk mendukung pemulihan ekonomi dan memperbaiki kondisi fiskal setelah menghadapi tekanan utang.

  • Bangladesh: sekitar SDR2,86 miliar atau US$3,9 miliar. Negara Asia Selatan ini memanfaatkan sejumlah fasilitas pembiayaan untuk menghadapi tantangan ekonomi dan memenuhi kebutuhan anggaran.

  • Kenya: sekitar SDR2,84 miliar atau US$3,8 miliar. Pembiayaan IMF menjadi salah satu sumber dukungan bagi kebijakan fiskal dan upaya menjaga stabilitas ekonomi negara tersebut.

  • Republik Demokratik Kongo: sekitar SDR2,43 miliar atau US$3,2 miliar. Negara Afrika Tengah ini memperoleh pembiayaan IMF untuk mendukung stabilitas ekonomi dan kebutuhan pembangunan.

Dengan nilai kredit US$5,6 miliar, Pantai Gading berada di posisi keenam, disusul Ghana, Bangladesh, Kenya, dan Republik Demokratik Kongo. Kelima negara tersebut melengkapi daftar 10 negara dengan kredit IMF terbesar pada 2026.

Pakistan Jadi Peminjam IMF Terbesar di Asia

Di kawasan Asia, Pakistan menjadi negara dengan kredit IMF terbesar dalam daftar tersebut. Bangladesh menyusul di posisi berikutnya dengan kredit sekitar US$3,9 miliar.

Kedua negara Asia Selatan itu menghadapi kebutuhan pembiayaan eksternal untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memenuhi kewajiban pembayaran. Dukungan pembiayaan IMF menjadi salah satu instrumen yang digunakan dalam menghadapi tantangan ekonomi dan kebutuhan anggaran.

Bagaimana Negara Mengembalikan Pinjaman IMF?

Negara anggota IMF harus mengembalikan pinjaman sesuai jadwal dan ketentuan fasilitas yang digunakan, termasuk membayar bunga atau biaya yang berlaku. Kewajiban tersebut dapat dipenuhi melalui penerimaan pajak, pendapatan ekspor, serta pengelolaan cadangan devisa.

Pemerintah negara peminjam juga dapat memperkuat penerimaan negara dan mengendalikan belanja anggaran untuk memperbaiki kondisi fiskal. Peningkatan ekspor menjadi langkah lain yang dapat ditempuh untuk memperbaiki neraca pembayaran.

Besarnya kredit IMF yang belum dilunasi menunjukkan nilai kewajiban pembiayaan yang masih tercatat pada masing-masing negara. Namun, angka tersebut tidak dengan sendirinya menggambarkan keseluruhan utang pemerintah ataupun kondisi ekonomi suatu negara secara menyeluruh.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online