Kabut Asap dari Indonesia Memburuk, Singapura Waspadai PSI di Atas 300

Jumali
Jumali Jum'at, 16 Oktober 2026 22:37 WIB
Kabut Asap dari Indonesia Memburuk, Singapura Waspadai PSI di Atas 300

Foto ilustrasi kebakaran hutan dan lahan. - Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memperburuk kualitas udara di Singapura pada Jumat (16/10/2026). Pemerintah Singapura memperingatkan kualitas udara masih berpotensi memburuk hingga mencapai tingkat berbahaya, bergantung pada kondisi cuaca.

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, mengatakan kondisi kabut asap masih sulit dipastikan karena pergerakan dan intensitasnya dipengaruhi cuaca. Pemerintah memperkirakan kualitas udara dapat berfluktuasi dalam beberapa hari ke depan sebelum berpeluang membaik saat memasuki periode peralihan monsun.

“Bergantung pada kondisi cuaca, kualitas udara diperkirakan berfluktuasi, termasuk kemungkinan mencapai tingkat berbahaya,” kata Fu, seperti dilaporkan media Singapura, CNA pada Jumat (16/10/2026). 

PSI Singapura Tembus 227

Kondisi udara memburuk sepanjang malam hingga Jumat pagi. Indeks Standar Polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah tengah Singapura mencapai 227 pada pukul 09.00 waktu setempat. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang 2026.

Pada pukul 13.00, PSI di wilayah tengah turun tipis menjadi 226. Namun, kualitas udara di wilayah timur dan barat juga masuk kategori sangat tidak sehat, dengan angka masing-masing 205 dan 203 pada pukul 13.00.

Sementara itu, wilayah utara mencatat PSI 155 dan wilayah selatan 185. Kedua wilayah tersebut masih berada dalam kategori tidak sehat. Data ini menunjukkan tingkat pencemaran udara berbeda-beda di setiap bagian Singapura.  

Pemerintah memperingatkan angka PSI berpotensi melampaui 300 apabila kondisi cuaca tidak mendukung. Dalam skala PSI Singapura, angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Perbaikan Udara Diperkirakan Bertahap

Fu mengatakan kualitas udara diperkirakan berpeluang membaik ketika periode peralihan monsun dimulai pada akhir Oktober atau awal November. Kondisi angin yang lebih lemah pada periode tersebut dapat memengaruhi pergerakan kabut asap menuju Singapura.

Perubahan arah angin saat monsun timur laut mulai bertiup sekitar awal Desember juga diperkirakan membantu membawa kabut asap menjauh dari Singapura.

Meski demikian, perkiraan tersebut bukan jaminan kabut asap akan hilang pada waktu tertentu. Perkembangan kondisi udara tetap bergantung pada cuaca dan situasi kebakaran di wilayah asal asap. 

Pemerintah Percepat Distribusi Masker N95

Menghadapi memburuknya kualitas udara, pemerintah Singapura mempercepat penyaluran masker N95 kepada warga yang memenuhi kriteria penerima. Distribusi dilakukan secara bertahap sejak Rabu (14/10/2026) melalui sejumlah lokasi pengambilan, termasuk pusat komunitas dan mesin penjual masker di titik yang telah ditentukan.

Fu mengatakan mesin penjual masker yang disiapkan pemerintah ditargetkan beroperasi penuh pada Jumat malam. Hingga Jumat, sekitar 10% warga yang berhak menerima masker telah mengambil jatah mereka.

Pelaksanaan distribusi sempat menghadapi kendala. Sejumlah lokasi mengalami antrean panjang dan kebingungan dalam proses pengambilan, sedangkan beberapa titik lain mengalami kekosongan stok untuk sementara.

Pemerintah memastikan persediaan masker masih mencukupi. Kekosongan di sejumlah gerai disebut berkaitan dengan meningkatnya permintaan, sementara stok masih tersedia di gudang peritel dan cadangan pemerintah. 

Fu menegaskan pemerintah akan terus memantau kebutuhan warga seiring perkembangan kabut asap. Distribusi masker dan langkah perlindungan lainnya disiapkan untuk membantu masyarakat menghadapi kemungkinan memburuknya kualitas udara.

Warga Diminta Memperhatikan Kondisi Udara

Badan Lingkungan Nasional Singapura mengimbau masyarakat menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi udara. Ketika PSI berada pada kategori sangat tidak sehat, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru disarankan meminimalkan aktivitas di luar ruangan.

Masyarakat juga perlu memperhatikan pembacaan PM2.5 per jam untuk menilai kondisi udara saat itu, selain menggunakan PSI 24 jam sebagai gambaran paparan yang lebih berkelanjutan. Penggunaan masker N95 dapat membantu mengurangi paparan partikel ketika seseorang harus berada di luar ruangan dalam kondisi tertentu, tetapi tidak menggantikan upaya mengurangi aktivitas di tengah udara tercemar.  

Situasi kabut asap ini kembali menyoroti dampak lintas batas dari kebakaran hutan dan lahan di kawasan Asia Tenggara. Perkembangan kualitas udara Singapura dalam beberapa pekan ke depan akan bergantung pada perubahan cuaca dan penanganan kebakaran di wilayah terdampak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online