Solidaritas Generasi Muda: Yayasan Desabumi pimpin galang dana bantuan Rp100 Juta

Jumali
Jumali Sabtu, 10 Oktober 2026 17:37 WIB
Solidaritas Generasi Muda: Yayasan Desabumi pimpin galang dana bantuan Rp100 Juta

Penyerahan Simbolis yang diberikan langsung oleh Gamma Thohir (pemegang papan donasi sebelah kiri), Zagy Berian (pemegang papan donasi sebelah kanan), Mahasiswa Universitas Tanjung Pura melalui Zoom/Istimewa

JAKARTA–KALIMANTAN BARAT– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga membawa dampak langsung terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat. Asap yang menyelimuti sejumlah wilayah mengganggu aktivitas sehari-hari, sementara petugas pemadam kebakaran terus menghadapi tantangan dalam mengendalikan titik api, khususnya di kawasan lahan gambut.

Kondisi tersebut menggerakkan kepedulian generasi muda melalui kolaborasi Desabumi, Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia, dan teman-teman volunteer, yang bersama para donatur berhasil menghimpun bantuan senilai Rp100 juta untuk mendukung masyarakat terdampak karhutla di Kalimantan Barat.

Pada Jumat, 9 Oktober 2026, seremoni pelepasan relawan dan penyaluran bantuan diselenggarakan secara hybrid, menghubungkan para peserta di Jakarta yang berlokasi di Titik Temu Agora dengan relawan, petugas pemadam kebakaran, mahasiswa, dan masyarakat terdampak di Kalimantan Barat melalui Zoom.

Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang kegiatan, meskipun para peserta dipisahkan oleh jarak. Percakapan berlangsung dua arah, diwarnai sapaan, pertanyaan mengenai kondisi masyarakat, serta cerita langsung dari mereka yang menghadapi dampak karhutla. Para peserta di Jakarta mendengarkan pengalaman petugas pemadam dan warga terdampak, sementara para relawan di Kalimantan Barat berbagi persiapan serta tantangan perjalanan yang akan mereka hadapi. Dari percakapan sederhana tersebut, terpancar semangat kebersamaan dan tekad seluruh pihak untuk memastikan bantuan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam dialog bersama petugas pemadam kebakaran, terungkap bahwa salah satu tantangan terbesar penanganan karhutla adalah karakteristik kebakaran di lahan gambut. Titik api sulit diprediksi karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan kembali muncul di lokasi yang berbeda. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi, terutama saat musim kemarau, termasuk melalui kegiatan patroli rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

Pengalaman serupa juga disampaikan Astika Dwi Wulandari, mahasiswa Universitas Tanjungpura yang turut terdampak karhutla. Ia menceritakan bagaimana asap mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Paparan asap tidak hanya terasa ketika beraktivitas di luar rumah, tetapi juga sulit dihindari meskipun berada di dalam ruangan. Astika turut menyampaikan apresiasi atas kebijakan Universitas Tanjungpura yang memberikan kesempatan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi mahasiswa dalam situasi tersebut.

Mendengar langsung pengalaman para petugas dan masyarakat terdampak, Gamma A. Thohir, Pendiri Desabumi, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat. Dalam sambutannya, ia mengibaratkan Indonesia sebagai satu tubuh yang setiap bagiannya memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membutuhkan.

"Saya selalu melihat kehidupan kita seperti tubuh manusia. Ada tangan, kaki, mata, dan berbagai organ yang memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu. Ketika kaki terluka, tangan secara spontan membantu, mata melihat lukanya, dan pikiran mencari jalan keluar. Begitu juga kita sebagai bangsa Indonesia. Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa," ujar Gamma A. Thohir.

Gamma juga menekankan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki sumber daya besar atau kedudukan tertentu. Menurutnya, setiap individu dapat berkontribusi melalui tenaga, waktu, pikiran, maupun materi.

"Generasi muda tidak cukup hanya pintar, berpendidikan tinggi, atau berhasil dalam pekerjaannya. Mereka juga harus punya hati, kepedulian, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang dicapai untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Kalau kita punya kesempatan untuk membantu, jangan pernah ragu-ragu. Kalau kita bisa membantu, ya kita bantu. Sesederhana itu," tambah Gamma.

Sebagai tindak lanjut kegiatan tersebut, pendistribusian bantuan dijadwalkan berlangsung pada 10–13 Oktober 2026, dengan melibatkan relawan dari Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Bantuan akan disalurkan menuju Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, serta Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Perjalanan dari Pontianak menuju lokasi penyaluran bukanlah perjalanan yang mudah. Para relawan bersiap menempuh perjalanan sekitar 16 jam melalui jalur darat dan laut, menghadapi tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, serta kebutuhan koordinasi logistik untuk menjangkau masyarakat terdampak. Namun, berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat generasi muda yang terlibat. Dengan persiapan dan kerja sama yang matang, mereka berkomitmen memastikan bantuan dapat sampai kepada masyarakat, sekaligus menghadirkan kepedulian secara langsung di tengah situasi sulit.

Bantuan yang disiapkan mencakup penyediaan sembako dan kebutuhan dasar masyarakat, pembekalan pengetahuan bagi relawan, serta dukungan logistik dan transportasi pendistribusian bantuan. Selain bantuan material, kegiatan ini juga dirancang untuk menghadirkan interaksi sosial dan kegiatan sederhana yang diharapkan dapat membantu membangkitkan semangat masyarakat terdampak.

Zagy Berian, Pendiri SRE Indonesia, menekankan bahwa semangat kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan tata kelola yang baik. Menurutnya, bantuan yang dipercayakan oleh para donatur bukan sekadar dana, tetapi juga membawa doa, harapan, dan kepercayaan yang harus dijaga oleh seluruh pihak yang terlibat.

"Ada banyak doa dan harapan yang dititipkan masyarakat kepada teman-teman relawan. Karena itu, tugas kita bukan hanya memastikan bantuan sampai, tetapi juga menjaga kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Generasi muda harus mampu menunjukkan bahwa kita bukan hanya cerdas dan memiliki kepedulian, tetapi juga dapat dipercaya dalam mengemban amanah. Setiap pengeluaran, aktivitas, dan proses penyaluran bantuan harus kita upayakan tercatat dan terdokumentasi dengan baik, sehingga seluruh kontribusi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Zagy Berian.

Zagy juga menambahkan bahwa kolaborasi generasi muda perlu dibangun di atas pembagian peran yang jelas, kedisiplinan, dan komitmen bersama. Dengan demikian, setiap kontribusi, sekecil apa pun, dapat memberikan manfaat yang lebih besar ketika dikelola secara kolektif dan bertanggung jawab.

"Ada yang menyumbangkan dana, ada yang meluangkan waktu, dan ada pula yang turun langsung membantu masyarakat. Sekecil apa pun kontribusi kita, jika dilakukan secara kolektif dan dikelola dengan baik, manfaatnya dapat terasa berkali-kali lipat. Kami berharap bantuan ini tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sembako di posko-posko pengungsian, tetapi juga memberikan dukungan moral kepada masyarakat terdampak bahwa mereka tidak menghadapi situasi ini sendirian," tambah Zagy.

Di balik persiapan penyaluran bantuan, terdapat anak-anak muda yang secara sukarela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu sesama. Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya tentang mengantarkan bantuan, tetapi juga tentang hadir, mendengarkan, dan memberikan semangat kepada masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit.

Tiara, mahasiswa tingkat akhir Universitas Tanjungpura sekaligus Ketua Tim Relawan, menjelaskan bahwa seluruh anggota tim telah mempersiapkan diri untuk menjalankan kegiatan kemanusiaan selama empat hari. Persiapan tersebut mencakup kesiapan fisik, kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat, serta perencanaan kegiatan hiburan sederhana untuk memberikan dukungan moral kepada warga terdampak.

"Kami menjalani kegiatan kerelawanan ini dengan sepenuh hati. Setiap anggota tim telah mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat. Kami juga merencanakan kegiatan hiburan sederhana untuk menghibur dan membangkitkan semangat warga terdampak, khususnya mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit. Harapan kami, seluruh relawan senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan agar dapat menjalankan tugas dengan baik selama empat hari ke depan," ujar Tiara.

Keterlibatan para relawan muda, petugas pemadam kebakaran, donatur, dan masyarakat menunjukkan bahwa penanganan dampak bencana membutuhkan kontribusi dari berbagai pihak. Setiap orang dapat mengambil peran sesuai kemampuannya, baik melalui dukungan materi, tenaga, pengetahuan, maupun perhatian terhadap sesama.

Lebih jauh, aksi kemanusiaan ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup berhenti pada bantuan darurat. Karakteristik kebakaran lahan gambut yang sulit diprediksi menunjukkan pentingnya penguatan patroli, deteksi dini, edukasi, dan kesiapsiagaan masyarakat, khususnya menjelang dan selama musim kemarau.

Pada akhirnya, solidaritas bukan hanya tentang seberapa besar bantuan yang diberikan, tetapi tentang kesediaan untuk hadir, berbagi peran, menjaga kepercayaan, dan memastikan bahwa mereka yang sedang menghadapi kesulitan tidak merasa sendirian. (*)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online