Yayasan Desabumi Pimpin Aksi Kemanusiaan Karhutla di Kalbar, Pentingnya Kolaborasi

Jumali
Jumali Sabtu, 10 Oktober 2026 17:21 WIB
Yayasan Desabumi Pimpin Aksi Kemanusiaan Karhutla di Kalbar, Pentingnya Kolaborasi

Gamma Thohir (sebelah kiri) pendiri Yayasan Desabumi memberikan bantuan secara simbolis yang dihadiri oleh para relawan di zoom didampingi oleh Zagy Berian (sebelah kanan) selaku pendiri Yayasan SRE Indonesia/Istimewa

KALIMANTAN BARAT– Kepedulian terhadap sesama tidak harus menunggu seseorang memiliki kedudukan tinggi atau sumber daya besar. Semangat inilah yang terus dibawa Gamma A. Thohir, Pendiri Desabumi, yang telah memulai keterlibatannya dalam gerakan sosial sejak usia 15 tahun. Baginya, membantu sesama merupakan nilai yang perlu ditanamkan sejak muda dan diwujudkan melalui tindakan nyata.

Semangat tersebut kembali diwujudkan melalui aksi kemanusiaan yang dipimpin Desabumi bersama Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia dan teman-teman volunteer, dengan menghimpun bantuan senilai Rp100 jutabagi masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

Pada Jumat, 9 Oktober 2026, seremoni pelepasan relawan diselenggarakan secara hybrid, menghubungkan para peserta di Jakarta dengan relawan, mahasiswa, petugas pemadam kebakaran, serta masyarakat terdampak di Kalimantan Barat melalui Zoom.

Suasana hangat dan akrab terasa sepanjang kegiatan. Meskipun terpisah jarak, percakapan berlangsung secara langsung dan dua arah. Gamma menyapa para relawan, menanyakan kesiapan perjalanan mereka, serta mendengarkan pengalaman petugas pemadam kebakaran dan masyarakat yang menghadapi dampak karhutla. Dari percakapan tersebut, terpancar semangat kebersamaan dan tekad seluruh pihak untuk memastikan bantuan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Dalam dialog bersama petugas pemadam kebakaran, terungkap bahwa salah satu tantangan terbesar penanganan karhutla adalah karakteristik kebakaran di lahan gambut. Titik api sulit diprediksi karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan muncul kembali di lokasi berbeda. Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi, terutama selama musim kemarau, termasuk melalui kegiatan patroli rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

Sementara itu, Astika Dwi Wulandari, mahasiswa Universitas Tanjungpura yang turut terdampak, menceritakan bagaimana asap karhutla mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Menurutnya, paparan asap tidak hanya menjadi persoalan ketika berada di luar rumah, tetapi juga sulit dihindari meskipun masyarakat berada di dalam ruangan. Ia turut mengapresiasi kebijakan Universitas Tanjungpura yang menerapkan pembelajaran jarak jauh untuk melindungi mahasiswa dalam situasi tersebut.

Mendengarkan pengalaman tersebut, Gamma mengingatkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan yang masyarakatnya saling terhubung dan membutuhkan satu sama lain. Ia mengibaratkan kehidupan berbangsa seperti tubuh manusia, di mana setiap bagian memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu ketika salah satunya mengalami kesulitan.

"Saya selalu melihat kehidupan kita seperti tubuh manusia. Ada tangan, kaki, mata, dan berbagai organ yang memiliki fungsi berbeda, tetapi saling membantu. Ketika kaki terluka, tangan secara spontan membantu, mata melihat lukanya, dan pikiran mencari jalan keluar. Begitu juga kita sebagai bangsa Indonesia. Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa," ujar Gamma A. Thohir.

Pengalaman Gamma dalam kegiatan sosial sejak usia muda turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya menumbuhkan kepedulian sebagai bagian dari karakter generasi penerus. Menurutnya, pendidikan dan keberhasilan pribadi perlu berjalan beriringan dengan keinginan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

"Generasi muda tidak cukup hanya pintar, berpendidikan tinggi, atau berhasil dalam pekerjaannya. Mereka juga harus punya hati, kepedulian, dan kemauan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain. Keberhasilan seseorang bukan hanya dilihat dari apa yang dicapai untuk dirinya sendiri, tetapi juga dari manfaat yang bisa diberikan kepada orang lain. Kalau kita punya kesempatan untuk membantu, jangan pernah ragu-ragu. Kalau kita bisa membantu, ya kita bantu. Sesederhana itu," tambah Gamma.

Sebagai tindak lanjut kegiatan tersebut, pendistribusian bantuan dijadwalkan berlangsung pada 10–13 Oktober 2026, melibatkan relawan dari Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Bantuan akan disalurkan menuju Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, serta Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Perjalanan dari Pontianak menuju lokasi penyaluran bukanlah perjalanan yang mudah. Para relawan bersiap menempuh perjalanan sekitar 16 jam melalui jalur darat dan laut, menghadapi tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, serta kebutuhan koordinasi logistik. Namun, berbagai tantangan tersebut tidak menyurutkan semangat generasi muda yang terlibat untuk memastikan bantuan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.

Bantuan yang disiapkan mencakup sembako dan kebutuhan dasar masyarakat, pembekalan pengetahuan bagi relawan, serta dukungan logistik dan transportasi. Selain bantuan material, kegiatan ini juga dirancang untuk menghadirkan interaksi sosial dan kegiatan sederhana yang diharapkan dapat membangkitkan semangat masyarakat terdampak.

Zagy Berian, Pendiri SRE Indonesia, menekankan bahwa semangat kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab dan tata kelola yang baik. Menurutnya, bantuan yang dipercayakan oleh para donatur bukan sekadar dana, tetapi juga membawa doa, harapan, dan kepercayaan yang harus dijaga oleh seluruh pihak yang terlibat.

"Ada banyak doa dan harapan yang dititipkan masyarakat kepada teman-teman relawan. Karena itu, tugas kita bukan hanya memastikan bantuan sampai, tetapi juga menjaga kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Generasi muda harus mampu menunjukkan bahwa kita bukan hanya cerdas dan memiliki kepedulian, tetapi juga dapat dipercaya dalam mengemban amanah. Setiap pengeluaran, aktivitas, dan proses penyaluran bantuan harus kita upayakan tercatat dan terdokumentasi dengan baik, sehingga seluruh kontribusi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Zagy Berian.

Zagy juga menambahkan bahwa kolaborasi generasi muda perlu dibangun melalui pembagian peran yang jelas, kedisiplinan, dan komitmen bersama. Dengan demikian, setiap kontribusi, sekecil apa pun, dapat memberikan manfaat lebih besar ketika dikelola secara kolektif dan bertanggung jawab.

Di balik persiapan penyaluran bantuan tersebut, terdapat anak-anak muda yang secara sukarela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk membantu sesama. Bagi mereka, kegiatan ini bukan hanya tentang mengantarkan bantuan, tetapi juga tentang hadir, mendengarkan, dan memberikan semangat kepada masyarakat yang tengah menghadapi masa sulit.

Tiara, mahasiswa tingkat akhir Universitas Tanjungpura sekaligus Ketua Tim Relawan, menjelaskan bahwa seluruh anggota tim telah mempersiapkan diri untuk menjalankan kegiatan kemanusiaan selama empat hari, termasuk kesiapan fisik, kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat, serta kegiatan hiburan sederhana untuk memberikan dukungan moral kepada warga terdampak.

"Kami menjalani kegiatan kerelawanan ini dengan sepenuh hati. Setiap anggota tim telah mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun kemampuan untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan masyarakat. Kami juga merencanakan kegiatan hiburan sederhana untuk menghibur dan membangkitkan semangat warga terdampak. Harapan kami, seluruh relawan senantiasa diberikan kesehatan dan kekuatan agar dapat menjalankan tugas dengan baik selama empat hari ke depan," ujar Tiara.

Bagi Gamma, kehadiran para relawan muda tersebut menjadi gambaran nyata bahwa semangat kepedulian sosial dapat terus tumbuh dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia turut berpesan agar seluruh relawan senantiasa menjaga kesehatan, keselamatan, dan kekompakan selama menjalankan kegiatan.

Aksi kemanusiaan ini juga menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup berhenti pada bantuan darurat. Pencegahan, edukasi, patroli, deteksi dini, serta kesiapsiagaan masyarakat perlu terus diperkuat untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, khususnya di kawasan gambut.

Melalui kolaborasi lintas generasi ini, kepedulian yang tumbuh sejak usia muda diharapkan terus menjadi gerakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Sebab pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang dicapai untuk diri sendiri, tetapi juga tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online