Apindo Buka Peluang UMKM Masuk Rantai Nilai Usaha Lewat Kolaborasi

Newswire
Newswire Rabu, 07 Oktober 2026 08:37 WIB
Apindo Buka Peluang UMKM Masuk Rantai Nilai Usaha Lewat Kolaborasi

APINDO memperkuat ekosistem UMKM Jogja melalui kolaborasi dunia usaha, pemerintah, dan pelaku UMKM untuk membuka akses pasar

Harianjogja.com, JOGJA—Pengembangan UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai diarahkan tidak hanya pada peningkatan kapasitas, tetapi juga pada pembukaan akses pasar dan peluang kemitraan dengan dunia usaha.

Arah tersebut mengemuka dalam rangkaian Industrial Relations Conference (IR Conference) 2026 yang mempertemukan dunia usaha, jejaring Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), pemerintah, pelaku UMKM, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya.

APINDO bersama APINDO UMKM, Wismilak, APINDO Training Center (ATC), dan Pura Nusantara memperkuat kolaborasi untuk mendorong terbentuknya ekosistem UMKM yang lebih terhubung dengan kebutuhan nyata dunia usaha.

Kegiatan yang berlangsung di The Alana Hotel & Convention Center Yogyakarta pada 6 Oktober 2026 itu mengusung semangat “srawung”, yakni kearifan lokal Jawa dalam bentuk kebersamaan, empati, dan saling belajar.

Forum tersebut tidak sekadar menjadi ruang silaturahmi dan apresiasi. Pertemuan itu juga menjadi titik awal pembicaraan mengenai peluang kolaborasi yang lebih konkret antara dunia usaha dan ekosistem UMKM di DIY.

Dalam IR Conference 2026 yang mengangkat tema “Bukan Lagi Sekadar Upah”, pembahasan diarahkan pada produktivitas, penguatan ekosistem usaha lokal, serta peluang UMKM untuk memasuki rantai nilai perusahaan.

UMKM Tak Cukup Hanya Didampingi

Ketua Bidang UMKM dan Koperasi APINDO Ronald Walla mengatakan pengembangan UMKM perlu diikuti dengan keterhubungan terhadap kebutuhan dunia usaha. Pengembangan UMKM tidak cukup berhenti pada pendampingan.

"Kita perlu membangun jembatan antara kesiapan pelaku UMKM dengan kebutuhan dunia usaha, sehingga peluang yang terbentuk dapat berkembang menjadi kemitraan yang nyata dan berkelanjutan," kata pria yang juga Presiden Direktur Wismilak ini.

Dalam kolaborasi tersebut, setiap pihak membawa pengalaman dan peran yang saling melengkapi. APINDO UMKM menghadirkan pendekatan pendampingan melalui program AUM (APINDO UMKM Mereka).

Sementara itu, Wismilak membawa pengalaman pengembangan kewirausahaan melalui Diplomat Success Challenge (DSC) dan inisiatif Desa Wismilak. ATC berperan dalam pengembangan kapasitas dan jejaring. Pura Nusantara turut merancang ruang pertemuan dengan pendekatan yang berakar pada nilai lokal Yogyakarta.

Kolaborasi itu sekaligus membuka ruang untuk memperkenalkan framework pengembangan UMKM kepada dunia usaha. Salah satu inisiatif yang sedang diuji coba APINDO UMKM adalah ApindoMart.

ApindoMart dirancang menjadi jembatan antara UMKM yang telah mendapatkan pendampingan dengan kebutuhan pasar. Inisiatif tersebut masih berada dalam tahap beta terbatas dan diarahkan untuk mendukung terbentuknya hubungan usaha yang lebih terukur antara pelaku UMKM dan calon pembeli.

Potensi UMKM Jogja Dipertemukan dengan Dunia Usaha

Dari sisi daerah, keterlibatan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) DIY serta Pemerintah Kota Yogyakarta memperkuat perspektif lokal dalam pengembangan ekosistem UMKM.

Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi menyampaikan penguatan UMKM membutuhkan kolaborasi yang mampu mempertemukan potensi lokal dengan jejaring dunia usaha secara berkelanjutan.

“Yogyakarta memiliki potensi UMKM yang kuat dan beragam. Karena itu, kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, komunitas, dan para pelaku UMKM menjadi penting agar potensi tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.”

Dari Pendampingan Menuju Kemitraan

Pendekatan yang dibangun dalam forum tersebut menempatkan UMKM bukan hanya sebagai penerima program, melainkan sebagai mitra kolaborasi yang memiliki potensi menjadi bagian dari rantai nilai dunia usaha.

Karena itu, forum IR Conference 2026 diarahkan untuk menghasilkan kesepahaman awal sekaligus membuka tindak lanjut yang dapat dikembangkan setelah kegiatan berlangsung.

"Kami bersama para mitra mendorong agar proses pengembangan UMKM bergerak dari sekadar pendampingan menuju akses pasar dan kemitraan yang lebih nyata," ujarnya.

Harapannya, hubungan yang terbentuk tidak berhenti pada pertemuan, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang memberikan nilai bagi pelaku UMKM maupun dunia usaha.

Semangat tersebut tercermin melalui pendekatan “srawung”, yaitu membangun hubungan, memperkuat kepercayaan, serta membuka ruang bagi lahirnya kemitraan. Dari hubungan yang terbangun itu, diharapkan muncul peluang kolaborasi dan transaksi yang dapat berkembang secara berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online