PM Thailand Sebut Tekanan Akademik Picu Penembakan di Sekolah

Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho Minggu, 09 Agustus 2026 16:47 WIB
PM Thailand Sebut Tekanan Akademik Picu Penembakan di Sekolah

Ilustrasi penembakan/Ist-Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyebut tekanan akademik diduga menjadi faktor utama di balik penembakan yang dilakukan seorang siswa berusia 14 tahun di Debsirin Nonthaburi School, Provinsi Nonthaburi, barat laut Bangkok.

Penembakan terjadi pada Jumat (7/8/2026) sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Sedikitnya sembilan orang tewas dalam insiden tersebut, sementara 14 korban lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit dan tujuh di antaranya berada dalam kondisi kritis.

"Ada banyak faktor lain yang menyebabkan insiden ini. Masalah utamanya adalah tekanan akademik," kata Anutin kepada wartawan, seperti dikutip Viory, Minggu (9/8/2026).

Pelaku menembak sejumlah orang di lingkungan sekolah sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya menggunakan senjata yang dibawa dalam serangan tersebut. Sebelum menuju sekolah, pelaku diduga menembak kedua kakek-neneknya di rumah.

Korban Penembakan Bertambah Menjadi 9 Orang

Dalam serangan di sekolah, lima staf sekolah tewas dan lebih dari 30 orang terluka. Jumlah korban meninggal kemudian bertambah menjadi sedikitnya sembilan orang setelah seorang siswi berusia 12 tahun meninggal akibat luka kritis pada Sabtu.

Sebanyak 14 korban lainnya masih mendapatkan perawatan di rumah sakit. Tujuh korban di antaranya dilaporkan berada dalam kondisi kritis.

Anutin mengatakan pelaku tinggal bersama kakek dan neneknya. Sang nenek diketahui berprofesi sebagai guru dan disebut cukup ketat dalam mendorong cucunya agar berprestasi di sekolah.

"Kami juga mengetahui bahwa kakek-neneknya, neneknya adalah seorang guru, dan dia ingin dia belajar dengan baik, sehingga dia cukup ketat," ujarnya.

Meski tekanan akademik disebut sebagai faktor utama, pemerintah Thailand masih menyelidiki berbagai kemungkinan faktor lain yang mendorong remaja tersebut melakukan penembakan. Polisi juga menyelidiki bagaimana pelaku dapat memperoleh akses terhadap senjata api.

Pelaku Lepaskan 26 Tembakan

Anutin mengatakan serangan tersebut berpotensi menimbulkan korban lebih banyak. Ketika aksi akhirnya berhenti, masih terdapat lebih dari 30 butir amunisi yang belum digunakan.

"Ini sangat disayangkan terjadi, tetapi kami masih beruntung semuanya berakhir. Pertama, karena pemuda yang melakukan insiden tersebut masih memiliki lebih dari 30 butir amunisi," katanya.

Penyelidikan awal menunjukkan pelaku melepaskan 26 tembakan menggunakan pistol yang terdaftar secara legal atas nama kakeknya.

Pejabat forensik mengatakan sebagian besar korban meninggal akibat satu luka tembak pada bagian vital tubuh, termasuk dada atau kepala. Luka tembak yang ditemukan pada pelaku juga dinilai konsisten dengan senjata yang digunakannya.

Sekolah Ditutup, Dukungan Mental Disiapkan

Pemerintah Thailand menyiapkan dukungan kesehatan mental bagi siswa dan guru yang terdampak penembakan. Wakil Perdana Menteri Yodchanan Wongsawat mengatakan pemerintah juga mengatur penutupan sekolah setelah serangan tersebut.

Debsirin Nonthaburi School menghentikan kegiatan belajar-mengajar pada 10 hingga 14 Agustus. Seluruh staf sekolah juga diminta bekerja dari rumah selama periode tersebut.

Pasca-penembakan, sejumlah orang tua mendatangi sekolah untuk mengambil barang-barang anak mereka yang tertinggal. Seorang ayah mengatakan putranya yang berada di sekolah ketika serangan terjadi masih mengalami trauma dan tidak dapat tidur sendirian.

Teman dekat Wakil Kepala Sekolah Kittipong Somrat, yang menjadi salah satu korban tewas, meminta pengamanan sekolah diperketat.

"Saya ingin ada pengendalian yang lebih baik dari ini karena kami tidak ingin insiden ini terjadi. Keluarganya sangat berduka dan sedang dalam perjalanan ke sini," katanya.

Akses Senjata Api Jadi Sorotan

Kasus penembakan di Debsirin Nonthaburi School kembali menyoroti persoalan akses terhadap senjata api di Thailand. Senjata yang digunakan pelaku tercatat secara legal atas nama kakeknya.

Thailand memiliki tingkat kepemilikan senjata api yang relatif tinggi di Asia. Data Small Arms Survey dan GunPolicy.org pada 2017 menunjukkan kepemilikan senjata api sipil di Thailand mencapai sekitar 15,1 senjata per 100 penduduk.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online