Kelompok Seni Tradisional Diberi Ruang di Suadesa Festival 2026

Newswire
Newswire Senin, 24 Agustus 2026 22:02 WIB
Kelompok Seni Tradisional Diberi Ruang di Suadesa Festival 2026

Suadesa Festival 2026 menjadi ruang bagi seniman lokal menampilkan kesenian tradisional sekaligus mendorong pelestarian budaya di Sleman. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN— Suadesa Festival 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menampilkan dan mengenalkan kesenian yang tumbuh di lingkungan mereka.

Festival yang berlangsung selama dua hari di kawasan Tiyasan, Condongcatur, Sleman, itu menghadirkan beragam kesenian lokal. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian acara yang digelar Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN).

Geliat budaya telah terlihat sejak kirab pada Sabtu (22/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, masyarakat menampilkan gunungan hasil bumi, Bregodo Lombok Abang, hingga barisan prajurit perempuan.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Minggu (23/8/2026) melalui penampilan Seni Kasidah Badui Walisongo Gandok Tambakan. Kesenian tersebut memadukan tari, musik, vokal, serta lagu bernuansa religi dan kebangsaan.

16 Penari dan 12 Musisi Tampil

Ketua Seni Kasidah Badui Walisongo Gandok Tambakan, Mukholid Hidayat, mengatakan kelompoknya tampil atas undangan pemerintah desa.

Sebanyak sekitar 16 penari, 12 musisi, dan lima vokalis terlibat dalam pertunjukan tersebut. Mereka membawakan delapan lagu, termasuk lagu religi dan lagu kebangsaan Hari Merdeka karya Husein Mutahar.

“Ini satu-satunya kesenian religi yang memiliki tari dan gerakan khas yang ada di Kabupaten Sleman,” ujar Mukholid, Minggu (23/8/2026).

Menurut Mukholid, kesempatan tampil dalam Suadesa Festival 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan kesenian khas lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Selain menjadi ajang promosi budaya, kegiatan tersebut dinilai membuka peluang bagi kelompok seni untuk kembali mendapatkan ruang pertunjukan secara rutin.

Festival Dorong Warga Kembali Berkesenian

Semangat serupa dirasakan pelaku seni lain yang terlibat dalam festival tersebut. Titik M mengatakan kesempatan tampil bersama berbagai kelompok kesenian dan musisi nasional seperti The Rain dan Jikustik memberikan dorongan tersendiri bagi pelaku seni lokal.

Menurutnya, keberadaan festival juga berdampak pada interaksi antarwarga. Persiapan pertunjukan membuat masyarakat lebih sering bertemu dan bekerja sama.

"Even ini memperkuat kebersamaan warga. Proses latihan dan persiapan pertunjukan membuat warga lebih sering bertemu dan bekerja sama, termasuk dalam menyiapkan kebutuhan selama latihan, warga semakin meningkat dan warga makin guyub,” ungkap Titik.

Kegiatan seni juga mulai kembali digerakkan kelompok Hadroh Azzahra Gandok Tambakan. Daronah, salah satu anggota kelompok tersebut, menilai Suadesa Festival mendorong pelaku seni di Gandok Tambakan hingga Tiyasan untuk kembali aktif berkegiatan.

Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin. Dengan demikian, kelompok seni lokal memiliki ruang untuk terus berlatih sekaligus mempertunjukkan karya mereka kepada masyarakat.

Generasi Muda Diharapkan Ikut Melestarikan Seni

Harapan agar kesenian lokal terus berkembang juga disampaikan Mursinah, anggota Hadroh Asyifa Pojok Tiyasan.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan kesenian tidak hanya berasal dari kalangan ibu-ibu. Generasi muda juga mulai dilibatkan dalam berbagai aktivitas seni di lingkungan masyarakat.

“Keterlibatan anak-anak dan generasi muda sangat penting agar kesenian tradisional bisa dilestarikan,” tutupnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online