Panas Bumi Ungaran Dikembangkan, PLN Siapkan PLTP 55 MW
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Penampilan salah satu model dalam Art-Volution Fashion Show, Jumat (20/4/2018)/Ist-Ayola Tasneem
Harianjogja.com, JOGJA--Kabar klaim warisan budaya kembali terdengar. Kali ini klaim diusung oleh Singapura bersama Malaysia, Brunei, dan Thailand yang akan mendaftarkan Kebaya sebagai warisan budaya tak benda ke UNESCO.
Bagaimana bisa? Tentu bisa karena UNESCO memiliki dua nominasi untuk mendaftarkan warisan budaya tak benda yakni single nation dan multi nation. Keempat negara tersebut sebenarnya sempat mengajak Indonesia untuk mendaftarkan kebaya bersama-sama namun ditolak karena Indonesia akan mendaftarkan kebaya secara mandiri lewat nominasi single nation.
Etti RS, anggota koalisi tradisikebaya.id menjelaskan jika mendaftarkan secara multinasional akan membiaskan riwayat budaya.
"Apabila diakui banyak negara, mungkin saja kebaya tidak lagi menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia, bukan lagi bagian dari jati diri bangsa. Karena itu, saya kira akan banyak komunitas yang menolak wacana ini," ujar Etti melansir Antara.
Bila satu per satu budaya menjadi "milik bersama" dengan negara lain generasi muda nantinya akan kebingungan dengan akar budaya mereka yang sebenarnya, tambahnya.
Keempat negara tersebut akan mengajukan kebaya sebagai warisan budaya tak benda secara multinasional pada Maret 2023 mendatang. Dewan Warisan Nasional Singapura (NHB) mengatakan, kebaya akan menjadi nominasi multinasional pertama Singapura ke UNESCO.
BACA JUGA: Menyatu dengan Code, Pria Ini Bertekad Merawat Peradaban
Sementara Indonesia sendiri telah melakukan persiapan untuk mendaftarkan kebaya ke UNESCO misalnya menetapkan Hari Kebaya Nasional, serta riset mendalam yang dilakukan oleh Kemendikbudristek, hingga Gerakan Kebaya Goes to UNESCO untuk mengajak masyarakat mengenakan kebaya sehingga kelestarian kebaya dapat terjaga.
Gerakan Kebaya Goes to UNESCO sudah dilakukan di banyak wilayah seperti parade kebaya di Jakarta, Solo, Salatiga, Surabaya, Malang, Bali bahkan para perempuan di Srilanka dan Shanghai turut melakukan gerakan ini. Gerakan Kebaya Goes to UNESCO telah dimulai sejak 9 Agustus dan akan berakhir pada 9 Desember mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.
Nakhoda KM Virgo Transport 8 berinisial AY ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan terkait tenggelamnya kapal di perairan Laut Jawa.
Nanang Hendarno resmi menjadi Dirut Telkom menggantikan Dian Siswarini. Simak profil dan susunan terbaru Direksi serta Komisaris Telkom.
Jadwal KRL Jogja-Solo 1 Oktober 2026 tersedia 15 perjalanan dari Jogja ke Palur. Simak jadwal tiap stasiun dan tarif Rp8.000.
Antrean Ketapang-Gilimanuk mencapai 17 km. ASDP mengoperasikan 26 kapal, tetapi kapasitas dermaga masih menjadi kendala.
Menteri Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat menyebut 138 orang jadi tersangka karhutla dan 68 perusahaan telah disegel.