Impor Bahan Baku Plastik dari AS Masuk Pertengahan Mei
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.
Aktivitas layanan di salah satu kantor dana pensiun lembaga keuangan (DPLK), di Jakarta, Rabu (2/1/2019). - Bisnis/Endang
Harianjogja.com, JAKARTA—Pandemi Covid-19 merubah cara pandang masyarakat Indonesia dalam mempersiapkan masa pensiun mereka di masa mendatang. Mereka tak bisa hanya mengandalkan tabungan sebagai jaminan finansial, namun juga investasi.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah peserta program dana pensiun di Indonesia hanya mencapai 4,63 juta orang hingga akhir 2018. Mereka tergabung dalam dua program yaitu Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DLPK) dan Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK). Angka itu tergolong rendang dibandingkan dengan total jumlah tenaga kerja, baik di sektor formal maupun informal yang menurut data BPS mencapai 129,36 juta orang per Februari 2019. Dengan demikian hanya sekitar 3,6% masyarakat yang mempersiapkan masa pensiun mereka.
BACA JUGA : Dana Pensiun Penting bagi Anda, Siapkan sejak Dini
Namun adanya pandemi COVID-19 mulai mengubah cara pandang masyarakat terhadap persiapan dana pensiun dan meningkatkan kesadaran pentingnya melakukan persiapan sejak dini. Berdasarkan survei global terbaru yang dilakukan Standard Chartered, ada 34% orang Indonesia menyebut persiapan tabungan pensiun sebagai tujuan finansial yang aktif mereka fokuskan di saat pandemi ini.
Penelitian ini mengangkat 12.000 responden 12 negara di dunia, melibatkan 1.000 orang Indonesia. Secara spesifik survei juga menanyakan responden terkait apa lakukan saat ini jika diberikan uang sekitar Rp19,2. Sebanyak 49% menjawab akan digunakan untuk tabungan jangka panjang, dari angka itu tercatat 27% di antaranya menyebut dari tabungan jangka panjang tersebut untuk dana pensiun.
“Pandemi COVID-19 membuktikan bahwa masyarakat tidak bisa mengandalkan tabungan semata sebagai jaminan finansial di masa setelah pensiun. Sangat penting mempertimbangkan investasi sedini mungkin untuk memastikan kesejahteraan diri, serta menikmati hidup nyaman di usia tua nanti,” kata Jens Reisch, President Director of Prudential Indonesia dalam keterangannya Rabu (3/2/2021).
BACA JUGA : Ini 5 Cara Meningkatkan Kualitas Sistem Pensiun
Ia menambahkan saat pandemi ini pihaknya memperkuat komitmen dalam melakukan beragam inovasi untuk memberikan perlindungan menyeluruh kepada pengguna jasa. Bersama dengan Standard Chartered Bank Indonesia menghadirkan inovasi terbaru PRULife Harvest Plan. “Program ini untuk melindungi serta membantu mereka menyiapkan masa depan yang lebih baik untuk diri sendiri dan keluarga mereka dalam memasuki pensiun,” ujarnya.
Cluster CEO, Indonesia & ASEAN Markets Standard Chartered Andrew Chia mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya perencanaan masa pensiun untuk menikmati kenyamanan baik selama masa produktif dan setelahnya. Program baru ini menambah jajaran inovasinya untuk dinamika kebutuhan gaya hidup nasabah.
“Kami berkomitmen mengedukasi masyarakat Indonesia serta meningkatkan pemahaman finansial mereka untuk dapat lebih baik mengelola keuangan mereka dengan baik dan memperkuat kestabilan ekonomi rumah tangga mereka, demi masa pensiun,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mendag Budi Santoso memastikan impor bahan baku plastik berupa nafta dari AS mulai masuk Indonesia pada pertengahan Mei 2026.
Kemlu RI mengonfirmasi tujuh WNI tewas akibat kapal tenggelam di Pulau Pangkor, Malaysia. Tujuh korban lainnya masih dicari.
Pemerintah menyiapkan aturan KPR tenor 40 tahun agar cicilan rumah lebih ringan dan akses rumah murah semakin mudah dijangkau masyarakat.
Bahlil Lahadalia mengaku sudah menjelaskan aturan baru harga patokan mineral kepada investor dan Kedubes China di tengah kekhawatiran regulasi tambang.
DPRD DIY menyoroti indikator kinerja daerah yang baru 40 persen meski ekonomi DIY tumbuh dan angka kemiskinan menurun.
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.