Waspada Transportasi Laut, Gelombang Tinggi Diperkirakan Terjadi 7 Hari ke Depan

Ilustrasi. Sebuah kapal pesiar merapat di Dermaga Gapura Surya Nusantara atau juga dikenal Surabaya North Quay, Tanjung Perak, Surabaya. - Pelindo III
19 Februari 2021 15:47 WIB Rio Sandy Pradana News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta seluruh stakeholder pelayaran untuk mewaspadai cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi yang terjadi hingga 24 Februari 2021.

Direktur Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP), Ahmad menyampaikan, Maklumat Pelayaran menginstruksikan kepada Kepala Kantor Kesyahbandaran Utama, Kepala Kantor KSOP, Kepala Kantor UPP, Kepala Kantor KSOP Khusus Batam, Kepala Pangkalan PLP, serta Kepala Distrik Navigasi di seluruh Indonesia untuk mewaspadai bahaya cuaca ekstrem selama 7 hari ke depan.

BACA JUGA : Waspada, Gelombang Tinggi Diperkirakan Terjadi di Pantai

"Berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada 17 Februari 2021, diperkirakan pada 18 sampai dengan 24 Februari 2021, [terjadi] cuaca ekstrem dengan gelombang tinggi," kata Ahmad, Jumat (19/2/2021).

Dia menginstruksikan seluruh Syahbandar untuk setiap hari, melakukan pemantauan ulang kondisi cuaca melalui situs BMKG, serta menyebarluaskanya kepada pengguna jasa, termasuk publikasi di terminal atau tempat embarkasi debarkasi penumpang. Syahbandar juga diminta untuk menunda Surat Persetujuan Berlayar (SPB) sampai kondisi cuaca benar-benar aman untuk berlayar.

Ahmad menuturkan kegiatan bongkar muat barang diawasi untuk memastikan kegiatan dilaksanakan dengan tertib dan lancar, muatan dilashing, kapal tidak overdraft serta stabilitas kapal tetap baik. Apabila terjadi tumpahan minyak di laut agar segera berkoordinasi dengan Pangkalan Penjagaan Laut dan Pantai (PLP) terdekat untuk membantu penanggulangan tumpahan minyak.

BACA JUGA : Waspadai Gelombang Tinggi di Pantai Selatan

Kepada operator kapal, khususnya Nakhoda, agar melakukan pemantauan kondisi cuaca sekurangnya 6 jam sebelum kapal berlayar dan melaporkan hasilnya kepada Syahbandar pada saat mengajukan SPB. Selama pelayaran di laut, Nakhoda agar wajib melakukan pemantauan kondisi cuaca setiap 6 jam dan melaporkan hasilnya kepada Stasiun Radio Pantai terdekat serta dicatatkan ke dalam Log Book pelayaran.

“Bagi kapal yang berlayar lebih dari 4 jam, Nahkoda diwajibkan melampirkan berita cuaca yang telah ditandatangani sebelum mengajukan SPB kepada Syahbandar,” ujarnya.

Pada saat kapal dalam pelayaran mendapat cuaca buruk, agar segera berlindung di perairan yang aman dengan ketentuan kapal harus tetap siap digerakkan. Setiap kapal yang berlindung wajib segera melaporkan kepada Syahbandar dan SROP terdekat dengan menginformasikan posisi kapal, kondisi cuaca dan kondisi kapal serta hal-hal penting lainnya serta melakukan pemantauan/ pengecekan terhadap kondisi kapal untuk mencegah terjadinya kecelakaan kapal yang dapat menyebabkan terjadi tumpahan minyak di laut.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia