Kerusuhan 21-22 Mei Masih Membekas di Masyarakat

Suasana depan gedung Bawaslu, Jalan MH Thamrin Jakarta, Rabu (22/5/2019) malam. - JIBI/Bisnis Indonesia/Lalu Rahadian
17 Juni 2019 06:47 WIB Aziz Rahardyan News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA— Kerusuhan 21-22 Mei yang disebut mencoreng penyelenggaraan demokrasi Tanah Air masih membekas di benak masyarakat.

Hal ini tercermin lewat survei terbaru Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) yang mengungkap persepsi masyarakat terkait ekonomi, politik, penegakan hukum, keamanan, dan perkembangan demokrasi Indonesia.

"Kemunduran demokrasi di Indonesia itu konsisten dengan penilaian warga atas kondisi politik-ekonomi secara umum," ujar Direktur Program SMRC, Sirojudin Abbas di Kantor SMRC, Minggu (16/6/2019).

Abbas mengungkap bahwa masyarakat masih optimis terhadap kondisi ekonomi nasional selepas perhelatan Pemilu Serentak 2019 dan kerusuhan 21-22 Mei. Tetapi, tiga indikator lain cenderung mengarah ke sentimen negatif, yaitu terkait politik, penegakkan hukum, dan keamanan.

"Yang dirasakan berubah adalah penilaian terhadap kondisi politik dan keamanan. Ada penurunan penilaian positif atas kondisi politik dan keamanan," jelasnya.

Dalam perbandingan hasil survei SMRC antara April 2019 dan Mei 2019, terungkap bahwa masyarakat yang menilai kondisi politik semakin baik menurun dari 34 persen menjadi 32 persen. Yang sedang-sedang saja pun menurun dari 34 persen menjadi 27 persen.

Sementara yang menganggap kondisi politik semakin buruk, justru meningkat dari 17 persen menjadi 28 persen. Yang menganggap sangat buruk pun naik dari 3 persen menjadi 5 persen.

Untuk penilaian kondisi penegakkan hukum, yang mengatakan semakin baik stagnan di angka 45 persen. Yang sedang-sedang saja turun dari 28 persen menjadi 27 persen.

Sementara yang menganggap kondisi penegakkan hukum semakin buruk, justru meningkat dari 18 persen menjadi 19 persen.

Terakhir, penilaian masyarakat terhadap kondisi keamanan pun sama. Masyarakat yang menganggap semakin baik menurun dari 56 persen menjadi 55 persen.

Sedangkan yang sedang-sedang saja stagnan sebesar 29 persen. Tetapi, yang menganggap kondisi keamanan semakin buruk, meningkat dari 10 persen menjadi 14 persen.

"Peristiwa 21-22 Mei membentuk evaluasi publik terhadap demokrasi di Indonesia," ungkap Abbas.

"Namun, memburuknya demokrasi ternyata belum membuat rakyat Indonesia mengendur atau patah semangat dengan keinginan agar Indonesia menjadi semakin demokratis," tambahnya.

Hal ini pun diungkap dalam survei, bahwa 82 persen masyarakat memang masih percaya pada demokrasi walaupun masih belum sempurna. Selain itu, 75 persen masyarakat masih menilai positif bahwa bangsa Indonesia berjalan ke arah yang benar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia