Kisah Pilu Suyanto, Cerita Anaknya Lumpuh Setelah Divaksin Rubella

Ilustrasi vaksin. - Reuters
06 November 2018 19:50 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, TULUNGAGUNG- Seorang siswa di Tulungagung, Jawa Timur dikabarkan jadi korban malapraktik imunisasi Measles Rubella (MR).

Suyanto (58), orang tua dari Wildan (12), siswa MTS yang mengalami kelumpuhan kaki pascaimunisasi MR, Selasa melakukan aksi jalan kaki dari Tulungagung menuju Kediri, Jawa Timur, memprotes dugaan malapraktik yang dialami putranya tersebut.

Suyanto, asal Desa Sumberejo Kulon, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, memulai aksinya sendirian, dari perempatan RS lama, Jalan Raya Sudirman, Kota Tulungagung, dengan rencana sampai Kota Kediri.

Sambil membawa dua poster bertuliskan "Anakku Korban Rubella" dan "Menuntut Keadilan Untuk Anakku Wildan" yang dikalungkan di badan bagian depan dan belakang, Suyanto terus berjalan menyusuri as/median jalan raya itu ke arah Kediri.

Aksi Suyanto menarik perhatian para pengguna jalan yang sejak Selasa pagi mulai memadati jalan provinsi yang ada di tepian jantung Kota Tulungagung tersebut.

"Saya ingin menuntut keadilan untuk anakku yang saat ini mengalami kelumpuhan kaki total pascaimunisasi MR [measles and rubella] oleh petugas Dinkes Kediri di sekolahnya, MTS Lirboyo, Kediri," kata Suyanto dengan mata berkaca-kaca.

Saat memulai cerita tentang anaknya yang kini menjalani rawat inap di RSUD Saiful Anwar Kota Malang, Suyanto masih terlihat tegar.

Namun begitu dia mengisahkan kondisi putra bungsunya yang lumpuh total dan sempat dikabarkan meninggal dunia dalam perawatan di RSSA Kota Malang, Suyanto menangis sesenggukan.

"Dia sebelumnya memang sempat sakit gejala tipes dan izin tidak masuk pondok pesantren maupun sekolah. Dia kemudian kembali ke Kediri [masuk Ponpes Lirboyo dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar di MTS setempat] itu kondisinya belum pulih betul ketika petugas dari puskesmas melakukan imunisasi MR massal di sekolah anak saya tersebut," tutur Suyanto.

Hanya selang beberapa jam setelah penyuntikan vaksin MR pada Rabu (24/10/2018), Wildan mengeluhkan kakinya mulai lemas. Kondisi itu semakin memburuk dan Wildan akhirnya tak bisa jalan.

"Pagi diimunisasi, sore hari kakinya sudah lemas," tuturnya.

Suyanto masih berharap Wildan bisa dipulihkan seperti semula. Ia upayakan pengobatan medis, mulai dari RS di Kediri, ke RSUD dr Iskak, hingga sekarang dirawat di RSUD Saiful Anwar yang memiliki kelengkapan sarana medis dan dokter ahli yang mumpuni.

"Saya hanya ingin meminta pertanggungjawaban dari Dinas Kesehatan, karena saat dilakukan vaksinasi itu tidak ada konfirmasi ataupun persetujuan dari wali/orang tua siswa," ujarnya.

Beban pikiran yang kini dirasakan Suyanto adalah biaya pengobatan Wildan selama menjalani rawat inap di rumah sakit.

Dokter yang menangani Wildan menjelaskan, santri Ponpes Lirboyo asal Tulungagung ini menderita "guillain-barre syndrome" (GBS).

BGS adalah kondisi gangguan kekebalan tubuh yang menyerang sistem syaraf.

Wildan membutuhkan pengobatan plasmapheresis sebanyak lima kali. Total biaya yang dibutuhkan sebesar Rp120 juta.

Namun BPJS Kesehatan menyatakan, hanya menanggung biaya pengobatan awal.

"Itu yang membuat saya merasa keberatan. Saya tidak sanggup menanggung biaya sebesar itu," ujarnya.

Namun jika kondisinya tidak berubah, Suyanto masih memikirkan alternatif menempuh jalur hukum.

Sebelum imunisasi, pada Jumat (19/10/2018) Wildan sempat pulang dari pondok pesantren di Kediri karena sakit tifus atau tipes.

Setelah berobat,Wildan kembali ke pondok pesantren pada Selasa (22/10/2018).

Keesokan harinya, Rabu (23/10/2018) ada imunisasi massal di sekolah Wildan. Meski baru sembuh dari sakit, Wildan langsung disuntik vaksin rubella tanpa izin orang tua.

Imunisasi yang dilakukan setelah sakit inilah yang dipertanyakan keluarga Wildan.

Sumber : Antara