Demo Meluas di Eropa, Ini 6 Negara yang Dilanda Aksi Protes

Jumali
Jumali Senin, 19 Oktober 2026 09:37 WIB
Demo Meluas di Eropa, Ini 6 Negara yang Dilanda Aksi Protes

Foto ilustrasi demonstrasi. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Gelombang demonstrasi yang berlangsung di Prancis meluas di tengah meningkatnya keluhan masyarakat mengenai biaya hidup, akses pendidikan, dan kondisi layanan publik. Sejumlah negara Eropa lainnya juga mengalami aksi protes, meski tuntutan yang disuarakan berbeda-beda di setiap negara.

Di Prancis, demonstrasi yang awalnya digerakkan pelajar untuk menuntut perbaikan sistem pendidikan berkembang menjadi gerakan yang melibatkan mahasiswa, serikat pekerja, dan kelompok masyarakat lainnya. Aksi tersebut turut diwarnai protes terhadap kenaikan biaya hidup.

Pada Sabtu (17/10/2026), demonstrasi di sejumlah kota Prancis berujung bentrokan, penjarahan, dan kebakaran. Al Jazeera mengungkapkan. aksi serupa juga berlangsung di sejumlah negara Eropa, termasuk Italia dan Belgia, dengan tuntutan terkait kondisi ekonomi dan akses pendidikan.

Meski memiliki sejumlah kesamaan, aksi-aksi tersebut tidak sepenuhnya terkoordinasi dan memiliki persoalan domestik masing-masing. Berikut rangkuman demonstrasi di enam negara Eropa berdasarkan laporan yang dihimpun.

1. Prancis

Demonstrasi pelajar di Prancis telah berlangsung selama beberapa pekan sebelum meluas ke berbagai kota. Para pelajar memprotes kondisi sekolah, termasuk kekurangan guru, ruang kelas yang terlalu padat, serta fasilitas pendidikan yang dinilai tidak memadai.

Pada pertengahan Oktober, gerakan tersebut mendapat dukungan dari kelompok mahasiswa, serikat pekerja, dan aktivis rompi kuning atau gilets jaunes. Kelompok-kelompok tersebut turut membawa tuntutan mengenai biaya hidup dan kondisi ekonomi masyarakat.

Salah satu aktivis rompi kuning, Jeromes Rodrigues, mengatakan aksi itu dimaksudkan untuk menyuarakan kepentingan masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kemarahan tak mengenal partai politik, kulkas kosong tak mengenal partai politik," kata dia, dikutip BBC.

Demonstrasi pada Sabtu (17/10/2026) kemudian diwarnai kerusuhan di sejumlah lokasi. Sekelompok orang menjarah toko dan membakar benda-benda di jalan ketika aksi mulai mereda. Polisi merespons dengan menggunakan gas air mata.

Kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah bangunan dan kendaraan. Di Limoges, gedung balai kota bersejarah mengalami kerusakan akibat kebakaran. Sementara itu, sejumlah lokasi di Paris dan Lyon turut terdampak kerusuhan.

Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana protes yang berawal dari persoalan pendidikan berkembang menjadi gerakan yang membawa berbagai tuntutan sosial dan ekonomi. Namun, aksi damai dan tindakan kekerasan perlu dibedakan karena tidak seluruh peserta demonstrasi terlibat dalam kerusuhan.

2. Italia

Italia juga mengalami demonstrasi pada Sabtu (17/10/2026). Warga di sejumlah kota, termasuk Roma dan Milan, turun ke jalan untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan harga bahan bakar minyak (BBM).

Di Roma, serikat pekerja CGIL menggelar aksi untuk menentang kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni.

Sementara itu, di Bologna, sekelompok orang yang menutupi wajah terlibat bentrokan dengan polisi. Para demonstran melempar batu dan botol, sedangkan petugas merespons dengan tongkat dan gas air mata.

Di Turin, demonstran meneriakkan slogan yang menyasar National Future, partai berhaluan kanan jauh yang dipimpin mantan jenderal Roberto Vannacci.

Aksi di Milan juga berujung bentrokan di Piazza del Duomo, pusat kota. Sejumlah demonstran yang mengenakan penutup wajah dilaporkan melempar alat pemadam kebakaran.

Berbagai aksi tersebut memperlihatkan beragam persoalan yang menjadi perhatian masyarakat Italia, mulai dari tekanan biaya hidup hingga penolakan terhadap kelompok politik tertentu.

3. Albania

Di Tirana, ibu kota Albania, demonstrasi mahasiswa berlangsung selama beberapa hari. Para mahasiswa menuntut perbaikan sistem pendidikan, biaya pendidikan yang lebih terjangkau, serta prospek pekerjaan yang lebih baik setelah lulus.

Aksi tersebut kemudian diikuti kelompok lain yang menyuarakan penolakan terhadap korupsi dan ketidaksetaraan.

Unjuk rasa itu berlangsung di tengah gerakan protes yang lebih luas terkait persoalan pemerintahan dan pembangunan. Salah satu isu yang disebut dalam laporan awal adalah penolakan terhadap proyek resor mewah yang dikaitkan dengan Jared Kushner, menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Di Tirana, sebagian aksi dilaporkan berkembang menjadi kekerasan. Sejumlah orang menyerang bangunan pemerintahan, bank, dan infrastruktur sipil. Aparat merespons dengan gas air mata, meriam air, serta pemasangan penghalang beton.

Tuntutan mahasiswa di Albania menunjukkan bahwa persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri. Kesempatan kerja, biaya hidup, dan kepercayaan terhadap pemerintahan juga menjadi bagian dari keresahan yang disuarakan sebagian demonstran.

4. Yunani

Di Yunani, mahasiswa menggelar demonstrasi di Lapangan Syntagma, Athena, pada 13 Oktober 2026. Lokasi aksi berada di dekat gedung parlemen.

Para mahasiswa memprotes mahalnya biaya tempat tinggal dan keterbatasan hunian yang layak. Mereka menuntut penurunan harga sewa, penambahan fasilitas tempat tinggal mahasiswa, peningkatan subsidi, serta pendanaan pendidikan yang lebih baik.

Persoalan tempat tinggal menjadi salah satu perhatian utama karena biaya sewa dapat membebani mahasiswa, terutama mereka yang harus tinggal jauh dari keluarga untuk menempuh pendidikan.

Di sektor pendidikan, aksi duduk di sekolah juga dilaporkan meningkat di tengah persoalan kekurangan guru.

Tuntutan para demonstran mencerminkan kekhawatiran terhadap kemampuan mahasiswa mengakses pendidikan sekaligus memenuhi kebutuhan dasar, khususnya tempat tinggal.

5. Spanyol

Di Spanyol, guru dan murid menggelar demonstrasi bertajuk Marea Verde atau Gelombang Hijau pada pertengahan Oktober.

Mereka menuntut peningkatan pendanaan publik untuk pendidikan, kenaikan gaji, pengurangan jam mengajar, serta penambahan tenaga pendidikan dengan keahlian khusus.

Kelompok yang mengkritik kebijakan pendidikan pemerintah daerah menilai sejumlah kebijakan berisiko memperluas privatisasi dan mengurangi dukungan terhadap sekolah negeri. Kritik tersebut, sebagaimana dikutip Daily Sabah, menjadi bagian dari perdebatan mengenai arah kebijakan pendidikan di Spanyol.

Tuntutan para demonstran berpusat pada kondisi kerja tenaga pendidik dan kualitas layanan pendidikan. Mereka menginginkan dukungan anggaran yang lebih memadai agar sekolah negeri dapat menyediakan layanan yang dibutuhkan siswa.

6. Belgia

Di Belgia, ratusan orang, sebagian besar anak muda, mengikuti demonstrasi di Brussel pada Sabtu (17/10/2026). Sebagian peserta terlibat bentrokan dengan polisi di tengah aksi yang disebut turut terinspirasi oleh gelombang demonstrasi di negara tetangganya, Prancis.

Gerakan mahasiswa tersebut memprotes kenaikan biaya pendidikan dan sejumlah reformasi yang dikhawatirkan membuat pendidikan tinggi semakin sulit diakses.

Banyak demonstran mengenakan penutup wajah dan meneriakkan slogan antifasis. Menurut saksi mata Reuters, polisi menggunakan gas air mata dan meriam air, sementara sebagian demonstran membalikkan sebuah mobil.

Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin menyampaikan tanggapan melalui unggahan di X.

"Apa yang sedang terjadi di Brussel bukan lagi sekadar aksi protes," tulis Quintin.

Ia menambahkan bahwa "segala cara yang diperlukan akan digunakan untuk memulihkan ketertiban dalam menghadapi para perusuh".

Selain Brussel, demonstrasi juga dilaporkan berlangsung di Liège. Para mahasiswa di kota tersebut menyuarakan persoalan sistem pendidikan berbahasa Prancis, kenaikan biaya pendidikan, dan kesulitan memperoleh bahan pembelajaran.

Aksi di Belgia memperlihatkan adanya kesamaan keresahan dengan gerakan pelajar di Prancis, terutama mengenai biaya pendidikan dan akses terhadap pendidikan tinggi. Meski demikian, tuntutan dan dinamika setiap demonstrasi tetap dipengaruhi oleh kondisi dalam negeri masing-masing.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online