Pemerintah Siapkan 3 Pabrik Tepung Telur dan Tepung Daging

Newswire
Newswire Senin, 12 Oktober 2026 07:37 WIB
Pemerintah Siapkan 3 Pabrik Tepung Telur dan Tepung Daging

Ilustrasi./Harian Jogja

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging untuk memperkuat ekosistem peternakan nasional. Proyek ini ditujukan untuk memperluas pasar hasil produksi peternak, menjaga stabilitas harga, dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan pabrik tersebut menjadi bagian dari strategi mengintegrasikan sektor peternakan dari hulu hingga hilir. Rencana itu mencakup penyediaan bahan baku pakan, penguatan produksi petani dan peternak, hingga penyerapan serta pengolahan hasil produksi.

Amran menyebut pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) dan Menteri Perdagangan untuk membahas rencana tersebut. Pemerintah berharap pembangunan dapat dimulai pada 2027, dengan perkiraan waktu penyelesaian sekitar 1,5 tahun hingga maksimal dua tahun.

"Kami sudah telepon BP BUMN dan Menteri Perdagangan. Kami sepakat membangun ekosistem ternak, terutama pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging. Insyaallah, mudah-mudahan tahun depan sudah bisa mulai. Targetnya 1,5 tahun selesai, maksimal 2 tahun," ujar Amran, dikutip dari Antara, Senin (12/10/2026).

Menurut Amran, industri pengolahan diperlukan untuk mengatasi persoalan pemasaran hasil peternakan yang berulang. Keberadaan pabrik diharapkan mampu menyerap kelebihan produksi sekaligus mengurangi ketergantungan pada penjualan produk segar.

Tiga Pabrik Ditargetkan Tekan Impor

Amran menilai pembangunan industri pengolahan dapat menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan di sektor peternakan. Pemerintah ingin memastikan hasil produksi peternak tetap terserap ketika pasokan telur atau daging ayam melimpah.

"Ini solusi permanen, fundamental. Kalau pabriknya berdiri, impor tepung telur kami hentikan. Kami sudah sepakat. Harapannya, setelah ekosistem ini berdiri, persoalan yang sama tidak terus berulang," tegasnya.

Rencana pembangunan tiga pabrik tersebut akan ditindaklanjuti melalui studi kelayakan atau feasibility study (FS). Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi awal sekitar Rp200 miliar untuk setiap pabrik, dengan kemungkinan meningkat menjadi Rp250 miliar untuk fasilitas yang mencakup pengolahan daging.

Amran meminta jajaran terkait mengawal proses persiapan agar perencanaan, kebutuhan anggaran, dan pembangunan fasilitas dapat segera ditindaklanjuti. Pemerintah juga membuka peluang bagi pihak swasta untuk terlibat dalam pengembangan industri tersebut.

"Kalau ada swasta mau bergandengan, silakan. Tapi negara ada di sampingnya," katanya.

Hasil Peternakan Akan Diolah Menjadi Produk Bernilai Tambah

Menurut Amran, penguatan ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir dapat memberikan manfaat bagi petani, peternak, dan industri pengolahan. Petani memiliki pasar untuk jagung yang dihasilkan, sedangkan peternak diharapkan memperoleh kepastian pasokan pakan.

Di sisi lain, industri pengolahan dapat menjadi saluran penyerapan ketika produksi telur dan daging ayam berlebih. Hasil peternakan yang sebelumnya dijual dalam bentuk segar dapat diolah menjadi produk yang memiliki daya simpan dan pemanfaatan lebih luas.

Dengan pola tersebut, peternak diharapkan tidak hanya bergantung pada penjualan produk segar yang rentan terhadap perubahan permintaan dan harga. Industri pengolahan juga diharapkan membantu mengurangi kerugian ketika terjadi kelebihan pasokan.

"Keuntungannya adalah meningkatkan kesejahteraan peternak, mengurangi kerugian yang sering terjadi pada bulan-bulan tertentu, dan mengurangi belanja devisa untuk impor. Ini keputusan mendasar, kita bangun ekosistem peternakan yang terintegrasi satu sama lain," tegasnya.

Amran mengatakan seluruh langkah tersebut diarahkan untuk menciptakan usaha peternakan yang lebih menguntungkan dan berkelanjutan. Pemerintah ingin peternak memperoleh pakan dengan harga terjangkau, memiliki kepastian pasar, serta tidak terus menanggung kerugian ketika produksi melimpah.

Ia menambahkan peningkatan kesejahteraan petani dan peternak perlu didukung ekosistem usaha yang sehat. Peningkatan produksi harus diimbangi ketersediaan bahan baku, penyerapan hasil, serta kemampuan industri mengolah produk menjadi barang dengan nilai tambah lebih tinggi.

Pemerintah Dorong Ketersediaan Protein Masyarakat

Selain memperkuat industri peternakan, Amran menyoroti pentingnya meningkatkan konsumsi protein masyarakat melalui ketersediaan beragam sumber pangan. Sumber protein yang disebutkan antara lain ikan, ayam, dan telur.

Menurutnya, penguatan produksi protein dalam negeri perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keterjangkauan harga dan memperluas pasar. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi sekaligus mendukung keberlanjutan usaha peternak.

"Intinya, bagaimana ekonomi bergerak dan bagaimana peternak jangan dipersulit. Pakan tersedia dengan baik, kemudian harga telur dan daging stabil. Kami ingin peternak untung dan kesejahteraannya meningkat," ujarnya.

Melalui pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging, pemerintah mendorong transformasi peternakan nasional menuju industri yang lebih terintegrasi. Pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran produk bernilai tambah diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat pasar domestik.

Dengan dukungan pemerintah, kolaborasi lintas kementerian, keterlibatan peternak, serta peluang kemitraan dengan swasta, proyek tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan kesejahteraan petani serta peternak Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online