SBY Kenang Guruh Soekarnoputra dan Mahakarya Seni yang Ditinggalkan
SBY mengenang Guruh Soekarnoputra melalui pameran lukisan dan perbincangan di Istana serta menyoroti sumbangsihnya bagi seni dan Indonesia.
Foto ilustrasi bahan bakar energi nabati atau biofuel. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Indonesia diprediksi tetap kokoh menghadapi guncangan pasar energi dunia meski eskalasi ketegangan di Timur Tengah antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel terus memanas.
Pakar ekonomi dan bisnis dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Profesor Hamid Paddu, menegaskan bahwa posisi dalam negeri saat ini berada pada jalur yang tepat (on the right track) sehingga masyarakat tidak perlu mengkhawatirkan ketersediaan pasokan energi nasional.
Pandangan optimis ini muncul sebagai respons atas laporan media internasional The Economist bertajuk "Which country is the biggest loser from the energy shock" yang menempatkan Indonesia sebagai negara berkembang paling aman.
Laporan tersebut mengategorikan Indonesia dalam kelompok dengan paparan risiko rendah namun memiliki bantalan ketahanan yang kuat (low exposure, strong buffer).
“Saya kira, ya [on the right track]. Karena 'The Economist' tentu lebih fair. Mereka tentu melaporkan berbasis data, evidence based yang ada,” ujar Hamid dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (24/3/2026).
Keberhasilan Indonesia dalam menjaga stabilitas energi tidak lepas dari strategi diversifikasi yang dijalankan pemerintah secara masif, mulai dari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga percepatan ekosistem kendaraan listrik.
Langkah strategis BUMN seperti Pertamina dalam mengeksplorasi Energi Baru Terbarukan (EBT), khususnya panas bumi (geothermal), menjadi pilar utama yang memperkuat struktur energi nasional.
Bahkan, performa ketahanan energi Indonesia disebut jauh lebih stabil dibandingkan negara-negara tetangga seperti Vietnam, yang kini menjadi sorotan pelaku ekonomi global.
Selain fokus pada transisi hijau, Indonesia juga memperkuat kedaulatan energi melalui penemuan cadangan minyak baru yang diprediksi mampu menopang kebutuhan domestik dalam jangka menengah.
Saat ini, cadangan minyak terbukti (proven reserves) nasional mencapai angka 4,4 miliar barel yang diproyeksikan aman untuk sepuluh tahun ke depan.
”Kita masih memiliki cadangan minyak yang cukup besar. Untuk jangka menengah, kita tidak terlalu terpapar jika kondisi geopolitik terus berlanjut,” tegas Hamid, sembari mengingatkan pentingnya industrialisasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi secara menyeluruh.
Meski memiliki bantalan yang kuat, Badan Energi Internasional (IEA) menyarankan agar masyarakat tetap bijak dalam mengonsumsi energi guna mengantisipasi gangguan pasokan jangka pendek.
Dalam laporan per 20 Maret 2026, IEA merekomendasikan langkah efisiensi seperti bekerja dari rumah jika memungkinkan, meminimalkan mobilitas transportasi darat dan udara, hingga beralih ke kompor listrik.
Sinergi antara kebijakan pemerintah dalam menyediakan cadangan energi dan perilaku hemat energi dari masyarakat diharapkan menjadi instrumen vital untuk menjaga keterjangkauan harga dan stabilitas arus balik Lebaran 2026 serta aktivitas ekonomi nasional di masa depan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
SBY mengenang Guruh Soekarnoputra melalui pameran lukisan dan perbincangan di Istana serta menyoroti sumbangsihnya bagi seni dan Indonesia.
Revitalisasi 71.744 sekolah ditargetkan pada 2027 dengan prioritas sekolah terdampak bencana, rusak berat, dan daerah 3T.
Harga emas Antam, UBS dan Galeri 24 di Pegadaian Minggu 27 September 2026 naik. Cek harga jual dan buyback berbagai ukuran.
Simulasi UMP 2027 jika naik 7,5%-9,5%. UMP DKI Jakarta berpotensi mencapai Rp6,27 juta berdasarkan usulan KSPI dan Partai Buruh
BMKG memprakirakan hujan ringan di sejumlah kota pada Minggu. Yogyakarta diprakirakan mengalami udara kabur.
Prabowo Subianto menelon Rahmat Erwin Abdullah usai meraih emas dan memecahkan rekor dunia angkat besi Asian Games 2026.