Endank Soekamti hingga Superman Is Dead Bakal Ramaikan Rebelfest 2026, Ini Jadwalnya
YK Rebelfest Vol. 3 digelar di Maguwoharjo dengan 23 penampil, mengusung tema Welcome Home Saudaraku dan konsep Lebaran Punk Rock.
Barista mempraktikkan cara menyeduh kopi, Rabu (8/6/2022)./Istimewa
Harianjogja.com, JOGJA—Spesies kopi terancam punah akibat perubahan iklim telah menjadi isu global. Cuaca yang tidak menentu dengan kondisi panas berlebihan menimbulkan kopi jenis tertentu seperti Arabika tak bisa berbunga.
Berdasarkan data BPS ekspor pertanian dan kehutanan pada April 2022 mengalami penurunan sekitar 8,42%. Salah satu dari dua penyebab penurunan itu karena menurunnya komoditas kopi.
BACA JUGA: Terhimpit Biaya Sekolah dan Pengobatan, Pelaku Pencurian di Jogja Dibebaskan dari Tuntutan
Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi kopi dunia pada 2021-2022 menurun 8,5 juta kantong dibandingkan dengan sebelumnya di angka 167,5 juta kantong. Dalam outlook USDA pada Desember 2021 produksi kopi Indonesia diperkirakan turun 100.000 kantong.
Pada 2019 silam Reuters melaporkan penelitian Aaron Davis dari Royal Gardens Inggris bahwa tindakan konservasi saat ini untuk spesies kopi liar tidak cukup untuk melindungi masa depan jangka panjang mereka. Spesies kopi seperti Arabika dan Robusta paling beresiko punah akibat perubahan iklim.
Kondisi itu diamini oleh Head of Corporate Communication Kapal Api Global Pangesti Boedhiman dalam diskusi Mengenal Kopi Single Origin Indonesia di Galeria Mall pada Rabu (8/6/2022) sore. Menurutnya ancaman kepunahan spesies kopi seperti Arabika bukan sekadar isu. Kondisi ini disebabkan oleh pemanasan global.
“Apakah kita bisa membayangkan bagaimana jika kopi seperti Arabika ini tidak ada lagi? Ini harus jadi gerakan bersama untuk menangani perubahan iklim,” katanya.
Saat ini penurunan hasil produksi kopi telah terjadi di beberapa negara. Bahkan Brasil sebagai negara penghasil kopi terbesar sudah merasakan kondisi itu. Hal ini dipengaruhi perubahan iklim. Kopi Arabika hanya bisa tumbuh di dataran tinggi antara 1.000-2.100 dibatasi permukaan laut dan butuh suhu antara 15-23 derajat Celcius. Ia mengajak masyarakat, terutama penikmat kopi, berkontribusi dalam penanganan perubahan iklim.
“Kehilangan Arabika itu kayak gimana, dan itu sudah kejadian di Brasil. Semakin panas, kopi enggak bisa berkembang dengan baik [tidak bisa panen]. Intinya climate change itu nyata bukan hoaks,” ucapnya.
Pemandu Kelas Kopi Ari Siswanto memaparkan tentang teknik penyeduhan kopi dengan baik agar mendapatkan cita rasa kopi yang sempurna. Menurutnya kopi yang diseduh dengan menggunakan coffee press menghasilkan aroma yang baik dan bentuk sedang. Jika diseduh dengan coffee machine, kopi akan menghasilkan level acidity dan bentuk yang tertinggi, dengan aroma berskala menengah.
“Ada tiga cara penyeduhan kopi untuk single origin, dengan menggunakan coffee press, coffee machine, dan syphon brew. Bagi para penggemar yang lebih menikmati kopi dengan aroma harum dan rasa asam, dapat menyeduh pakai syphon brew,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
YK Rebelfest Vol. 3 digelar di Maguwoharjo dengan 23 penampil, mengusung tema Welcome Home Saudaraku dan konsep Lebaran Punk Rock.
PSS Sleman kebobolan tujuh gol dari tiga laga Super League. Pieter Huistra mengakui catatan itu terlalu banyak dan harus diperbaiki.
Menkes Budi Gunadi Sadikin membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan, suntikan Rp20 triliun, hingga kualitas layanan rumah sakit.
Polisi membekuk Gembel, spesialis pencuri pompa sumur bor yang terungkap beraksi di 19 TKP di Gunungkidul dan Bantul.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.