Asian Games 2026: Indonesia Koleksi 13 Medali, Ini Rinciannya
Update medali Asian Games 2026, Indonesia telah mengoleksi 13 medali, terdiri dari 1 perak dan 12 perunggu.
Tata Surya/Reuters
Harianjogja.com, JAKARTA - Ilmuwan dari Southwest Research Institute telah mengidentifikasi fosforus bintang sebagai salah satu penanda yang memungkinkan dalam pencarian kehidupan di luar tata surya.
Dia telah mengembangkan sebuah teknik untuk mengidentifikasi kemungkinan sebuah bintang untuk mendapatkan planet yang berpenghuni. Hal ini berdasarkan komposisi sebuah bintang biasanya memiliki planet, dan mengusulkan penelitian yang akan mendatang untuk menjadikan fosforus bintang sebagai patokan dalam mencari sistem yang memiliki kemungkinan besar memiliki kehidupan seperti yang kita ketahui.
“Dalam pencarian planet di luar tata surya dan mencoba mengetahui apakah mereka dapat dihuni, maka sangatlah penting bagi sebuah planet untuk memiliki siklus aktif, gunung berapi, dan lempengan tektonik,” Ujar Dr. Natalie Hinkel ilmuwan dari Southwest Research Institute, seorang astrofisikawan planet seperti dikutip dari phys.org.
Tulisan dsri penelitian ini di publikasikan oleh Astrophysical Research Letters.
“Rekan penulis saya, Dr. Hilairy Hartnett, seorang oseanografi, menunjukan bahwa fosforus sangatlah penting bagi semua kehidupan di Bumi. Hal ini sangatlah penting sekali dalam pembuatan DNA, membran sel, tulang, dan gigi bagi hewan dan tumbuhan, dan bahkan mikrobioma seperti plankton.” tambahnya.
Menentukan rasio elemental bagi ekosistem sebuah planet di luar tata surya belumlah memungkinkan, tetapi asumsi umum menyatakan bahwa planet memiliki komposisi yang sama dengan bintang yang berada di dalam sistem tersebut. Ilmuwan bisa menghitung banyaknya jumlah elemen di sebuah bintang menggunakan spektroskop, dan mempelajari bagaimana cahaya berinteraksi dengan elemen yang berada di lapisan atas sebuah bintang.
Menggunakan data ini, ilmuwan bisa mengambil kesimpulan mengenai planet-planet yang mengorbit suatu bintang terbuat dari komposisi apa, menggunakan komposisi bintang sebagai perantara untuk planet di dalamnya.
Di dalam Bumi, elemen yang menjadi kunci bagi biologi adalah karbon, hidrogen, nitrogen, oxygen, phosphorus, dan sulfur (atau CHNOPS). Di dalam laut saat ini, fosforus dianggap sebagai nutrisi penyambung kehidupan paling terbatas dikarenakan fosforus merupakan kandungan kimiawi yang setidaknya paling dibutuhkan bagi reaksi kimiawi dapat tercipta.
Hinkel menggunakan Katalog Hypatia, sebuah database bintang yang tersedia bagi publik yang dia kembangkan, untuk menilai dan membandingkan rasio kelimpahan dari karbon, nitrogen, silikon, dan fosforus dari bintang sekitar dan dibandingkan dengan yang rata-rata berada di dalam plankton laut, kerak bumi, maupun sebagian besar silika di Bumi dan Mars.
“Tetapi sangat sedikit data mengenai kelimpahan fosforus suatu bintang” Ujar Hinkel “Fosforus data. “data fosforus hanya tersedia untuk sekitar 1% bintang. Hal tersebut membuat sangat sulit untuk mementukan trend yang jelas antara bintang, apalagi menentukan peran fosforus bagi evolusi suatu planet di luar tata surya," paparnya.
Elemen Rentang Sempit
Bukan karena suatu bintang yang kekurangan suatu fosforus, tetapi sangat sulit untuk menentukan elemen karena hal tersebut terdeteksi di wilayah dimana spektrum cahaya diobservasi biasanya: pada ujung suatu gelombang optikal (maupun visual) cahaya dan cahaya infrared. Kebanyakan penelitian spektroskopik tidak terbiasa untuk mencari elemen di rentang sempit tersebut.
“Matahari kita secara relatif memiliki kandungan fosforus yang tinggi dan biologi bumi membutuhkan sedikit tetapi mencukupi suatu kuantitas dari fosforus,” Ujar Hinkel.
“Dengan begitu, planet berbatu yang terbentuk di sekeliling bintang yang memiliki kandungan lebih sedikit fosforus, sangat berkemungkinan bahwa fosforus akan tidak tersedia bagi kehidupan berpontesial yang berada di permukaan planet. Dikarenakan hal tersebut, kita mendorong komunitas bintang untuk melakukan observasi fosforus sebagai prioritas kajian kedepannya dan juga sebagai pertimbangan desain teleskop.”
Ke depannya, penemuan ini dapat merevolusi bintang yang menjadi seleksi sasaran dari penelitian di masa depan dan penentuan dari peran elemen bagi deteksi planet di luar tata surya mengenai pembentukan formasi, dan layak tidaknya untuk berpenghuni.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : bisnis.com
Update medali Asian Games 2026, Indonesia telah mengoleksi 13 medali, terdiri dari 1 perak dan 12 perunggu.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia untuk lima rute. Cek jam keberangkatan dan tarif promo Rp50.000.
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 29 September 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jam keberangkatan dan kedatangan di setiap stasiun.
Jadwal KA Bandara YIA Selasa 29 September 2026 tersedia 24 perjalanan. Cek jadwal YIA-Tugu dan Tugu-YIA lengkap di sini.
Delapan warga Sleman dari dua KK siap mengikuti transmigrasi 2026 ke Poso dan Polewali Mandar. Mereka tinggal menunggu jadwal pemberangkatan.
Jadwal SIM Kulonprogo hari ini, Selasa 29 September 2026, tersedia di MPP. Cek lokasi, jam layanan, syarat, dan ketentuan perpanjangan SIM.