Tak Hanya Merugikan Jokowi, Kampanye Hitam Sebut PKI Juga Meracuni Demokrasi

Mendagri Tjahjo Kumolo memberikan pengarahan dalam Forum Komunikasi dan Konsultasi Nasional antara Pemerintah dan Ormas di Jakarta, Selasa (6/11/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan
08 Desember 2018 13:17 WIB Jaffry Prabu Prakoso News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Menjelang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden 2019, muncul kampanye hitam, salah satunya menyebut calon presiden Joko Widodo sebagai antek PKI. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyebut fitnah yang menyerang Presiden Joko Widodo sebagai PKI adalah racun demokrasi.

Menurutnya, Jokowi bukan hanya seorang presiden, tapi juga warga negara yang punya kehormatan dan harga diri sehingga layak marah jika menerima tuduhan demikian.

Di sisi lain bukan cuma fitnah tapi juga politik uang, kampanye berujar kebencian, dan fitnah yang ada selama pemilu juga masuk dalam kategori bahaya.

“Saya kira racun demokrasi harus kita lawan,” kata Tjahjo di Jakarta, Jumat (7/12/2018).

Sebagai menteri, Tjahjo menjelaskan bahwa dirinya telah memiliki tim yang mengawasi media sosial. Jika terlacak, pihak yang sengaja melakukan perbuatan demikian akan dilaporkan ke Kepolisian.

“Jadi harus dilawan. Karena ini kan event lima tahunan. Sesama Muslim berkedok khutbah, mengatai orang, dan fitnah harus dilawan,” jelasnya.

Sebelumnya Presiden Jokowi kembali membantah bahwa dirinya adalah PKI. Bantahan itu kembali disampaikan Jokowi karena makin maraknya fitnah yang menuding Presiden sebagai bagian dari organisasi yang terlarang di Indonesia tersebut.

Berdasarkan survei yang diterima Presiden, 9 juta masyarakat Indonesia percaya bahwa Jokowi adalah PKI.

Sumber : Bisnis.com