Pengembangan Pesawat Tempur KFX/IFX Ternyata Sudah Sampai Sini

Pesawat tempur KFX/IFX - Ist/YouTube
07 Desember 2018 08:37 WIB Newswire News Share :

Harianjogja.com, JAKARTA-Pengembangan pesawat tempur generasi 4,5 yang merupakan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan, Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KFX/IFX) sejak 2011 sudah mencapai 20 persen.

"Ada tiga tahap yang perlu dilalui, yaitu pengembangan teknologi, EMD, kemudian protoyping," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia (DI) Marsma TNI Gita Amperiawan saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (6/12/2018).

Menurut dia, selama 7 tahun progres proyek kerja sama G to G itu sudah sampai tahap tinjauan desain awal (preliminary design review) guna memastikan konfigurasi pesawat tempur KFX/IFX sesuai dengan persyaratan operasional dari TNI AU dan Republic of Korea Air Force (ROKAF).

Pada hari Kamis, pihaknya menyosialisasi kepada semua pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Pertahanan, Kemenko Polhukam guna mengetahui sejauh mana proges setelah dilakukan engineer Korsel-Indonesia selama fase Engineering Manufacturing Development (EMD). Menurut Gita, setelah "preliminary design" rampung, kedua negara ini akan mengembangkan prototipe pesawat tempur tersebut. Pesawat-pesawat tempur ini ditargetkan baru bisa diproduksi massal pada tahun 2026 usai uji coba dan sertifikasi.

"Kami sudah lalui fase pengembangan teknologi dan EMP. Setahun detail desain itu selesai kira-kira Juli/Agustus 2019, kami mulai prototyping, kemudian pengujian dan sertifikasi," paparnya.

Gita mengatakan bahwa pemerintah Indonesia dan Korsel mengakomodasi "common requirement". Hasil prototyping harus mengakomodasi kepentingan TNI AU.

Jumlah pesawat yang akan diproduksi, kata dia, sebanyak 168 pesawat dengan rincian Korsel akan memiliki 120 pesawat dan Indonesia 48 pesawat.

"Indonesia berkontribusi sesuai kesepakatan 20 persen dalam semua hal per fase. Project agreementnya itu per fase," tuturnya. Di tempat yang sama, Ketua Program KFX/IFX PT DI Heri Yansyah, mengatakan bahwa pihaknya bersama Korea Aerospace Industries (KAI) hanya sebagai sistem integrator dalam pengembangan pesawat KFX/IFX. Semua komponen, lanjut dia, akan diproduksi oleh pihak lain, termasuk engine dan avioniknya. Navigasi diproduksi oleh pihak lain yang diintegrasikan ke dalam pesawat ini.

"Kami punya rencana bagaimana teknologi bisa dibangun oleh industri lokal Indonesia, seperti PT Pindad," katanya. PT Pindad, lanjut dia, bisa membuat senjata untuk pesawat tempur generasi 4,5 ini.

Menurut dia, senjata bisa ke Pindad, sedangkan pihaknya melakukan kesiapan teknologi. Misalnya data "link", "weapon integration", dan radar.

"Itu adalah kegiatan-kegiatan kami yang disebut sebagai 'strategic investment'. Bagaimana suatu saat bisa diproduksi di dalam negeri karena ini dikaitkan dengan kemandirian," ucap Heri. Pesawat tempur KFX/IFX adalah pesawat semisiluman multirole generasi 4.5 yang dikembangkan Indonesia dan Korea Selatan. Pesawat tempur ini dirancang untuk menggantikan pesawat ROFKA dan TNI AU.

Beberapa keunggulan yang dimiliki pesawat tempur KFX/IFX, di antaranya semistealth, semiconformal missile launcher, advanced avionics, dan air refueling.

Dalam MoU, Indonesia menanggung biaya program pengembangan pesawat tempur itu sebesar 20 persen, sementara Korea Selatan 80 persen.

Sumber : Antara